Gubernur BI: Inflow ke SBN Rp1,17 T di Pekan Pertama Mei 2020

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa selama pekan pertama Bulan Mei 2020, tercatat ada dana asing yang masuk (inflow) ke surat berharga negara (SBNsebesar Rp1,17 triliun. Di saat yang bersamaan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menunjukkan kecenderungan untuk terus menguat ke level Rp15.000 per dolar AS. Hal ini disampaikan Perry dalam update perkembangan ekonomi terkini dan kebijakan yang ditempuh oleh BI, yang ditayangkan secara langsung di kanal YouTube BI, 6 Mei 2020.

            Dalam kesempatan tersebut Gubernur BI menyampaikan lima hal, yakni pertama, nilai tukar Rupiah bergerak stabil dan cenderung menguat mengarah ke Rp15.000 pada akhir tahun. Kedua,  inflow Asing ke SBN pada Minggu I Mei 2020, tercatat sebesar Rp1,17 triliun. Ketiga, inflasi 2020 terkendali dan rendah di kisaran sasaran 3±1 persen. Keempat, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama  2020 tercatat 2,97 persen (yoy). Sedang yang kelima adalah Kebijakan dan Operasi Moneter Bank Indonesia.

    Menurut Perry, pergerakan nilai tukar secara trend dipengaruhi oleh faktor fundamental yaitu: pertama, inflasi yang rendah dan terkendali dalam kisaran sasaran 3±1 persen. Kedua, defisit transaksi berjalan kuartal pertama akan lebih rendah dari 1,5 persen PDB (produk domestik bruto) dan secara keseluruhan pada tahun 2020 akan lebih rendah dari dua persen PDB. Ketiga, perbedaan suku bunga (yield spread) sangat tinggi. Yield SBN 10 tahun Indonesia sebesar 8,02 persen sedangan yield  UST Note 10 tahun sebesar 0,3-0,4 persen, sehingga yield spread sebesar 7,5 persen. Faktor tersebut menyebabkan nilai tukar undervalued dan diperkirakan bergerak stabil dan cenderung menguat.

Nilai tukar di hari Senin, tanggal 4 Mei 2020 ditutup pada level Rp15.050 dan pada hari Selasa, tanggal 5 Mei 2020 menguat Rp15.010,” kata PerryDia jelaskan, pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek (harian) dipengaruhi oleh faktor teknikal (sentimen) positif yaitu sejumlah wilayah di AS dan Eropa akan membuka kegiatan ekonomi, pernyataan board members The Fed yang menyampaikan bahwa ekonomi AS akan membaik di semester kedua 2020, meskipun di semester pertama 2020 mengalami resesi ekonomi serta peningkatan harga minyak.

Sementara itu, beberapa sentimen negatif yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar, yaitu ketegangan hubungan antara AS dan Tiongkok, ketegangan hubungan Korea Utara dan Korea Selatan. Selain itu, putusan Mahkamah Konstitusi Jerman bahwa Quantitative Easing (QE) yang dilakukan Bank Sentral Eropa (ECB) tidak konstitusional karena tidak didukung oleh perjanjian Uni Eropa kecuali ECB dapat menjustifikasi dan menjelaskannya dalam waktu tiga bulan.

            Sementara itu mengenai inflow asing ke SBN, Gubernur BI menyampaikan bahwa pergerakan aliran modal asing portfolio ke SBN yang diterbitkan oleh pemerintah baik di pasar perdana atau pasar sekunder pada minggu pertama Mei 2020 tercatat inflow Rp1,17 triliun. Pada bulan April, secara keseluruhan aliran modal asing tercatat outflow sebesar Rp2,14 triliun, dengan rincian sebagai berikut minggu pertama April 2020 tercatat inflow Rp5,73 triliun, minggu kedua April 2020 tercatat outflow Rp7,98 triliun, minggu ketiga April 2020 tercatat outflow Rp2,41 triliun, minggu keempat April 2020 tercatat inflow Rp0,1 triliun, dan minggu kelima April 2020 tercatat inflow Rp2,42 triliun.

Secara historis periode 2011–2019 di Indonesia, outflow relatif kecil dalam periode yang pendek dan diikuti dengan inflow yang besar dalam periode yang lebih panjang. Data menunjukkan rata-rata outflow  sebesar Rp29,2 triliun dengan durasinya sekitar 3-4 bulan dan diikuti inflow  sebesar Rp229,1 triliun dengan durasi sekitar 21 bulan,” jelas Perry Warjiyo.

     Terkait dengan hasil rilis BPS mengenai Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2020 yang tercatat 0,08 persen mtm (month to month), atau sebesar 2,67 persen yoy, Perry mengakui itu lebih rendah dari prakiraan Bank Indonesia. Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa faktor rendahnya permintaan mulai membuat tekanan terhadap inflasi berkurang yang dipengaruhi oleh langkah-langkah penanganan pandemi Covid-19 yang menyebabkan aktivitas manusia yang lebih rendah terkait pembatasan mobilitas, PSBB dan lain sebagainya. Kondisi tersebut juga memengaruhi prakiraan inflasi pada saat Ramadan dan Idulfitri yang lebih rendah daripada  data historisnya. Bank Indonesia meyakini sampai dengan akhir tahun 2020, inflasi akan terkendali dan rendah di kisaran sasaran tiga persen plus minus satu persen,” jelasnya.

     Gubernur BI juga menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2020 tercatat 2,97 persen yoylebih rendah dari perkiraan Bank Indonesia 4,4 persen yoy. Hal tersebut didorong oleh dampak penanganan pandemi Covid-19 yang mulai memengaruhi kegiatan ekonomi baik dari sisi pendapatan, konsumsi, produksi, investasi, serta ekspor dan impor. Semula Bank Indonesia  memperkirakan pengaruh dari penanganan pandemi Covid-19 baru mulai terasa di bulan April sampai dengan pertengahan Juni 2020, namun ternyata terjadi lebih cepat yaitu di bulan Maret 2020,” jelasnya.

Dari sisi pengeluaran, penurunan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2020 terutama dipengaruhi penurunan permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga tercatat 2,84 persen yoy, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kinerja pada kuartal keempat 2019 sebesar 4,97 persen yoy. Investasi juga tumbuh melambat sebesar 1,7 persen yoy. Respons stimulus pemerintah melalui konsumsipPemerintah yang tumbuh 3,74 persen yoy dapat menahan perlambatan permintaan domestik lebih dalam. Selain itu, ekspor neto berkontribusi positif dipengaruhi ekspor yang tumbuh 0,24 persen yoy dan impor yang mencatat kontraksi 2,19 persen yoy,” tuturnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama termasuk salah satu yang tertinggi, lebih baik dari sebagian besar negara-negara lain. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama 2020 tercatat -6,8 persen yoy, jauh lebih rendah dari pencapaian di kuartal keempat 2019 sebesar 6,0 persen. Pertumbuhan ekonomi AS tercatat 0,3 persen yoy pada kuartal keempat 2020, tetap positif namun lebih rendah dari pencapaian di kuartal keempat 2020 sebesar 2,3 persen yoy. Sedangkan pertumbuhan ekonomi di Eropa, Singapura, dan Korea Selatan pada kuartal pertama 2020, masing-masing-masing tercatat sebesar -3,3 persen yoy, -2,2 persen yoy, dan 1,3 persen yoy.

       Sedangkan mengenai kebijakan dan operasi moneter Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI berkomitmen untuk melaksanakan kebijakan moneter yang prudent dan dengan tata kelola yang baik. Dia jelaskan, sesuai UU Mata Uang (UU No. 7 Tahun 2011), perencanaan, pencetakan, dan pemusnahan uang kartal (uang kertas dan logam), melalui koordinasi BI dengan Kementerian Keuangan dengan jumlah sesuai dengan prakiraan kebutuhan masyarakat. Keseluruhan proses pengolahan uang sesuai dengan tata kelola dan diaudit oleh BPK. Oleh karena itu, pandangan bahwa BI akan melakukan pencetakan uang dalam upaya mitigasi Covid-19 adalah tidak sesuai dengan best practice kebijakan moneter yang prudent dan BI tidak akan melakukan langkah kebijakan tersebut,” tegasnya.

Mengenai operasi moneter dalam pengendalian uang giral serta likuiditas pasar uang dan perbankan, Perry menjelaskan bahwa sesuai mandat, BI mengendalikan inflasi dan mestabilkan nilai tukar Rupiah, sejalan dengan pencapaian sasaran inflasi dan juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah yang dilakukan oleh BI adalah melalui penetapan suku bunga acuan dan pelaksanaan operasi moneter (OM) untuk mengelola likuiditas di pasar uang dan perbankan sejalan dengan langkah kebijakan BI dalam menstabilkan nilai tukar Rupiah. Pelaksanaan OM, salah satunya dengan cara OM ekspansi dan OM kontraksi melalui transaksi repo dengan underlying SBN yang dimiliki.

Sementara itu mengenai kebijakan quantitative easing (QE) Bank Indonesia, dia jelaskan bahwa salah satu bentuk QE berupa injeksi likuitas ke perbankan dengan jumlah secara total telah mencapai sekitar Rp503,8 trililun, dengan rincian sebagai berikut: periode Januari–April 2020 sebesar Rp386 triliun, yang bersumber dari pembelian SBN di pasar sekunder dari investor asing sebesar Rp166,2 triliun, term repo perbankan sebesar Rp137,1 triliun, swap valuta asing sebesar Rp29,7 triliun, dan penurunan Giro Wajib Minimun (GWM) rupiah di bulan Januari dan April 2020 sebesar Rp53 triliun.

Kemudian di periode Mei 2020 sebesar Rp117,8 triliun, yang bersumber dari penurunan GWM rupiah sebesar Rp102 triliun dan tidak mewajibkan tambahan Giro untuk pemenuhan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sebesar Rp15,8 triliun. Kebijakan QE akan dapat memberikan dampak yang efektif ke sektor riil dengan dukungan dari stimulus fiskal, antara lain melalui implementasi jaring pengaman sosial, insentif industri termasuk subsidi KUR dan program bantuan sosial lainnya serta dukungan rektrukturisasi kredit,” tutur Perry WarjiyoEdi