Kinerja Perusahaan Pembiayaan Tetap Terjaga Saat Pandemi Covid-19

     Pandemi Covid-19 telah menghadirkan disrupsi yang luar biasa terhadap pelbagai sektor, termasuk di bisnis pembiayaan, mulai dari cara bekerja pelaku usaha secara internal hingga dalam memberikan pelayanan kepada nasabah. Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di seluruh wilayah Indonesia telah mengubah kebiasaan, meningkatkan efektivitas penerapan Working from Home (WFH) dan pemanfaatan teknologi digital. Covid-19 di Indonesia yang belum dapat diprediksi kapan berakhirnya ini telah mendorong pelaku multifinance untuk melakukan penyesuaian guna memastikan keberlanjutan operasional perusahaan ke depannya.

       Saat ini sektor perusahaan pembiayaan tertekan akibat merebaknya wabah Covid-19, namun sejumlah perusahaan pembiayaan berhasil mencatatkan pertumbuhan positif pada kinerja kuartal pertama 2020. Di tengah tantangan multidimensi tahun ini, PT CIMB Niaga Auto Finance (CIMB Niaga Finance) mampu mencatatkan kenaikan laba dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Presiden Direktur CIMB Niaga Finance Ristiawan Suherman menjelaskan pada kuartal pertama 2020, laba sebelum pajak atau profit before tax meningkat menjadi Rp91,9 miliar per 31 Maret 2020, atau naik 33 persen dibanding periode yang sama 2019 sebesar Rp69,2 miliar.

      “Sejalan dengan peningkatan pada laba, return on equity (ROE) menjadi 21,75 persen pada akhir Maret 2020, dari posisi 18,81 persen di periode yang sama 2019. Pada saat yang sama, return on assets (ROA) menjadi 11,14 persen di akhir Maret 2020, dari posisi 12,88 persen di periode yang sama 2019,” papar Ristiawan di Jakarta, 29 Mei lalu. Dia tambahkan, anak usaha PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) ini memiliki asset sebesar Rp4,3 triliun pada periode yang berakhir 31 Maret 2020, naik sebesar 64 persen dibanding periode yang sama 2019 sebesar Rp2,6 triliun.

      Ristiawan juga menjelaskan, per 31 Maret 2020, perseroan berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp950 miliar, tumbuh 52,5 persen dari posisi sebesar Rp623 miliar di periode yang sama 2019. Pencapaian tersebut hasil dari strategi dan inisiatif yang dilakukan dengan tetap diimbangi prinsip kehati-hatian, mengutamakan kualitas pembiayaan, serta customer experience. “Sejalan dengan perbaikan pertumbuhan kredit yang dicapai sesuai target di kuartal pertama, rasio pembiayaan bermasalah juga membaik. Hal ini tercermin pada rasio kredit bermasalah atau non performing financing (NPF) di bawah rata-rata industri sebesar 0,95 persen,” ungkapnya.

        Saat ini, CIMB Niaga Finance, lanjut Ristiawan, selain fokus pada pengembangan bisnis yang kompetitif seperti mengembangkan budaya kerja yang berbasis integritas, juga aktif melakukan langkah-langkah strategis serta inovatif, antara lain memperkuat aliansi bersama induk usaha melakukan transformasi dengan pengembangan pada seluruh aspek
bisnis guna mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta memanfaatkan layanan digital. Sebagai implementasi dari transformasi tersebut, perseroan telah meluncurkan aplikasi CNAF Mobile.

         Aplikasi ini untuk memudahkan calon debitur dalam mengajukan pembiayaan melalui ponsel. Didukung teknologi terbaru, CNAF Mobile dapat memberikan persetujuan pembiayaan secara instan dalam waktu satu menit kepada calon debitur cukup dengan KTP dan NPWP. Ristiawan menuturkan, di tengah pandemi Covid-19 ini, aplikasi digital menjadi solusi bagi calon debitur untuk tetap produktif walau berada di rumah. Menghadapi situasi menantang di sepanjang 2020, khususnya di masa dan setelah pandemi Covid-19, perseroan menjalankan beberapa strategi antara lain mengambil langkah percepatan perubahan bisnis proses ke arah digital dan automasi sehingga dapat menekan biaya menjadi lebih efektif dan efisien. “Kami bertekad terus menjadi perusahaan yang kompetitif di industri pembiayaan melalui berbagai inovasi dan inisiatif sesuai dengan aspirasi menjadi the most profitable company,” tuturnya.

       Pencapaian bisnis yang signifikan pada kuartal pertama 2020 juga berhasil diraih oleh PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Adira Finance). Presiden Direktur Adira Finance Hafid Hadeli mengatakan bahwa kinerja keuangan perseroan mengalami kenaikan pada kuartal pertama karena ada pertumbuhan aset pembiayaan. Secara keseluruhan laba bersih naik 12,5 persen menjadi Rp520 miliar. “Sehingga rasio ROA dan ROE juga ada kenaikan dibanding kuartal pertama tahun sebelumnya masing-masing menjadi 6,1 persen dan 28,5 persen,” kata Hafid di Jakarta, akhir April lalu.

    Menurutnya, seluruh pencapaian itu didukung oleh kenaikan pendapatan bunga sebesar 5,5 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp3,1 triliun, sementara biaya bunga naik 6,4 persen menjadi Rp1,2 triiun. Pendapatan operasional juga naik 8,7 persen senilai Rp2,1 triliun dan beban operasional mengalami kenaikan 7,0 persen menjadi Rp969 miliar. Namun, Hafid mengakui, pada kuartal pertama ini, perseroan mencatatkan pembiayaan baru sebesar Rp8,4 trilliun, turun 11 persen dibanding tahun sebelumnya. “Penurunan ini disebabkan melemahnya daya beli konsumen akibat pegnyebaran Covid-19 serta penurunan harga komoditas seperti minyak, batu bara, dan CPO. Secara keseluruhan, penjualan sepeda motor dan mobil juga turun atau relatif sejalan dengan penurunan industri di sepanjang kuartal pertama 2020,” paparnya.

          Meski demikian, di tengah pasar yang cukup menantang, piutang yang dikelola Adira Finance berhasil tumbuh sebesar empat persen menjadi Rp54,7 triliun. Piutang sepeda motor tumbuh tujuh persen menjadi Rp26,2 triliun dibanding 2019, sedangkan piutang mobil naik tipis sebesar dua persen menjadi Rp 28,1 triliun. Hafid pun menekankan, Adira Finance tetap melakukan penyaluran pembiayaan baru, namun disesuaikan dengan kriteria dan kondisi saat ini. Perusahaan pun telah mengambil langkah inisiatif untuk memastikan keselamatan karyawan sekaligus tetap melanjutkan operasi bisnis. “Dari satu sisi, pembiayaan sepeda motor pada kuartal pertama turun sebesar 13 persen menjadi Rp4,1 triliun. Segmen motor baru hanya mengalami sedikit penurunan sebesar dua persen menjadi Rp3,4 triliun,” jelasnya.

          Kalau dilihat secara brand kendaraan roda dua, menurut Presiden Direktur Adira Finance ini, Honda  berkontribusi terbesar dengan komposisi 64 persen dari total pembiayaan sepeda motor, sementara Yamaha berkontribusi kedua terbesar dengan komposisi 29 persen dari total pembiayaan. Untuk mobil, secara keseluruhan pembiayaan mobil baru turun sebesar 27 persen menjadi Rp1,7 triliun. Dia menilai, hal ini terjadi karena melemahnya penjualan industri mobil disertai dengan penurunan permintaan dari segmen komoditas.

         Sementara itu, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) juga konsisten menorehkan performa yang baik di kuartal pertama 2020 melalui peningkatan nilai pembiayaan baru sebesar Rp4,0 triliun, atau naik 20,7 persen dari periode yang sama di 2019 sebesar Rp3,4 triliun. Kenaikan ini ikut mengerek nilai pendapatan perseroan naik 10,1 persen menjadi Rp1,4 triliun. “BFI Finance berhasil mencatat nilai pembiayaan baru sebesar Rp3,0 triliun di dua bulan pertama 2020. Namun sejak pengumuman pemerintah adanya kasus positif Covid-19 di tanggal 2 Maret, kami memutuskan memperketat penyaluran pembiayaan sebagai antisipasi atas kondisi ekonomi dan risiko bisnis yang timbul karena dampak dari pandemi ini di bulan-bulan mendatang,” ujar Finance Director & Corporate Secretary BFI Finance Sudjono di Tangerang Selatan, akhir April 2020.

          Namun, dari sisi pencapaian laba perusahaan ini pada kuartal pertama 2020 turun 2,7 persen menjadi sebesar Rp327,9 miliar dari total laba di kuartal pertama 2019. Penurunan ini karena perusahaan membentuk cadangan 70 persen piutang sebagai antisipasi penurunan ekonomi yang berpotensi meningkatkan kredit macet. “Per 31 Maret 2020, BFI Finance mencatatkan NPF 1,1 persen sementara cadangan kerugian yang ada mencapai 3,1 kali NPF atau sekitar 3,55 persen dari nilai aset produktif perusahaan. Jumlah ini diharapkan akan menjadi buffer untuk mengantisipasi pemburukan NPF di tengah pandemi Covid-19,” tegas Sudjono.

         Dia katakan, porsi produk pembiayaan kendaraan roda empat masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 68,7 persen disusul pembiayaan kendaraan roda dua sebesar 21,2 persen, alat berat dan mesin sebesar 8,7 persen, dan sisanya pembiayaan dengan agunan properti (propertybacked financing), serta pembiayaan syariah. Total piutang pembiayaan yang dikelola oleh perusahaan tercatat sebesar Rp18,7 triliun, atau naik 3,1 persen dari sebelumnya sebesar Rp18,1 triliun. Kenaikan ini berkontribusi positif terhadap peningkatan total aset perseroan di kuartal pertama 2020 sebesar Rp19,7 triliun atau naik 6,6 persen yoy.

         Sudjono menegaskan bahwa kepercayaan dari bank juga masih solid. “Di bulan Maret kemarin BFI Finance memperoleh pinjaman sindikasi mencapai 100 juta dolar AS. Hal ini mencerminkan adanya kepercayaan dan hubungan yang baik dengan mitra perbankan, sehingga perusahaan terus bertumbuh sesuai dengan rencana yang telah dibuat,” pungkasnya. Wahyu Widiastuti