Persaingan Bisnis Kian Ketat Multifinance Perkuat Layanan Digital

   Untuk menjawab tantangan kompetisi di masa mendatang yang kian ketat persaingannya, sejumlah pebisnis di multifinance mulai melakukan inovasi pada layanan digital. Hal ini dilakukan seiring dengan pergeseran tren teknologi informasi di tengah masyarakat yang menginginkan beragam layanan berbasis teknologi.

    Hal ini yang dilakukan oleh PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) dalam memasuki Tahun Tikus Logam. Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan bahwa kompetisi pada sistem digital harus diikuti untuk dapat menggarap segmen milenial. Perseroan telah menyiapkan peluncuran transaksi pembiayaan berbasis digital platform untuk mempermudah kebutuhan nasabah dan dealer rekanan CNAF.   Perseroan pun telah menganggarkan biaya teknologi informasi (IT) cukup besar mengingat penguatan platform digital menjadi strategi CNAF di tahun 2020.

    Menurutnya, kalangan milenial terbiasa dengan gadget hampir 4-5 jam per hari, tentu akan tertarik dengan layanan yang bakal diluncurkan tersebut. “Kita tahu sobat milenial tidak mau banyak berinteraksi dengan banyak orang. Aplikasi ini menjadikan wujud konkret kita untuk bisa berintekraksi melayani segmen milenial. Kita juga akan memperkuat cross selling di digital, sekaligus meningkatkan consumer experience dan komunikasi dua arah,” jelas Ristiawan beberapa waktu lalu.

   CNAF, ungkap Ristiawan, berencana mengubah layanannya dari tradisional menjadi berbasis digital. Hal tersebut dilakukan untuk bertahan di tengah tantangan pasar ke depan, mengingat ekonomi dunia sedang sulit-sulitnya. “Lumayan menantang tantangan di tahun 2020, sehingga meningkatkan adrenalin industri, khususnya bagi industri multifinance. Kami akan memanfaatkan relaksasi yang diberikan oleh OJK. Soal platform digital akan kita kembangkan karena semua segmen tidak bisa lepas dari gadget yang ada di tangan,” ungkap Ristiawan. Namun, pihaknya belum mau mengungkapkan besaran investasi yang telah disiapkan oleh perusahaan.

    Selain itu, lanjut dia, penanganan terhadap portofolio kelolaan juga diperkuat melalui penerapan sejumlah strategi, salah satunya dengan melakukan program anti attrition dan penerapan risk based pricing. “Ada peluang yang besar di induk usaha karena CIMB Niaga punya nasabah di atas lima juta,” tukasnya.

   Ristiawan juga mengaku digitalisasi secara menyeluruh akan menjadi kunci vital bisnis CNAF ke depannya. Lantaran melalui digitalisasi, perseroan mampu memastikan customer experience dan customer satisfaction. Kedua hal ini, menjadi fokus CNAF dalam jangka pendek dan menengah. “Efisiensi banyak sekali yang kita dapat. Bukan hanya efisiensi dari sisi biaya dan waktu layanan, kita pun mendukung program usaha yang berkelanjutan. Lantaran semakin sedikit mempergunakan kertas, plastik, dan lain-lain, secara tidak langsung kita sedikit banyak membantu lingkungan menjalankan bisnis yang ramah lingkungan,” jelas dia.

   Demikian pula dengan perusahaan pembiayaan PT Home Credit Indonesia. Chief Marketing & Strategy Officer PT Home Credit Indonesia Miroslav Hlavac pada suatu kesempatan mengatakan transformasi digital sudah dilaksanakan sejak awal beroperasi di Indonesia tahun 2013. Pihaknya menawarkan layanan pembiayaan yang berbeda dari standar di pasaran pembiayaan. “Ini yang membuat kami mampu bersaing di industri pembiayaan,” ungkapnya.

   Transformasi ke arah digital sudah dilakukan Home Credit, diantaranya menerapkan sistem paperless, yaitu mengurangi pemakaian kertas untuk proses administratif seperti melakukan validasi nomor telepon pelanggan melalui kode verifikasi (One Time Password ), mengembangkan teknologi e-KTP Reader, menggunakan Big Data untuk meningkatkan kualitas proses identifikasi dan seleksi risiko calon pelanggan, mengembangkan aplikasi mobile My Home Credit yang memudahkan pelanggan mencari informasi mengenai produk dan layanan terbaru serta masih banyak lagi. “Semua ini dilakukan Home Credit untuk terus memberikan layanan terbaik demi memenuhi kebutuhan pelanggan,” tegasnya.

  Ke depan, lanjut, Miroslav Hlavac, inovasi terus dilakukan diantaranya dengan fokus mengembangkan bisnis pembiayaan online, memperkaya fitur aplikasi mobile untuk meningkatkan frekuensi interaksi dengan pelanggan, melakukan digitalisasi proses di internal, mengimplementasikan proses yang cepat ke instan, dalam arti proses persetujuan semakin cepat menjadi sekitar tiga menit saja, hingga pembayaran menggunakan kode QR. “Banyak sekali keuntungan yang diperoleh perusahaan dengan melakukan transformasi digital, salah satunya mempercepat pertumbuhan bisnis karena banyaknya inovasi yang dapat dilakukan. Dengan melangkah ke era digital juga akan mengurangi biaya operasional dan semua proses dapat lebih terukur,” pungkasnya. Wahyu Widiastuti