Indeks Saham 2020 akan Tumbuh Double Digit

    Sepanjang tahun 2019 lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berfluktuatif. Walau demikian, secara keseluruhan sepanjang Tahun Pemilu itu, IHSG masih mencatatkan pertumbuhan yang positif, yaitu 1,70 persen year to date (ytd). Hal ini terjadi karena pada saat penutupan perdagangan di hari pertama tahun 2019 yakni tanggal 2 Januari 2019, indeks ditutup di level 6.181,1 sementara itu penutupan perdagangan tahun 2019 di tanggal 30 Desember 2019, IHSG ditutup di level 6.299,5. Bagaimana dengan tahun 2020 ini, apakah indeks saham akan dapat dikerek ke level yang tinggi?

    Sejumlah pihak meyakini bahwa IHSG akan tumbuh lebih tinggi di tahun 2020, dibandingkan dengan pencapaian 2019 lalu. Salah satu yang optimistis dengan kenaikan indeks saham di tahun ini adalah Samuel Sekuritas Indonesia. Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG tahun ini dapat mencapai level 6.800 dengan pertumbuhan earning per share lebih dari delapan persen secara tahunan (year on year/yoy). Target IHSG ini mencerminkan price to earning ratio (PER) sebesar 16,2 kali di tahun 2020 dan mencapai 15 kali di tahun 2021.

   Dalam seminar Market Outlook 2020, Desember tahun lalu, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan bahwa ada sejumlah hal positif yang dapat mendorong pertumbuhan indeks. Pertama, perbaikan harga CPO yang juga berpotensi meningkatkan permintaan kredit dari sektor agribisnis. Kedua, bantuan sosial pemerintah yang dapat meningkatkan konsumsi domestik. Ketiga, perkiraan penurunan defisit migas dengan adanya program B30. Dan keempat, penerapan Omnibus Law diharapkan dapat memperbaiki iklim usaha.

    Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto memperkirakan IHSG di tahun 2020 dapat mencapai level 7.300-7.500 dengan asumsi akhir tahun ini ada di level 6.200-6.400. “Return reksadana saham bisa positif pada 2020 walaupun masih volatile,” katanya memberi alasan. Potensi rebalancing dari negara maju ke negara berkembang menjadi salah satu penopang kinerja instrumen berbasis saham. Pindahnya alokasi dana asing ke negara berkembang, maka pasar saham berpotensi membaik.

   Kenyataannya, pada penutupan perdagangan tahun 2019, IHSG ada di level 6.299, sehingga memenuhi asumsi dari Panin Asset Mangement. Berdasar perhitungan Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA), jika di akhir tahun 2020 mendatang proyeksi level indeks dari Panin Aset Management itu terwujud, yakni ada di level 7.300-7.500, itu artinya terjadi pertumbuhan double digit.

   Prediksi serupa telah dikeluarkan oleh JP Morgan pada akhir November 2019. Perusahaan investment banking dari Amerika Serikat ini memprediksi bahwa indeks saham di bursa Indonesia pada 2020 bisa menyentuh level 7.250. Sedikitnya tiga alasan yang mendasari JP Morgan memperkirakan kinerja IHSG BEI yang akan melesat double digit tahun 2020. Pertama, koalisi Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada periode kedua membuat Jokowi lebih mudah untuk mengeksekusi kebijakan mengingat tak ada resistensi di parlemen.

   Kedua, agenda penyederhanaan aturan undang-undang melalui skema Omnibus Law yang diharapkan dapat menarik lebih banyak investor asing dan membuat Indonesia menjadi pusat manufaktur (manufacturing hub) layaknya China. Ketiga, pelonggaran kebijakan moneter yang ditopang oleh nilai tukar rupiah yang stabil. Tahun ini, Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan sebesar 100 basis points (bps) dengan harapan mendongkrak pertumbuhan kredit yang akan menopang laju perekonomian domestik.

Perkembangan di 2019
Jumlah investor pasar modal hingga akhir 2019 sudah mencapai 2.478.243 berdasarkan SID (single investor identification). Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Uriep Budhi Prasetyo menjelaskan jumlah SID itu tercatat hingga 27 Desember 2020. Angka itu naik 53,04 dari tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.619.372 SID. Dari segi asal, mayoritas adalah investor lokal yakni jumlahnya mencapai 98,97 persen, sedang sisanya sebesar 1,03 persen merupakan investor asing.

    Menariknya, berdasarkan jumlah SID itu profil investor sebesar 44,62 persen merupakan investor usia di bawah 30 tahun. Kemudian 24,44 persen investor usia 31-40 tahun, 16,43 persen investor usia 41-50 tahun, 9,63 persen investor usia 51-60 tahun, dan sisanya 4,88 persen investor usia di atas 60 tahun. Walau dari segi jumlah paling banyak, nilai investasi investor milenial masih rendah yakni hanya Rp12,42 triliun. Sementara yang paling besar kelompok investor usia di atas 60 tahun yakni mencapai Rp249,33 triliun.

   Sepanjang tahun 2019, jumlah perusahaan baru yang mencatatkan saham di pasar modal mencapai 55 perusahaan. Angka itu turun dibandingkan capaian 2018 sebanyak 57 emiten baru. Jika ditotal, pencatatan efek tahun ini mencapai 75 efek, termasuk DIRE (dana investasi real estate), EBA (efek beragun aset), ETF (exchange traded fund), dan beberapa efek lainnya.

    Meski turun, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi menilai, catatan emiten baru di 2019 itu patut disyukuri. Sebab dari sisi jumlah perusahaan, penambahan emiten baru di pasar modal Indonesia ini yang tertinggi di Asia Tenggara. “Kalau dibandingkan negara tetangga, growth tertinggi,” ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, akhir Desember 2019.

   Menurut catatan BEI, pencatatan saham baru di Asia Tenggara yang menempati posisi kedua adalah Thailand sebanyak 30 perusahaan. Ketiga Malaysia, sebanyak 29 perusahaan. “Pencapaian (pencatatan) 55 sudah luar biasa dan juga kalau kita lihat secara pencapaian kita ini 2019 ini adalah urutan ke-7 di dunia. Itu dari EY global trend report,” tambah Inarno. Dengan tambahan 55 perusahaan tercatat di bursa, saat ini ada 688 emiten yang tercatat di pasar modal.

    Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida pada penutupan perdagangan BEI 2019, di Jakarta, 30 Desember 2019, mengakui bahwa dana dari investor asing meningkat. Dana investor asing meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu, yang mencapai Rp49,19 triliun year to date (ytd) per 27 Desember 2019. Derasnya dana investor asing juga terjadi di pasar SBN, membukukan net buy sebesar Rp171,59 triliun per 26 Desember 2019, dan obligasi korporasi yang membukukan net buy sebesar Rp5,48 triliun per 27 Desember 2019. Pasar SBN sepanjang tahun 2019 juga mengalami penguatan dengan turunnya rata-rata yield SBN sebesar 96,57 bps ytd.

   Menurut Nurhaida, sepanjang tahun 2019 OJK telah mengeluarkan 175 surat Pernyataan Efektif atas Pernyataan Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum, 56 di antaranya merupakan emiten baru, dengan total nilai hasil Penawaran Umum Rp166,25 triliun, naik 0,99 persen yoy tertinggi di antara bursa-bursa di kawasan Asia Tenggara dan peringkat ketujuh di dunia. Pemanfaatan penghimpunan dana melalui produk pengelolaan investasi seperti DIRE, DINFRA, Reksa dana dan lainnya pun meningkat hingga 8,37 persen ytd (year to date) dengan total kelolaan sebesar Rp811,19 triliun per 26 Desember 2019.

    OJK mencatat, aktivitas perdagangan pasar modal Indonesia juga mengalami peningkatan yang tercermin dari kenaikan rata-rata frekuensi perdagangan yang tumbuh 21 persen menjadi 469 ribu kali per hari dan menjadikan likuiditas perdagangan saham BEI lebih tinggi diantara Bursa-bursa lain di kawasan Asia Tenggara. Pasar modal Indonesia juga berhasil mendapatkan penghargaan dari Global Islamic Finance Award (GIFA) sebagai The Best Islamic Capital Market of The Year 2019 seiring dengan terus meningkatnya aktivitas dan partisipasi investor syariah di Indonesia.

   Di sektor syariah, pertumbuhan jumlah saham yang masuk dalam daftar efek syariah sebanyak 441 dengan nilai kapitalisasi Rp3.767,93 triliun. Jumlah sukuk yang outstanding sampai dengan 27 Desember 2019 sebanyak 143 dengan nilai emisi Rp29,83 triliun atau tumbuh sebesar 40,05 persen. Reksadana syariah yang beredar per 26 Desember 2019 sebanyak 264 dengan nilai NAB sebesar Rp55,39 triliun atau tumbuh sebesar 60,59 persen. Jumlah Ahli Syariah Pasar Modal hingga saat ini mencapai 114.

  Saat berbicara dalam acara penutupan perdagangan BEI akhir Desember 2019, Nurhaida menambahkan bahwa OJK telah mengeluarkan tujuh Peraturan OJK, dua Surat Edaran OJK, dan lima Surat Edaran Dewan Komisioner OJK untuk mendukung berbagai program pembangunan nasional serta pendalaman pasar modal Indonesia, antara lain dengan memfasilitasi penerbitan instrumen pasar modal jangka menengah dan panjang, baik yang bersifat konvensional, syariah maupun ramah lingkungan, pengembangan infrastruktur pasar modal melalui pemanfaatan teknologi, serta memperluas basis investor di daerah.

   OJK juga berkoordinasi dengan Pemerintah dalam menyusun revisi atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, yang dilatarbelakangi sejumlah isu yaitu penyesuaian dengan standar internasional, perlunya pengaturan menyeluruh tentang pihak, aktivitas, dan kegiatan yang berkaitan dengan penghimpunan dana masyarakat, serta mempertegas posisi OJK dalam fungsi authorization, standard setter, supervision dan enforcement. Ke depan, dengan implementasi kebijakan moneter yang akomodatif, tren suku bunga rendah masih berlaku secara global investor akan mencari higher-yielding asset sehingga ekspektasi aliran dana masuk ke emerging countries meningkat, termasuk Indonesia.

   Di tahun ini, sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2020, BEI menargetkan 76 Pencatatan Efek Baru. Pencatatan ini terdiri atas saham, obligasi korporasi, EBA, ETF, DIRE, dan DINFRA. Target tersebut optimistis dicapai melalui penyelenggaraan sosialisasi, workshop, dan one-on-one meeting kepada perusahaan potensial baik dari perusahaan swasta maupun anak usaha BUMN dan BUMD. Selain itu juga dengan pengembangan regulasi dan sistem yang mendukung kemudahan pencatatan efek bagi calon perusahaan tercatat. Selain itu, BEI juga mengasumsikan rata-rata nilai transaksi harian saham (RNTH) dalam RKAT 2020 sebesar Rp9,5 triliun. S. Edi Santosa