Cigna Indonesia Memberi Perlindungan Asuransi 605 Tenaga Medis Puskesmas

   PT Asuransi Cigna (Cigna Indonesia) bekerjasama dengan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional Indonesia) memberikan perlindungan asuransi sebesar Rp30,25 miliar kepada tenaga medis di lima Puskesmas di Jakarta. Perlindungan asuransi ini diberikan sebagai apresiasi terhadap para tenaga medis di Puskesmas yang telah berjuang melawan Covid-19. Demikian dikatakan Presiden Direktur & CEO PT Asuransi Cigna Philip Reynolds di sela-sela penyerahan secara simbolis perlindungan asuransi yang disalurkan melalui Baznas di Jakarta, 17 Juni 2020.

       Chief Marketing & Strategic Partnership Officer Cigna Indonesia Akhiz Nasution menambahkan, perlindungan asuransi ini akan diberikan kepada 605 pekerja medis di lima Puskesmas di Jakarta selama setahun ke depan. Dia menjelaskan, pemberian asuransi ini sebagai apresiasi Cigna terhadap perjuangan para tenaga medis melawan Covid-19. “Para tenaga medis ini sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan juga keluarga mereka untuk bekerja tanpa pamrih demi melawan Covid-19. Karena itu, mereka juga patut mendapatkan perlindungan asuransi jika terkena musibah di mana masing-masing orang akan mendapat uang pertanggungan sebesar Rp 50 juta jika meninggal dunia,” tuturnya.

       Akhiz Nasution menjelaskan bahwa selama masa pandemi ini pihaknya telah mengambil kebijakan untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada para nasabahnya. Cigna menjamin seluruh nasabahnya yang terkena Covid-19 akan mendapatkan perlindungan sesuai polisnya. Selain itu, Cigna memberikan telekonsultasi gratis bagi para nasabah dengan dokter. Lewat cara ini, para nasabah dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai kesehatan mereka. Selanjutnya, jika memang membutuhkan obat, dokter akan mengeluarkan resep yang diberikan ke apotik terdekat dengan nasabah.

        Terkait produk asuransi yang paling diminati masyarakat selama masa pandemi Covid-19 ini, Akhiz mengatakan bahwa asuransi penyakit kritis (Cigna Family Proteksi Optima), asuransi kesehatan keluarga (Cigna Family Care Optima), serta asuransi jiwa dan penyakit kritis dapat sekaligus meng-cover tujuh anggota keluarga (Cigna Family Eazilife) merupakan tiga produk asuransi Cigna yang paling dicari masyarakat. Cigna Family Eazilife merupakan produk asuransi pertama di industri asuransi di Tanah Air dan menjadi solusi bagi persoalan pelik yang dihadapi generasi sandwich saat ini. Langkah ini ditempuh karena gap proteksi di Indonesia masih mengkhawatirkan, hanya sebesar tiga persen yang memiliki asuransi.

         Sementara itu, Direktur Rumah Sehat Baznaz dokter Reza Ramdhoni mengatakan bahwa asuransi merupakan kebutuhan yang sangat penting di saat pandemi Covid-19 ini. Apalagi, paramedis yang bekerja di garda terdepan sangat rentan terkena Covid-19. Menurut Reza, mereka yang bertugas di Puskesmas memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Sebab, Puskesmas merupakan pintu gerbang fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sebelum dirujuk lebih lanjut. Karena itu, pihaknya sangat mengapresiasi perhatian dari Cigna Indonesia untuk paramedis tersebut.

       Selama pandemi ini, tenaga medis rentan terpapar Covid-19. Bahkan, tak sedikit dari mereka meninggal dalam menjalankan tugas sebagai garda terdepan penanganan Covid-19. Data yang ada menyebutkan bahwa banyak kasus petugas kesehatan Puskesmas yang tertular Covid-19. Sebut saja, 27 petugas medis di Bandung, dua petugas medis di Tapanuli Utara, lima petugas Puskemas di Medan, 161 petugas Puskesmas di DKI Jakarta. Sayangnya, beban tugas dan risiko berat tersebut tak disertai apresiasi yang sepadan. Meski demikian, mereka tetap bekerja pantang menyerah.

      Hingga Mei lalu, tingkat kematian penderita Covid-19 mencapai 7,2 persen dari kasus positif, termasuk 55 tenaga medis. Ini mengindikasikan dalam setiap 100 kasus kematian akibat Covid-19, terdapat 6-7 petugas kesehatan yang meninggal. Angka tersebut jauh di atas rata-rata secara global sebesar 0,37 persen. Bahkan, tingkat kematian tenaga medis akibat virus corona di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat yang memiliki jumlah kematian kumulatif tertinggi di dunia.

    Sebelumnya, Ketua Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebutkan sebanyak 55 tenaga medis yang meninggal selama pandemi virus Covid-19 terdiri dari 38 dokter dan 17 perawat. Dia katakan, salah satu faktor penyebabnya adalah tidak terbukanya pasien positif Covid-19 kepada tenaga medis. Selain itu, banyak masyarakat yang masih meremehkan situasi pandemi Covid-19. Kemudian, kurangnya alat pelindung diri (APD) dan faktor kelelahan karena jam kerja yang panjang.

       Pemerintah telah memberikan insentif kepada petugas Puskesmas sebesar Rp5 juta dan santunan kematian sebesar Rp300 juta. Insentif dan santunan kematian bagi tenaga kesehatan yang menangani Covid-19 diberikan terhitung mulai Maret 2020 sampai dengan Mei 2020 dan dapat diperpanjang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Edi