OJK dan BI Pasang Target Pertumbuhan Kredit Double Digit

   Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) sama-sama memasang target pertumbuhan kredit double digit di tahun 2020 ini. Walaupun prediksinya disertai dengan dasar argumentasi yang kuat, tetap saja target pertumbuhan kredit ini terbilang tinggi. Terutama jika dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan kredit perbankan di 2019 lalu hanya sekitar enam persen.

   OJK memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2020 akan berada di kisaran 11 persen +1 persen, dengan tingkat risiko tetap terjaga rendah. Angka pertumbuhan kredit yang ditargetkan OJK ini tak berbeda jauh dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang disampaikan kepada regulator dengan target ekspansi kredit industri perbankan secara nasional akan tumbuh sebesar 10 persen. Target tersebut, lebih tinggi dibandingkan pencapaian pertumbuhan kredit di tahun 2019 hanya 6,08 persen, seiring melemahnya permintaan komoditas global. Hal ini disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2020 di Jakarta, pertengahan Januari 2020.

   Terkait prospek ekonomi tahun ini, Wimboh memperkirakan masih akan diwarnai dengan downside risks dari perlambatan ekonomi global dan gejolak geopolitik di sejumlah kawasan. Namun demikian, dengan selesainya beberapa proyek infrastruktur strategis dan konsistensi pemerintah menjalankan reformasi struktural, termasuk terobosan melalui hadirnya Omnibus Law, maka diyakini kondisinya akan lebih baik.

    Dalam catatan OJK, pada 2019 lalu, pertumbuhan kredit perbankan didominasi oleh bank BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha) IV yang tumbuh 7,8 persen yoy (lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2018 yakni sebesar 12,3 persen yoy), sedangkan BUKU III tumbuh 2,4 persen yoy, BUKU II tumbuh 8,4 persen yoy, dan BUKU I tumbuh 6,4 persen yoy. Berdasarkan kepemilikan, kredit oleh Bank BUMN tumbuh 8,5 persen yoy, lebih rendah dari tahun lalu tumbuh 14,1 persen yoy. Pertumbuhan kredit ini ditopang oleh sektor konstruksi yang tumbuh 14,6 persen yoy dan rumah tangga tumbuh 14,6 persen yoy. Sejalan dengan itu, kredit investasi meningkat 13,2 persen yang menunjukkan potensi pertumbuhan sektor riil ke depan.

   Pertumbuhan kredit ini, menurut Wimboh diikuti dengan profil risiko kredit yang terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat rendah yaitu sebesar 2,5 persen sedangkan NPL nett sebesar 1,2 persen. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan mencapai 23,3 persen, dan likuiditas yang cukup dengan LDR (loan to deposits ratio) sebesar 93,6 persen. “Dari data ini kami optimistis stabilitas sektor perbankan ke depan akan tetap terjaga, meski pertumbuhan kredit masih dilakukan secara berhati-hati. Ruang likuiditas menyempit, namun risiko kredit terjaga dengan baik,” kata Wimboh.

   Ketua Dewan Komisioner OJK ini mengakui bahwa realisasi pertumbuhan kredit pada 2019 sebesar 6,08 persen lebih rendah dibandingkan 2018 yang mencapai 11 persen.

  Menurut dia, perlambatan pertumbuhan kredit disebabkan oleh melemahnya permintaan komoditas. Apalagi banyak perusahaan yang akhirnya menggunakan pendanaan bukan dari pinjaman kredit perbankan melainkan mencari pendanaan di luar negeri. “Ada hal fundamental karena operasi kita banyak menggunakan dana dari offshore karena biayanya yang lebih murah,” ujar Wimboh Santoso. Dia tambahkan, OJK mencatat pendanaan dari luar negeri sepanjang 2019 meningkat 133,6 persen dibandingkan 2018 menjadi Rp130,4 triliun.

   Serupa dengan OJK, Bank Indonesia (BI) menargetkan pertumbuhan kredit perbankan pada 2020 ini akan mencapai 10-12 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa bukan tanpa alasan pihaknya menargetkan kredit perbankan pada tahun ini dapat tumbuh sebesar itu. Pasalnya, saat ini pertumbuhan ekonomi sedang berada di dalam tren yang positif. “Kami meyakini pertumbuhan kredit tahun ini bisa 10-12 persen. Apakah sudah optimal? Belum. Akan terus naik pada tahun 2021 dan 2022,” jelasnya kepada wartawan di Jakarta, akhir Januari 2020.

   Menurut Perry, BI sudah melakukan berbagai macam stimulus agar pertumbuhan kredit dapat tumbuh di kisaran 10-12 persen. Misalnya saja dengan penurunan suku bunga kebijakan hingga saat ini berada di level 5,00 persen.”Stimulus kami lakukan. Stimulusnya apa? Suku bunga ‘kan turun. Suku bunga BI turun, tapi suku bunga kredit belum sepenuhnya turun. Suku bunga kredit dan deposito akan menurun dan itu akan menstimulus kredit ke depan,” katanya.

    Gubernur BI ini yakin, relaksasi dari pihak perbankan akan mendukung momentum pertumbuhan ekonomi tahun ini. Sehingga bank sentral dapat mencapai salah satu fokus utama pada 2020 yaitu mendorong pembiayaan ekonomi. “Kami fokuskan bersama OJK, soal bagaimana penyaluran kredit perbankan itu bisa lebih baik ke depan,” jelas Perry Warjiyo. Dia menambahkan, rencana Omnibus Law dari pemerintah akan mendorong penanaman modal maka bank sentral akan bertugas memastikan ketersediaan pembiayaan pembangunan, khususnya terkait rencana hilirisasi di luar Pulau Jawa.

  Sementara itu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan penyaluran kredit hingga kuartal pertama 2020 masih tumbuh melambat. Hal ini diakibatkan dari kebijakan pemerintah yang menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) atau front loading, meski lebih terukur. “Pertumbuhannya diperkirakan tidak terlalu berbeda dengan akhir tahun lalu,” kata Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah dalam jumpa pers di Kantor LPS, Jakarta, akhir Januari 2020.

    Menurut Halim, pertumbuhan kredit di kuartal pertama 2020 di bawah tujuh persen year on year (yoy). Meski demikian, dia optimistis stabilitas keuangan masih tetap terjaga dengan likuiditas yang memadai karena pelemahan pertumbuhan kredit dapat mengurangi kebutuhan likuiditas perbankan. “Membaiknya kondisi likuiditas perbankan dalam beberapa waktu terakhir ditopang oleh pertumbuhan DPK yang membaik dan pertumbuhan kredit yang lebih terukur, sehingga dapat mengurangi gap (selisih) pertumbuhan,” jelasnya.

Target Bank-bank Besar
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menargetkan pertumbuhan kredit 10-11 persen pada tahun 2020. Target itu lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit sepanjang 2019 yang sebesar 8,44 persen. Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) juga ditargetkan tumbuh 10-11 persen. “Nanti (target) yang lain-lain akan mengikuti. Selain itu, kami akan fokus pada UMKM, khususnya menyasar yang ultra mikro. Ticket size kami tetapkan Rp5-Rp10 juta dan itu prosesnya akan dijalankan melalui digital,” kata Direktur Utama BRI Sunarso saat paparan kinerja perseroan kuartal keempat 2019 di Jakarta, akhir Januari 2020.

    Dia tambahkan, BRI akan terus berinovasi untuk mendorong penetrasi kredit mikro dan berusaha menjangkau lebih banyak nasabah. “Melalui teknologi, kami kembangkan kredit mikro BRI menjadi go smaller, go shorter, dan go faster. Melalui platform berbasis teknologi, BRI mempersiapkan ekosistem mikro berbasis digital untuk melayani potensi pasar mikro yang masih terbuka luas,” jelas Sunarso.

  Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan bahwa BRI akan focus menggenjot penyaluran kredit di sektor mikro pada tahun 2020 ini. Pada tahun 2019 lalu, penyaluran kredit mikro tumbuh double digit yakni mencapai 12,19 persen. “Jadi kredit mikro nanti akan kita pacu pertumbuhannya 13 persen dan itu akan buat porsi mikro meningkat dari tahun ke tahun,” ungkap Haru di Jakarta, akhir Januari 2020.

   Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Herry Sidharta mengakui pertumbuhan kredit BNI 2019 memang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pihaknya tetap optimistis pertumbuhan penyaluran kredit tahun 2020 ini dapat menembus level dua digit. “Untuk 2020, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,2 – 5,5 persen serta komitmen pemerintah dalam pertumbuhan investasi, kredit tahun ini kami proyeksikan dapat tumbuh pada kisaran 10-12 persen yoy,” katanya di Jakarta, akhir Januari 2020.

  PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menargetkan pertumbuhan kredit pada tahun 2020 ini sebesar sembilan persen. Target ini sedikit menurun dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit BCA di tahun 2019 sebesar 9,3 persen. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa pihaknya belum berani membidik target agresif pada tahun ini. Sebab, perusahaan masih melihat kondisi dan permintaan pembiayaan pada awal tahun.

   “Pada awal tahun, kita tidak berani terlalu optimistis. Tetapi kalau permintaan besar, seperti tahun kemarin industri tumbuh enam persen dan BCA bisa 9,3 persen. Tahun sebelumnya juga industri tumbuh 11 persen, BCA 13 persen,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, pertengahan Januari 2020. Di tambahkan, tahun ini sektor pertambangan belum dapat dijadikan andalan dalam mendongkrak kredit karena pertumbuhannya masih lemah. “Tetapi sektor atau industri lain pertumbuhannya cukup merata,” tandasnya.

   PT Bank Mandiri Tbk menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit pada 2020 sebesar 8-10 persen. Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar mengakui bahwa target konservatif tersebut ditetapkan dengan pertimbangan masih adanya risiko ekonomi. Namun, di sisi lain dia optimistis pemerintah akan mengeluarkan kebijakan yang baik seperti Omnibus Law, yang akan berdampak positif kepada korporasi. Hal ini diyakini akan mendongkrak pertumbuhan kredit karena merupakan sektor utama penyaluran kredit Bank Mandiri. “Nanti ‘kan ada Omnibus Law, sehingga dampaknya ke korporasi. Karena bank kami spesialis korporasi,” katanya.

   Royke Tumilaar juga mengatakan kisaran target pertumbuhan kredit 8-10 persen itu juga dipengaruhi oleh derasnya pendanaan dari luar negeri (offshore) sejak 2019. “Kami di bank akan bersaing juga dengan funding-funding itu. Sudah banyak perusahaan BUMN dan private sector yang mulai mencari pendanaan dari funding asing. Jadi kompetisi cukup tinggi dengan capital market,” katanya.

    Mencermati target pertumbuhan kredit dari beberapa bank besar ini, tampaknya target yang ditetapkan OJK dan Bank Indonesia tidak terlampau jauh berbeda. Namun, terlihat kecenderungan kedua regulator ini memasang target optimistis. Apakah akan tercapai? Semoga saja, karena perekonomian nasional membutuhkan dorongan pertumbuhan dari ekspansi kredit perbankan yang meningkat. S. Edi Santosa