Pesan Untuk PR: Adapt or Die

Perubahan-perubahan terus terjadi dengan cepat, baik karena teknologi maupun karena pandemi. Dunia public relations (PR) pun mau tidak mau harus
melakukan perubahan. Penulis buku ini mengingatkan bahwa yang konsisten adalah perubahan.

Agung Laksamana, yang menjadi Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) selama dua periode 2014-2017 dan 2017-2020, menulis buku menarik yang berjudul ‘Adapt or Die, Navigating a New World of PR’, yang terbit pada Desember 2020.

Pengalaman panjang dalam dunia public relations yang dijalaninya membuat penulis buku ini memberikan perspektif atau pandangan yang nyata, bukan hanya teori. Dia saat ini bekerja untuk April Group, merupakan perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia, sebagai Director Corporate Affairs. Sebelumnya pernah juga bekerja untuk industri jasa keuangan, seperti HSBC Indonesia dan juga sebagai Director Country Corporate Affairs Head, Citibank Indonesia, Jakarta.

Penulis buku ini mengungkapkan bahwa buku yang ditulisnya menitikberatkan pentingnya beradaptasi sebagai sebuah keharusan, yang tidak bisa ditawar lagi oleh praktisi PR. Lebih dari itu, katanya, dunia PR saat ini sudah dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity), termasuk disrupsi, pandemi, sehingga baik langsung maupun tidak langsung sudah berhadapan dengan teknologi Artifical Intelligence (AI) dan robotik.

Penulis yang menyelesaikan sekolah menengah di Hays High School, di Negara Bagian Kansas, Amerika Serikat, kemudian melanjutkan kuliah S1 dan S2 di Fort Hays St. University, Kansas, Amerika Serikat, di bidang Communication Studies.

Agung Laksamana mengakui sudah banyak profesi yang “tergerus oleh kemajuan teknologi”, salah satunya adalah PR. Kemunculan sosok-sosok “berpengaruh” di media sosial, katanya, membuka peluang sekaligus tantangan bagi praktisi PR. Kehadiran influencer (pemengaruh), key opinion leader (pemuka pendapat), SJW (Social Justice Warrior), buzzer (pendengung), selegram, seletweet, dan lainnya mampu “menghimpun massa” dan menyampaikan pesan tertentu untuk menjadikan sebuah gerakan yang cukup masif di media sosial, bahkan di dunia nyata.

Isi buku yang terdiri dari lima bab ini menarik. Karena dalam Bab 1 dibicarakan mengenai A Whole New World. Dan dalam Bab 5 atau terakhir dibicarakan mengenai What PR Will Look Like in The Future.

Buku ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, meskipun judul buku dan tiap bab di dalamnya diberi judul dalam Bahasa Inggris. Yang penting, isinya mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dan mempengaruhi industri PR, termasuk di masa yang akan datang. Mucharor
Djalil