Wisata Kuliner di Padang Sayang kalau tak Dicoba

    Sumatera Barat sudah lama dikenal dengan keelokan wisata alam dan keindahan budayanya. Bagi pengemar kuliner, provinsi ini juga menawarkan perjalanan wisata yang tak kalah menarik. Ada yang sudah dikemas dalam bentuk restoran-restoran mahal dengan ruang ber-AC, ada pula yang berupa warung makan biasa. Tak perlu jauh-jauh, di Kota Padang kita akan dapat mencicipi pengalaman kuliner yang luar biasa. Semuanya menawarkan sensasi rasa yang sangat memanjakan lidah. Hal itu membuat kita seakan ingin kembali lagi ke sana.

   Pertengahan Maret 2020, menjelang berlakunya pembatasan sosial di Indonesia akibat pandemi Covid-19, Media Asuransi bersama sekitar 50 wartawan dari Jakarta melakukan liputan acara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Padang, Sumatera Barat. Nah, di sela-sela tugas itu, tentu ada acara makan-makan. Tulisan ini merupakan perjalanan kuliner yang sempat kami lakukan di Kota Padang.

    Kami tiba di Padang menjelang tengah hari dan langsung ada acara diskusi di Hotel Mercure, tempat kami menginap, sehingga makan siang di sana. Selepas Maghrib, rombongan bergerak ke restoran Lamun Ombak untuk makan malam. Ini merupakan salah satu restoran terbesar di Kota Padang. Fasilitasnya lengkap, mulai dari lahan parkir yang luas, ruang makan yang memuat ratusan orang, ruang makan ala lesehan, juga ruang makan VIP room, minimarket, ATM, toilet, dan mushala,

   Menu andalan yang ditawarkan rumah makan ini antara lain gulai ikan kakap, ayam goreng, ayam pop, sop daging sapi, asam pedas daging, udang kelong, ikan bakar, cah kangkung, aneka rendang, dan masakan khas Minang lainya. Karena ini kunjungan kedua bagi saya di restoran ini, setelah yang pertama adalah sekitar dua tahun lalu, kali ini saya memilih menu yang berbeda untuk dicicipi. Kesimpulannya, ternyata semuanya enak.

  Setelah cukup istirahat semalaman, pagi itu saya janjian dengan beberapa teman untuk foto-foto di Pantai Padang yang terletak sepelemparan batu dari hotel. Namun seusai shalat Subuh, ternyata masuk pesan melalui WA, seorang kawan lama yang tinggal di Padang mengajak sarapan di luar hotel. Saya iyakan dengan perjanjian lokasinya tidak jauh dari hotel, karena pukul delapan pagi kami harus sudah berangkat ke Kampus Universitas Andalas untuk liputan di sana.

   Pukul enam lewat, dia menjemput ke hotel dan langsung mengajak pergi sarapan. Ternyata lokasinya tak jauh dari hotel, sebenarnya hanya sekitar lima menit jika berjalan kaki. Pilihan kami pagi itu adalah sarapan di Katupek Pitalah yang berlokasi di Jalan Purus 3 No 24, Purus, Padang Barat. Warung ini telah berdiri sejak tahun 1983, buka tiap hari pukul 06.00-11.00 WIB. Ketika kami tiba, sudah banyak mobil yang terparkir. “Biasanya habis pengajian bakda Subuh, banyak yang mampir ke sini untuk sarapan,” kata teman saya.

   Pagi itu warung memang sudah cukup ramai, walau tak terlalu penuh. Kami bertiga masih cukup leluasa memilih tempat duduk. Menu utama yang disajikan adalah katupek atau ketupat sayur khas dari kota Padang. Menu hidangan ini terdiri atas beberapa potong ketupat yang disiram dengan sayur nangka muda dan rebung berkuah santan kental. Cara penyajiannya cukup unik, di atas ketupat sayur ditambahkan kerupuk merah muda yang telah diremas.

   Walau di kota-kota lain juga ada warung yang menjajakan menu ini, termasuk di Jakarta, rasanya memang beda dengan di tempat asalnya. Resepnya masih asli, belum dimodifikasi seperti kalau di kota lain. Selain ketupat sayur, juga menyediakan aneka gorengan dan bubur. Walau perut sudah kekenyangan, kami sempat mencicipi bubur kampiun. Rasanya juga sangat lezat.

   Usai sarapan, saya diantar kembali ke hotel dan segera bersiap untuk acara selanjutnya yakni liputan acara OJK di kampus Universitas Andalas. Usai liputan, kami memutuskan shalat Jumat di Masjid Raya Sumatera Barat, Padang.

   Setelah shalat Jumat, kami bergerak menuju restoran Pauh Piaman yang berada di jalan Khatib Sulaiman, Padang Utara. Ini seperti layaknya restoran padang yang biasa kita kenal, dengan aneka menu hidangan tersaji di meja. Namun restoran ini punya menu istimewa yakni gulai ikan. Ya.., Padang memang kota pesisir atau pinggir pantai, sehingga makanan berbahan ikan laut merupakan salah satu sajian utama di banyak rumah makan.

   Sekitar dua tahun lalu, Presiden Joko Widodo seusai melakukan shalat Jum’at di Masjid Raya Sumatera Barat, Padang, mengajak para ulama Sumatra Barat untuk makan siang di sini. Lokasinya yang tak terlampau jauh dari Masjid Raya Sumatera Barat dan rasa masakannya yang enak, menjadi alasan untuk mengunjungi restoran ini. Pauh Piaman memang salah satu kedai nasi yang populer dan sudah terkenal kelezatannya di Sumatera Barat.

   Seperti layaknya restoran Padang, banyak menu yang disajikan di Pauh Piaman, seperti gulai kepada ikan, dendeng, gulai telur, ayam gulai, ikan pangek padeh, kalio daging, sup daging, hingga gulai jengkol. Namun, rumah makan yang berada di Jalan Khatib Sulaiman Nomor 63, Lolong Belanti, Kota Padang ini, memiliki slogan ‘The Most Excellent Taste of Gulai Ikan. Jadi, kalau berkunjung ke restoran ini Anda harus mencoba menu gulai ikan, baik gulai kepala kakap maupun gulai ikan yang lain.

   Gulai ikan maupun gulai kepala ikan adalah gulai masin dengan kuah gulai berwarna kuning kecokelatan dan kental. Dimasak hingga bumbunya meresap ke dalam daging ikan dan kepala ikan yang ukurannya hampir sebesar piring hidang. Tekstur daging ikannya lembut dengan bumbu gurih pekat yang meresap. Tidak ada aroma amis karena ada asam sunti yang ditambahkan dalam gulai. Karenanya, tak heran menu ini jadi primadona. Hampir setiap tamu yang datang, pasti menikmati sajian ini.

  Seusai makan siang, bus kemudian melaju ke Kota Bukittingi. Perut kenyang, udara di dalam bis terasa sejuk, kantuk pun datang. Sebelum terlelap, masih terbayang rasa masakan yang sempat kami cicipi selama di kota ini. Padang memang menjanjikan kuliner dengan menu masakan yang khas dan resep asli, yang sayang jika tak Anda cicipi saat berkunjung ke sini. S. Edi Santosa