BI: Kebutuhan Uang Tunai Ramadhan dan Idul Fitri Rp157,9 Triliun

    Bank Indonesia (BI) memperkirakan kebutuhan uang tunai selama Bulan Ramadhan dan libur Idul Fitri 2020, tidak akan sebesar kebutuhan uang tunai Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2019 lalu. Untuk saat ini, BI berkomitmen menyiapkan kebutuhan uang tunai (outflow) yang diprakirakan sebesar Rp157,96 triliun, atau turun 17,7 persen dibandingkan pada periode Ramadan dan Idul Fitri tahun lalu. Selain untuk antisipasi kebutuhan selama bulan Ramadan dan libur Idul Fitri, penyedoaan uang tunai sebanyak itu juga untuk antisipasi serta kebijakan dan stimulus pemerintah kepada masyarakat selama periode penanganan dampak pandemi Covid-19, termasuk pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

     Asisten Gubernur, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Fillianingsih Hendarta mengatakan bahwa pendemi Covid-19 dan penerapan PSBB membuat transaksi tunai face to face terkendala. Indikasi tersebut terlihat dari penurunan baik outflow maupun inflow transaksi tersebut khususnya dalam satu bulan terakhir. Transaksi outflow sampai dengan 28 April 2020 turun 5,2 persen year to date (ytd) sedangkan inflow turun 1,7 persen ytd pada periode yang sama. “Bahkan di saat bulan puasa yang umumnya kebutuhan uang tunai meningkat, pada tahun ini kami perkirakan menurun dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya dalam video conference dengan wartawan di Jakarta, 30 April 2020.

    Menurut dia, penurunan transaksi juga terjadi pada transaksi debet melalui EDC yang bersifat face to face. Rerata transaksi harian melalui EDC di skema GPN terus tumbuh negatif sejak Februari 2020, yakni turun 7,1 persen month to month (mtm) dan terus tereskalasi hingga pada April 2020 tumbuh minus 45,5 persen mtm. “Penurunan drastris transaksi di EDC dimulai sejak diumumkannya kebijakan belajar di rumah pada 16 Maret 2020 yang diikuti kebijakan WFH oleh instansi pemerintah dan swasta,” tandasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim menjelaskan bahwa kebutuhan uang tunai (outflow) tertinggi pada periode Ramadan dan Idul Fitri tahun ini terjadi di daerah Jabodetabek yang diperkirakan sebesar Rp38,0 triliun. “Berbeda dari tahun sebelumnya, memerhatikan aspek kemanusiaan dan kesehatan masyarakat dalam memitigasi penyebaran Covid-19, layanan penukaran uang kepada masyarakat yang biasanya disediakan melalui penyediaan penukaran di lokasi umum seperti Monas dan pasar tradisional, pada tahun ini hanya disediakan melalui loket di bank,” katanya.

      Terkait hal tersebut, BI telah berkoordinasi dan meminta perbankan, agar dalam memberikan layanan dimaksud menegakkan protokol pencegahan Covid-19 pada masa PSBB secara ketat yang telah ditetapkan Pemerintah. Protokol dimaksud antara lain penggunaan masker, pemindaian suhu tubuh, dan penerapan physical distancing. “Penukaran untuk masyarakat akan dilayani oleh 3.742 Kantor Cabang (KC) bank di seluruh Indonesia, yang terdiri atas 344 KC bank di daerah Jabodetabek dan 3.398 KC bank di wilayah luar Jabodetabek terhitung mulai dari tanggal 29 April sampai dengan 20 Mei 2020,” jelasnya.

     Untuk kelancaran penyiapan uang tunai dan kelancaran layanan penukaran tersebut, BI menyusun strategi secara internal dan eskternal. Secara internal, BI melakukan:  1) Penyediaan uang yang layak edar dan higienis untuk meminimalkan penyebaran Covid-19 dengan melakukan karantina uang Rupiah selama 14 hari sebelum diedarkan, menyemprot disinfektan pada area perkasan, sarana dan prasarana, serta memerhatikan higienitas SDM dan perangkat pengolahan uang. 2) Pendistribusian uang secara tepat di tengah keterbatasan moda transportasi agar seluruh kantor perwakilan BI memiliki kecukupan persediaan uang secara nominal dan per pecahan.

    Sedangkan dari sisi eksternal, BI melakukan langkah-langkah untuk: 1) Berkoordinasi dengan perbankan dan PJPUR untuk menjaga ketersediaan uang di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dengan kualitas baik melalui perencanaan pengisian uang yang akurat. 2) Menyediakan layanan penukaran uang kepada masyarakat di loket perbankan sehingga masyarakat mudah untuk memperoleh uang. 3) Memastikan seluruh kegiatan pengolahan uang yang memerhatikan aspek K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Edi