Memahami Benang Merah Ekonomi Indonesia

   Sekitar 25 tahun lagi, Indonesia akan merayakan se-abad hari kemerdekaannya. Setelah proklamasi dikumandangkan tahun 1945, bangsa ini butuh puluhan tahun untuk dapat keluar dari golongan negara yang berpenghasilan rendah. Negara-negara lain yang kemerdekaannya hampir bersamaan, seperti Korea Selatan dan Singapura, telah lebih dahulu melesat dan menaikkan status negaranya hingga memiliki pendapatan tinggi (high income), bahkan Malaysia saat ini telah masuk ke kelompok negara berpendapatan menengah atas (upper middle income). Sementara itu, Thailand dan Filipina juga lebih dahulu ketimbang Indonesia bisa keluar dari kelompok negara berpendapatan rendah.

   Indonesia merupakan bangsa yang betul-betul besar. Baik dari sisi potensi, maupun problematika. Negara yang begitu luas dengan populasi penduduk banyak, menyimpan dan terus melahirkan tantangan yang tiada habis-habisnya. Perjuangan demi menggapai cita-cita bersama, yakni masyarakat adil dan makmur, menjadi proses panjang yang melelahkan. Betapapun banyaknya kemajuan yang telah dihasilkan, namun masih saja menyelipkan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Baik oleh pemerintah sebagai pengelolan ekonomi nasional, maupun dari masyarakat sebagai muara dari proses tersebut.

     Sebagai pembelajaran dalam meniti perjalanan ekonomi Indonesia ke depan, telah terbit sebuah buku “Menuju Indonesia Emas” yang membahas sejarah perjalanan ekonomi Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga saat ini. Data dan fakta yang dikupas dalam buku ini, dapat diidentifikasi faktor-faktor utama yang menghadang gerak maju ekonomi nasional dan bagaimana mengatasinya.

    Buku ini ditulis oleh dua sosok yang namanya tidak asing lagi bagi dunia perekonomian, yaitu Faisal Basri dan Haris Munandar. Keduanya memiliki kapabilitas tinggi di dunia akademisi, khususnya di bidang ekonomi politik. Oleh karenanya, isi dari buku ini kaya data yang mengaitkan antara ekonomi negara dan kebijakan pemerintah.

   Bagi Faisal, buku ini merupakan kontribusi pemikiran yang kesekian kalinya, sebagai bentuk ikhtiar serta peran profesionalnya di dunia akademisi. Dia mengajak para pembaca untuk memahami realitas perekonomian Indonesia, mengupas masalah-masalah yang membelitnya, dan merumuskan rekonendasi untuk mengatasi masalah tersebut atau setidaknya untuk memperbaiki.

    Satu hal yang tak kalah penting dari pesan buku ini, yaitu bagaimana mendayagunakan potensi bangsa yang tergolong luar biasa ini, sebagai negara Maritim, dengan lapisan tebal penduduk usia produktif serta karunia kekayaan alam yang relatif sangat beragam dan memadai. Tulang punggung untuk menghimpun potensi yang masih berserakan ini adalah Generasi Emas mumpuni dalam menghadapi segala tantangan di era Revolusi Industri IV dan V, menuju Indonesia Emas 2045. B. Firman