IHSG Tertekan Ketegangan Timur Tengah dan Merebaknya Virus Corona

   Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat tembus ke level 6.300-an di pekan pertama bulan Januari 2020. Perlahan namun pasti, IHSG kemudian cenderung menurun di hari-hari berikutnya, bahkan sempat meninggalkan level 6.000-an di hari terakhir perdagangan bulan Januari. Faktor eksternal, terutama ketegangan politik di kawasan Timur Tengah dan merebaknya virus corona di China menjadi penyebab turunnya IHSG. Namun hal ini diyakini tidak akan berlangsung dalam jangka panjang, Februari ini indeks saham diperkirakan akan mulai menguat kembali.

    Sepanjang bulan Januari 2020, IHSG dua kali menembus level 6.300-an. Selain yang dua hari itu, indeks senantiasa berada di bawah level 6.300-an. Kali pertama IHSG berada di level itu adalah pada saat penutupan perdagangan tanggal 3 Januari 2020, tepatnya di 6.323. Sedangkan kali kedua adalah di akhir perdagangan bursa pada tanggal 14 Januari 2020, yakni di level 6.325. Tanggal 3 Januari 2020 saat indeks pertama kalinya di tahun ini berada di level 6.300-an, adalah perdagangan di akhir pekan. Di awal pekan berikutnya, yakni tanggal 6 Januari 2020, indeks ditutup melemah cukup dalam yakni ke level 6.257.

    Sejumlah pelaku dan analis bursa mengatakan bahwa pelemahan indeks hingga 66 poin atau sebesar satu persen, merupakan respons atas turunnya indeks bursa saham Wall Street di akhir pekan sebelumnya. Indeks Wall Street melemah seiring dengan kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas setelah serangan udara militer Amerika Serikat (AS) di Baghdad yang terjadi pada Jum’at sore waktu setempat, menewaskan Jendral Iran Qassem Solemani. Menyusul kejadian ini, muncul kekhawatiran konflik kedua negara akan semakin meluas yang membuat harga minyak naik cukup signifikan pada akhir pekan, karena pasar khawatir terjadi penurunan pasokan minyak global.

   Menjelang akhir Bulan Januari 2020, IHSG semakin melorot, bersamaan dengan wabah virus corona yang menyebar ke berbagai daerah di seluruh dunia, IHSG berlangsung negatif kian dalam. Pada penutupan perdagangan bursa di tanggal 27 Januari 2020, IHSG turun 110 poin atau 1,78 persen ke level 6.133, menyusul melemahnya indeks di bursa saham AS pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya. Bursa saham AS ditutup melemah karena investor cemas terhadap dampak penyebaran wabah virus corona ini.

    Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) RI Suahasil Nazara mengatakan bahwa virus corona yang menyebar dengan begitu pesat, berpengaruh terhadap ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi global dikhawatirkan menjadi lebih rendah di tahun ini. “Stock market ‘kan masalah kekhawatiran dan kepercayaan, confidence. Jadi itu masalah psikologis pasar yang memang bergerak terus tiap detik tiap saat, tergantung cerita yang berkembang di pasar,” ujarnya.
Sejauh ini PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memandang bahwa wabah virus corona bukanlah sesuatu yang bersifat permanen dalam jangka panjang, walaupun memang dalam jangka pendek peristiwa ini memberikan dampak guncangan yang cukup penting pada ekonomi global. “Memperhitungkan langkah komprehensif yang diberlakukan pemerintah China untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran virus corona, maka diperkirakan distorsi data ekonomi akibat peristiwa ini akan berdampak paling lama selama satu sampai dua kuartal ke depan. Atas dasar ini, secara keseluruhan tema stabilisasi ekonomi global di 2020 tidak berubah,” kata Senior Portfolio Manager–Equity MAMI Caroline Rusli beberapa waktu lalu.

   Dia tambahkan, secara ekonomi –dibandingkan dengan negara maju– Asia dinilai lebih rentan terhadap dampak negatif dari penyebaran virus corona. “Akan tetapi yang perlu dipahami adalah tingkat kerentanan negara di Asia tidaklah sama, namun akan sangat tergantung dari seberapa besar eksposur perekonomian terhadap China baik dari sisi pariwisata, rantai pasokan industri, ketergantungan FDI, dan aktivitas ekspor-impor. Itulah mengapa besaran koreksi di pasar saham dan nilai tukar setiap negara di Asia juga berbeda. Menariknya, koreksi yang terjadi sejak merebaknya wabah virus corona membuat valuasi pasar saham Asia menjadi lebih atraktif,” jelasnya.

   Virus corona dan dugaan forced sell diperkirakan menjadi penyebab IHSG ditutup anjlok hari terakhir Januari ini. IHSG ditutup turun 117,5 poin atau 1,94 persen ke level 5.940 pada penutupan akhir perdagangan 31 Januari 2020. “Pemicunya, yang pertama adalah virus corona, dan yang kedua nampaknya ada forced sell. Ada reksa dana yang dibubarkan kemarin ‘kan pasang posisi ya, jadi ada forced sell, tekanan jual di dalam pasar,” ungkap analis pasar modal Hans Kwee akhir Januari 2020. Forced sell adalah aksi jual paksa atas saham-saham tertentu yang biasanya dilakukan oleh pemegang reksa dana. Dia memperkirakan penurunan tajam IHSG ini tidak akan berlangsung lama, pekan pertama Februari diperkirakan level IHSG akan kembali membaik. S. Edi Santosa