Kebijakan LTV Akan Dongkrak Kredit Konsumer

Bank Indonesia (BI) akan melonggarkan aturan Loan To Value (LTV) Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dengan pelonggaran tersebut, pinjaman perbankan untuk KPR akan lebih tinggi sehingga uang muka atau down payment (DP) yang dibayar masyarakat bisa lebih murah. Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung memastikan, aturan ini akan keluar pada bulan Agustus 2016. “Aturan LTV tentu saja berlaku di bulan Agustus, tanggalnya belum dipastikan dan PBI akan keluar segera,” ujarnya di Jakarta, 21 Juli 2016.
Walaupun aturan ini belum keluar, kalangan perbankan sudah bersiap menyambut lonjakkan permintaan KPR. Hal ini dimungkinkan karena BI telah melakukan sosialisasi mengenai rencana pelonggaran (relaksasi) aturan LTV ini sejak Mei 2016. “Sosialisasi, saya kira dua bulan lalu sudah kita sampaikan esensi rasionya, juga inden rumah kedua,” jelas Juda. Upaya ini dilakukan BI untuk mendorong pertumbuhan penyaluran KPR yang saat ini dinilai lambat. Kemungkinannya, DP yang nantinya harus disetor oleh nasabah turun dari semula 20 persen menjadi rata- rata 15 persen, sesuai dengan tipe dan jenis rumah yang diambil.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengungkapkan bahwa pelonggaran LTV membuat penyaluran kredit, khususnya KPR BCA untuk tahun ini dapat terdongkrak naik. Dengan demikian, BCA punoptimistis target penyaluran kredit bisa lebih tinggi. “Salah satu yang bisa mendorong target lebih tinggi, karena LTV lebih longgar,” kata Jahja di Jakarta, akhir Juni 2016. Dia memperkirakan KPR BCA dapat tumbuh hingga lebih dari 10 persen sampai akhir 2016, karena relaksasi ketentuan LTV tersebut dapat menambah penyaluran KPR hingga Rp4 triliun.
Saat memaparkan kinerja BCA kuartal kedua 2016, Jahja menjelaskan bahwa outstanding portofolio kredit per Juni 2016 tercatat sebesar Rp387,08 triliun, naik 11,5 persen (year on year/yoy) dibandingkan per Juni 2015 sebesar Rp347,10 triliun. Kredit korporasi tumbuh 19,6 persen yoy, kredit komersial dan usaha kecil & menengah (UKM) meningkat 6,5 persen, sementara itu kredit konsumer naik 9,1 persen. “Kenaikan kredit konsumer ini didukung oleh produk pinjaman yang kompetitif. Portofolio kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) masing-masing naik 8,5 persen yoy menjadi Rp61,7 triliun dan naik 11,4 persen yoy menjadi Rp34,0 triliun. Sedang outstanding kartu kredit mencapai Rp9,5 triliun, atau meningkat 5,5 persen,” jelas Jahja.
Jahja mengatakan bahwa pelonggaran LTV berdampak positif. Menurut dia, selama ini thresholdnya 10 persen. “Kalau DP-nya lebih kecil, maka kemampuan masyarakat untuk mengambil KPR akan semakin besar jika dibandingkan dengan misalnya DP 30 persen,” katanya menjawab pertanyaan wartawan saat paparan kinerja di Jakarta, 20 Juli 2016. Lebih lanjut dijelaskan bahwa BCA tela melakukan revisi (naik) atas target KPR saat melakukan revisi RBB (rencana bisnis bank) di bulan Juni lalu.
Direktur Konsumer BCA Henry Koenaifi menyatakan bahwa pelonggaran LTV ini akan berdampak signifikan bagi pertumbuhan KPR BCA di waktu mendatang. “Apalagi kelonggaran LTV untuk rumah kedua. Kita tahu kebiasaan masyarakat kita, jika penghasilan telah meningkat dan jumlah keluarga bertambah, mereka cenderung untuk membeli rumah kedua yang akan ditempati,” katanya.
Sementara itu Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono saat paparan kinerja di kantornya, 25 Juli 2016 mengatakan bahwa kredit yang disalurkan BTN selama semester pertama 2016 sebesar Rp126,12 triliun, tumbuh 18,39 persen dibandingkan semester pertama 2015 sebesar Rp149,31 triliun. “Pertumbuhan kredit ini didorong oleh penyaluran kredit ke sektor perumahan sebesar Rp135,74 triliun, tumbuh 20,23 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp112,9 triliun,” katanya.
Maryono menyampaikan keyakinannya bahwa target penyaluran KPR subsidi tahun ini sebesar 570 ribu unit atau setara Rp60 triliun bisa tercapai. Hal ini dimungkinkan karena permintaan perumahan itu masih cukup baik, khususnya di segmen menengah ke bawah, khususnya di KPR subsidi. Walaupun demikian dia mengingatkan bahwa dampak dari pelonggaran LTV tidak akan terjadi seketika. “Mungkin baru akan terasa pada akhir bulan ini atau bulan depan,” katanya.
Perkiraan serupa juga pernah disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad. Bahkan dia memperkirakan pelonggaran LTV baru berdampak terhadap pertumbuhan KPR pada kuartal ketiga 2016. “Saya kira memerlukan 1-2 bulan. Kita berharap kuartal ketiga meningkat,” jelasnya akhir Juni 2016. Tentu saja bukan hanya harapan OJK, melainkan juga harapan seluruh bank bahwa nantinya penyaluran kredit konsumer akan Loan To Value (LTV) KPR di longgarkan, perbankan bersiap menyambut lonjakkan permintaan terdongkrak. S. Edi Santosa