Laporan Tidak Benar

Oleh Robertus Ismono

    Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan tentang Pasal 17 PSAGBI:’Biaya yang Diganti’. Tulisan berikut ini berdasarkan pendapat untuk Pasal 11 PSAGBI yang berjudul di atas. Tulisan ini disampaikan belakangan dengan maksud agar mudah diingat karena mungkin sekali mengundang beda pendapat.

   Pasal ini dimulai dengan kalimat yang mengandung kata-kata ‘memperoleh keuntungan dari jaminan polis’ dan ‘dengan sengaja’. Agar tidak berbeda pendapat tanpa dasar, maka perlu kiranya ada rujukan untuk menyimpulkan layak tidaknya hal-hal itu disimpulkan.

   Pertama, perlu disadari bahwa meskipun tidak dinyatakan secara tegas, namun yang dimaksud dengan Pasal di atas adalah ‘memperoleh keuntungan lain selain dari yang menjadi hak Tertangung, baik berupa jaminan maupun ganti rugi’.

  Bila merujuk ke dasar pertanggungan polis seperti yang dinyatakan di paragraph awal/pembukaan, maka dengan jelas dan tegas dinyatakan bahwa adanya hak Tertanggung atas ganti rugi (disebut pertanggungan) berdasarkan atas: 1) permohonan tertulis; 2) syarat (terms); 3) kondisi (conditions); dan 4) ketentuan tambahan (endorsement).

  Catatan 1: meskipun tidak dinyatakan secara tegas karena dianggap telah amat jelas karena pertanggungan merupakan perjanjian perdata, maka terjadinya pertanggungan juga tergantung dari 1) telah disetujuinya pembayaran premi; 2) kedua belah pihak baik (calon) Tertanggung maupun (calon) Penanggung secara sah mempunyai kekuatan hukum untuk membuat perjanjian.

  Catatan 2: di banyak polis, selain keempat hal di atas, maka dasar pertanggungan masih tergantung dari: 5) pengecualian (exclusions); dan kadang ditambahkan 6) syarat wajib (warranty) dan 7) ‘provision’. Dengan menyimak PSAGBI maka jelas polis ini juga memuat pengecualian

    Catatan 3: dalam tulisan ini dipilih kata ‘istilah’ sebagai terjemahan ‘term’ dan ‘ketentuan sebagai terjemahan ‘condition’.

   Catatan 4: keuntungan lain dari jaminan misal biaya penyingkiran puing sisa gempa, keuntugan lain dari ganti rugi misal biaya pemadaman kebakaran karena gempa, dan selain itu misal ‘ex gratia’.

   Kedua, untuk layak tidaknya menyimpulkan adanya keuntungan seperti yang dimaksud di atas, maka dapat dilakukan dengan membandingkan 1) ada/tidaknya jaminan; ataupun 2) (perhitungan) ganti rugi seandainya sesuatu ada/dilakukan dan seandainya tidak ada atau tidak dilakukan.

  Ketiga, sehubungan dengan ketentuan ‘dengan sengaja’, hal ini kadang mudah disimpulkan, namun kadang amat sulit sehingga perlu ada kesepakatan tentang pengertian ini karena mudah menimbulkan beda pendapat yang masing-masing dapat saja didukung oleh pendapat ahli, disimpulkan dari berbagai ilmu maupun pihak. Beda pendapat sering menimbulkan kekecawaan maupun membutuhkan biaya dan waktu banyak.

   Catatan 5: yang dimaksud ‘ahli’ adalah orang yang bekerja di bidang yang dibahas dan diakui secara formal/bersertifikat.

  Contoh 1: mudah disimpulkan berdasar ketentuan/peraturan/hukum, misal tidak memenuhi ketentuan polis (temasuk tidak membaca polis yang telah menuat peringatan untuk membacanya)..
Beberapa hal sehubungan ‘dengan sengaja’ telah tercantum di PSAGBI misalnya: 1) Pasal 4 Kewajiban Mengungkapkan Fakta ayat 4.1; Pasal 6 Perubahan Resiko ayat 6.1.4; Pasal 7 ayat 7.1, Pasal 8 dst.

   Pasal 11 ayat 1 ‘mengungkapkan fakta … … yang tidak benar’.Hal ini baik berarti barangnya misalnya barang rusak dinyatakan sebagai bagus, motor listrik dinyatakan sebagai alternator, dll, maupun halnya misal barang milik si A tetapi dinyatakan sebagai milik si B, rumah kontrak dinyatakan sebagai milik Tertanggung barang curian diasuransikan, dan lain-lain.

   Catatan 6: mungkin sekali (calon) Penanggung tidak (akan) menanyakan apakan barangnya curian/selundupan/illegal untuk tidak mengundang amarah. Jadi (calon) Tertanggunglah yang harus sadar sendiri untuk tidak mengasuransikannya. Bila Tertanggung tetap mengasuransikannya dan kemudian terungkap, maka sebaiknya Penanggung tidak memberikan ganti rugi untuk barang tersebut agar tidak terlibat masalah hukum.

   Berdasarkan teori ilmu asuransi, yang dimaksud ‘fakta’ (dikenal sebagai fakta material) adalah semua hal yang layak diduga dapat mempengaruhi (calon) underwriter Penanggung untuk menyimpulkan menerima atau menolak permintaan pertanggungan dan bila menerima maka menyimpulkan besaran preminya.

   Catatan 7: teori di atas mudah dibaca tapi sulit bagi awam untuk tahu hal-hal apa saja yang diperlukan oleh (calon) underwriter tersebut. Dengan demikian peran pialang asuransi amat diperlukan.

    Catatan 8: selain di atas, peran pialang asuransi juga diperlukan bagi (calon) Penanggung untuk menyimpulkan resiko-resiko yang ada, besaran dan cara menguranginya (juga hal-hal lain).
Bahasan selanjutnya akan disampaikan di dalam tulisan berikutnya.

   Selamat Tahun Baru 2020, semoga industri asuransi semakin berperan dan bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

Penulis adalah Adjuster dan Direktur PT Braemar Technical Services Adjusting. Bekerja di Jakarta