Dukungan Terhadap Pemasar Asuransi Saat Pandemi Covid-19

   Ketika wabah Covid-19 terus menyebar, pemerintah telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menghimbau semua kegiatan dilakukan dari rumah. Banyak sektor usaha terkena imbasnya, salah satunya industri asuransi jiwa. Tenaga pemasar asuransi yang menjadi ujung tombak perusahaan asuransi, terpaksa tidak dapat memasarkan produk dengan bertatap muka langsung kepada calon nasabah. Sementara di tengah pandemi ini bisnis harus tetap beroperasi.

       Saat ini pelaku bisnis dituntut mampu beradaptasi menjalankan kegiatan bisnisnya dengan protokoler kesehatan sesuai peraturan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Untuk menyiasati
kondisi saat ini, Otoritas Jasa keuangan (OJK) memberikan stimulus dengan melakukan penyesuaian teknis pelaksanaan pemasaran Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi (PAYDI) selama pandemi Covid-19. Penyesuaian itu adalah pemasaran PAYDI secara digital, yakni melalui video conference atau video call, bagi perusahaan asuransi konvensional maupun syariah.

         Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Riswinandi menjelaskan, penyesuaian yang dimaksud yaitu dalam pemasaran PAYDI dengan menggunakan media komunikasi jarak jauh. “Tindak lanjut pertemuan langsung secara tatap muka dapat dilakukan melalui sarana digital atau media elektronik seperti video conference, video call atau kombinasi dari media dimaksud,” ujarnya dalam keterangan resmi, 29 Mei 2020.

         Lebih lanjut Riswinandi menuturkan bahwa tanda tangan basah atas surat pernyataan bahwa calon pemegang polis, tertanggung, atau peserta telah memperoleh penjelasan dan memahami manfaat, biaya, dan risiko produk asuransi yang ditawarkan, dapat diganti dengan tanda tangan elektronik sebagaimana diatur dalam ketentuan perundangan mengenai informasi dan transaksi elektronik (ITE). 

       Dalam penerapan penyesuaian tersebut, menurutnya, OJK memberi persyaratan yang harus dipenuhi yaitu pertama, memiliki sistem informasi dan infrastruktur yang memadai dengan memenuhi prinsip kerahasiaan, integritas, ketersediaan, keaslian, tidak dapat diingkari, data yang disajikan dapat diandalkan, keamanan, pemeliharaan jejak audit, konsistensi dan akurasi. Kedua, memiliki surat pernyataan dari vendor teknologi informasi (TI) yang digunakan perusahaan dan direktur yang membawahi fungsi manajemen risiko yang menyatakan bahwa sistem informasi dan infrastruktur yang digunakan telah memadai. Ketiga, memiliki standar operasi dan prosedur (SOP) yang mendukung pelaksanaan pemasaran secara digital atau elektronik. Keempat, memiliki pernyataan persetujuan dari calon pemegang polis.

        Kemudian, kelima, melakukan dokumentasi dalam bentuk rekaman video dan audio. Keenam, memiliki infrastruktur yang mendukung proses otentikasi tanda tangan elektronik. Ketujuh, ikhtisar polis tetap disampaikan dalam bentuk hardcopy sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 23/POJK.05/2015 tentang Produk Asuransi Dan Pemasaran Produk Asuransi.

        Selain persyaratan tersebut, OJK juga meminta agar seluruh proses pemasaran dan penutupan polis asuransi secara digital atau elektronik harus memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai informasi dan transaksi elektronik (ITE), memenuhi kewajiban perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan dan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT). “Penerapan atas penyesuaian teknis pelaksanaan pemasaran PAYDI ini bersifat sementara dan mulai berlaku sejak 27 Mei 2020 sampai penetapan status keadaan tertentu darurat bencana wabah penyakit akibat Covid-19 dinyatakan berakhir oleh pemerintah,” ujar Riswinandi

Dukungan Perusahaan
         CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman menjelaskan, pandemi Covid-19 tidak menghambat perusahaan dalam memasarkan polis asuransi. Generali Indonesia akan lebih mengoptimalkan tenaga pemasar untuk memasarkan produk terbaru, termasuk merekrut tenaga pemasar baru dari para karyawan yang terkena PHK. “Meski pemasaran tidak akan dilakukan secara tatap muka, melainkan melalui sarana digital dengan memanfaatkan aneka platform media sosial yang ada. Sekarang kami sedang gencar melakukan pemasaran, serta merekrut orangorang yang terkena PHK dapat bergabung menjadi agen,” ujarnya kepada Media Asuransi.

        Menurut Edy, penjualan unitlink sudah dapat dilakukan tanpa bertatap muka langsung, cukup dengan video call. OJK telah merelaksasi penjualan produk asuransi unitlink yang dapat dilakukan tanpa tatap muka langsung. Perusahaan pun telah menjadwalkan berbagai training kepada tenaga pemasar agar proses atau tahapan penjualan unitlink dapat dilakukan secara digital atau tanpa tatap muka. “Adanya kebijakan OJK memperbolehkan penjualan unitlink secara daring, akan menjadi strategi baru bagi perusahaan untuk terus bisa memberikan perlindungan asuransi
kepada masyarakat memasuki kondisi new normal,” jelasnya.

         Dia katakan, saat diterapkan PSBB 100 persen karyawan Generali Indonesia bekerja dari rumah. Pemberlakuan tersebut tidak hanya kepada karyawan, tapi juga kepada para agen. “Karena buat kami keselamatan mereka adalah yang utama. Walaupun work from home, kami terus memastikan karyawan dan tenaga pemasar tetap aktif dan produktif meski seluruh aktivitas dari rumah. Di saat yang sama, digitalisasi terus diperkuat untuk mendukung kinerja perusahaan, karena seluruh proses kerja dan layanan nasabah sudah bisa dilakukan secara online,” jelasnya. “Selain itu, saat pandemi ini kami fokus pada produk-produk tradisional yang simple, mudah, cepat, tanpa tanpa tatap muka. Strategi ini masih terus bisa berlanjut saat kondisi new normal,” imbuh Edy Tuhirman.

          PT Bhinneka Life Indonesia juga menyambut positif kebijakan yang telah dikeluarkan oleh OJK, agar industri asuransi dapat tetap survive dan terus memberikan layanan optimal kepada nasabah dan agen pemasar. Melalui strategi aktivitas komunikasinya, perusahaan terus mensosialisaikan pencegahan penyebaran virus korona kepada karyawan, nasabah, tenaga pemasar, serta masayarakat Indonesia. “Melalui campaign,
perusahaan diharapkan juga mampu memberikan semangat positif untuk mengajak seluruh tenaga pemasar Bhinneka Life agar dapat tetap menjalankan tugasnya memberikan sosialisasi dan edukasi pentingnya memiliki asuransi jiwa kepada masyarakat, dengan tetap menjaga jarak melalui sistem non face to face selling,” kata Direktur Operational & Marketing Bhinneka Life Lina Bong di Jakarta, pertengahan Mei lalu.

          Sebagai bentuk kepedulian kepada agen pemasarnya, perusahaan memberikan voucher belanja elektronik senilai Rp200 ribu kepada 1.500 agen pemasar berprestasi dari sekitar 13 ribu agen yang dimiliki. “Voucher tersebut diharapkan mampu membantu tenaga pemasar dalam memenuhi sembako dan kebutuhan seharisehari,” ujar Lina Bong.

      Sementara itu Presiden Direktur PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) Jens Reisch, menegaskan kesiapannya segera menerapkan kebijakan stimulus lanjutan di sektor industri keuangan nonbank dengan memberikan penyesuaian pelaksanaan teknis pemasaran Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi (PAYDI). Prudential Indonesia menyambut baik kebijakan OJK terkait penyesuaian pelaksanaan teknis pemasaran PAYDI.

         Prudential Indonesia melihatkebijakan ini dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kesehatan dan finansial yang makin meningkat, terutama semakin banyaknya penyakit bermunculan, salah satunya Covid-19, dan juga melihat kebutuhan hidup kian beragam. “Kebijakan ini sejalan dengan transformasi digital Prudential Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, yang telah mengembangkan kemampuan digital yang terintegrasi. Untuk itu, kami bersemangat mulai mengimplementasikan peraturan ini,” ujar Jens.

         Menurutnya, komitmen transformasi digital Prudential Indonesia yang end-to-end telah memampukan perusahaan untuk melakukan seluruh proses, mulai dari pendaftaran dan sertifikasi tenaga pemasar baru, penjualan produk, persetujuan dan penerbitan polis, sampai proses klaim, secara online. Sebagai wujud kesiapan infrastruktur digital, sejak 1 April 2020 Prudential Indonesia telah menjalankan penjualan secara tatap muka virtual untuk dua produk asuransi jiwa tradisional yaitu PRUCinta dan PRUCritical Benefit 88. “Lebih dari 260.000 ribu tenaga pemasar juga siap mendukung pemanfaatan teknologi, serta melayani penjualan produk asuransi melalui tatap muka secara virtual untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat di mana pun berada,” pungkas Jens. W. Widiastuti