Pasar Lebih Optimistis, IHSG Perlahan Naik

        Perlahan tapi pasti, optimisme mulai tumbuh di kalangan pelaku pasar. Bursa global mulai pulih, seiring keberhasilan sejumlah negara menangani masalah pandemi Covid-19. Hal ini berimbas pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sebulan terakhir, yang ditandai dengan peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun volume dan nilai transaksi. Di sisi lain, pandemi Covid-19 ini tidak menyurutkan niat beberapa korporasi untuk go public di tahun ini. Walau demikian, para pelaku pasar terlihat masih menunjukkan sikap kehati-hatian, ditandai dengan peningkatan indeks saham di bursa global secara perlahan, tidak drastis.

           Di Indonesia, sejumlah perusahaan saat ini masih tetap melanjutkan rencananya untuk go public. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menjelaskan bahwa minat perusahaan untuk IPO (initial public offering) pada masa pandemi Covid-19 belum surut. Per 13 Mei 2020, sudah terdapat 27 emiten baru yang tercatat di bursa. Sedangkan yang siap go public, dalam pipeline penawaran umum saham perdana atau IPO per 8 Mei 2020, ada 18 perusahaan. “Alhamdulillah saat ini IPO berjalan cukup bagus, sudah ada 27 yang go public dan masih ada 18 di pipeline,” katanya dalam seminar online bersama Danareksa Sekuritas, 13 Mei 2020.

      Inarno menilai, pilihan untuk IPO akan selalu tetap menarik bagi korporasi guna mendapat pendanaan. Pihak bursa telah menyediakan persiapan IPO secara virtual baik untuk proses persiapan maupun kelas dan one-on-one meeting dengan calon emiten. Dia menambahkan, perusahaan yang akan go public sebaiknya memulai persiapan dari sekarang, di masa pandemi Covid-19 ini. “Tetap saja mempersiapkan dari sekarang, jangan menunggu pandemi berakhir karena terlambat momennya. Memungkinkan sekali dilaksanakan mulai saat ini,” tuturnya.

        Dari sisi investor, berdasar data BEI, per 8 Mei 2020 jumlah investor saham tumbuh sebesar tujuh persen secara year-to-date (ytd) menjadi 1,17 juta investor. Adapun pada akhir tahun lalu tercatat jumlah investor saham sebesar 1,10 juta. “Dari sisi total investor, baik saham, reksadana, maupun surat utang, itu masih terlihat pertumbuhan yang cukup bagus yakni sebesar 11 persen,” jelas Inarno.

       Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso juga mengatakan bahwa pendanaan dari pasar modal telah menjadi alternatif bagi perusahaan untuk menambah pundi-pundi rupiah selain dari pinjaman bank. Namun dia mengingatkan bahwa penggalangan dana di pasar modal memiliki tantangan tersendiri. Kesiapan manajemen calon emiten dari sisi transparansi dan prosedur administrasi, harus benar-benar diperhatikan sebelum melenggang di lantai bursa. “Bagi yang usahanya sudah berjalan baik, tentunya tidak terlalu sulit untuk masuk ke dalam pasar modal,” kata analis pasar modal ini.

Pergerakan Indeks Saham

      Pandemi Covid-19 masih menjadi faktor utama penggerak indeks saham. Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan bahwa beberapa hari lalu pasar sempat optimistis karena lockdown di sejumlah negara akan dilonggarkan. Namun saat ini pasar kembali khawatir karena di China muncul lagi kasus positif baru. “Pasar juga melihat bagaimana perkembangan di AS, apakah tindakan Trump yang melonggarkan lockdown itu berhasil, atau malah seperti di China,” kata analis pasar modal ini dalam video streaming, 13 Mei 2020.

         Jika melihat dari data perdagangan saham di BEI, 13 Mei 2020, indeks kembali berada di zona merah untuk hari kedua berturut-turut di pekan itu. Sejak awal perdagangan tanggal 13 Mei 2020, IHSG langsung terjun ke level terendah hari itu yakni 4.519,97. Sepanjang perdagangan sesi pertama, indeks tidak mampu bangkit hingga akhirnya parkir di level 4.537,29, turun 1,12 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pada akhir perdagangan 12 Mei 2020, IHSG terkoreksi 50,37 poin atau 1,09 persen dan berada di level 4.588,73. Padahal di awal pekan, indeks sempat menguat 0,91 persen.

        Kondisi ini tak hanya terjadi pada IHSG. Hampir semua bursa Asia ikut terkoreksi menyusul bursa AS yang ditutup melemah pada perdagangan 12 Mei 2020, saat Indeks Dow Jones ditutup turun 1,89 persen dan indeks S&P 500 ditutup anjlok 2,06 persen. Berdasarkan data Bloomberg per pukul 12.20 WIB, tanggal 13 Mei 2020, Indeks Nikkei Tokyo terpantau turun 0,31 persen, sedangkan indeks Topix melemah tipis 0,01 persen, dan Indeks MSCI Asia Pacific juga turun 0,62 persen. Di sisi lain, bursa China malah menguat, baik indeks Hang Seng Hong Kong maupun indeks SSEC Shanghai, masing-masing terpantau menguat 0,19 persen dan 0,05 persen.

      Sementara itu, analis Indopremier Sekuritas Mino mengatakan sentimen utama yang menekan IHSG hari itu adalah kekhawatiran pelaku pasar terkait rencana pemerintah untuk mulai melonggarkan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). “Perkembangan Covid-19 di Indonesia yang masih dalam tren naik tapi pemerintah sudah berwacana melonggarkan aturan PSBB sehingga dikhawatirkan Covid-19 jadi lebih lama selesai,” kata Mino.

          Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa selama bulan Mei, IHSG tercatat menguat 0,79 persen atau 37,43 poin, dari posisi 4.716,40 pada tanggal 30 April menjadi 4.753,61 pada 29 Mei. Dalam sebulan itu, investor asing masih mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp7,2 triliun. Namun di semua pasar (all market termasuk pasar negosiasi) asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp6,44 triliun.

          Sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan indeks selama Mei 2020 adalah ketegangan hubungan antara AS-Tiongkok, informasi seputar vaksin Covid-19, dan stimulus yang diluncurkan pemerintah serta bank sentral. IHSG mengalami penguatan tajam pada minggu-minggu terakhir bulan Mei, mengikuti pergerakan indeks saham dunia. Faktor pemicunya adalah optimisme pembukaan kembali bisnis di sejumlah negara yang diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi.

         Head of Research Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menyatakan bahwa investor waspada terhadap turbulensi pada pertumbuhan ekonomi dalam negeri. “Pasalnya, pandemi Covid-19 telah mencatatkan ekspansi ekonomi terlemah sejak tahun 2001 pada kuartal pertama tahun ini,” ujarnya dalam siaran pers. Di sisi lain, tingkat kepercayaan konsumen menurun signifikan
terhadap makro ekonomi dalam negeri, terlihat dari indeks kepercayaan konsumen turun di bawah ekspektasi sebesar 84,8 dari 113,8 di bulan April 2020.

        Mengakhiri perdagangan April 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 149 poin atau 3,26 persen ke level 4.716,4. Namun di akhir perdagangan pekan pertama Bulan Mei, yakni tanggal 8 Mei 2020, IHSG ditutup melemah 0,25 persen atau 11,36 poin ke level 4.597,43. Volume perdagangan saham sepanjang periode tanggal 4-8 Mei 2020 mencapai 25,72 miliar lembar saham, dengan nilai Rp23,2 triliun. Nilai kapitalisasi pasar mencatatkan penurunan sekitar 2,5 persen, dari Rp5.453,5 triliun pada penutupan pekan sebelumnya menjadi Rp5.316,53 triliun di pekan pertama Mei itu. Investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp1,65 triliun sepanjang pekan itu.

         Berdasarkan data yang dikutip dari keterbukaan informasi BEI tanggal
16 Mei 2020, IHSG selama pekan kedua, tanggal 11-15 Mei 2020, turun 1,95 persen. Yakni dari level 4.597,4 pada pekan pertama Mei menjadi ke level 4.507,6 pada pekan kedua Mei. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) BEI selama sepekan, mengalami peningkatan sebesar 10,34 persen, dari Rp5,801 triliun pada pekan pertama Mei menjadi Rp6,401 triliun di pekan kedua Mei.

         Nilai kapitalisasi pasar naik 1,95 persen, dari Rp5.316,527 triliun ke Rp5.212,72 triliun. Di pekan ketiga Mei, IHSG bergerak naik 0,85 persen ke level 4.545,9. Menjelang Lebaran 2020 itu, kapitalisasi pasar bursa juga meningkat 0,85 persen menjadi sebesar Rp5.257,032 triliun. Penguatan ini terus berlanjut hingga setelah lebaran, ditandai dengan level indeks 4.753,6 pada penutupan perdagangan akhir pecan tersebut, yakni tanggal 29 Mei 2020, meningkat 4,56 persen dari pekan sebelumnya. Sementara itu kapitalisasi pasar bursa pada periode ini tercatat sebesar Rp5.497,2 triliun.

         Ke depan, faktor global diprediksi masih berpengaruh terhadap pergerakan IHSG, seperti ketegangan hubungan AS-Tiongkok, pembukaan kembali bisnis di sejumlah negara, dan hasil uji coba vaksin. Dari dalam negeri, di bulan Juni 2020, faktor yang menjadi fokus investor adalah keputusan sejumlah daerah yang akan melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), serta realisasi program buyback saham dari sejumlah emiten.

          Mengingat belum ada kejelasan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir, Bursa Efek Indonesia menurunkan target Rata Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) tahun 2020, dari Rp9,5 triliun menjadi Rp7 triliun. Hal itu sebagai bentuk penyesuaian dengan kondisi pasar dan jam perdagangan bursa. “Target Rata Rata Nilai Transaksi Harian tahun 2020 menjadi sebesar Rp7 triliun,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo, di Jakarta, 26 Mei 2020. Dia tambahkan, hingga 20 Mei 2020, RNTH di BEI mencapai Rp7,2 triliun.

          Penurunan target RNTH ini merupakan langkah yang masuk akal, karena para pelaku pasar modal memang masih cenderung berhatihati pada saat ini. Walaupun optimistis bahwa perekonomian akan cenderung mulai pulih di kuartal ketiga 2020, mereka memilih untuk meningkatkan nilai transaksi secara pelan-pelan. Hal itu terlihat dari pergerakan indeks saham dalam sebulan terakhir yang juga tidak agresif. S. Edi Santosa