Optimisme Pialang Asuransi dan Reasuransi di Tahun 2021

Sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo mengumumkan mengenai adanya warga negara Indonesia yang terkena pandemi Covid-19 awal Maret 2020, kegiatan beberapa sektor bisnis mengalami penurunan. Tak terkecuali industri asuransi, termasuk pialang asuransi dan reasuransi di Indonesia. Kini, setelah hampir setahun berlalu, tampaknya para pelaku bisnis pialang asuransi dan reasuransi lebih siap dan bahkan lebih optimistis di tengah pandemi Covid-19. Mengapa?

Pialang asuransi dan reasuransi, menurut tokoh industri pialang asuransi dan reasuransi Indonesia Fred Iswara, menjadi salah satu penggerak pasar. Ia mengatakan bahwa suku premi (premium rate) yang tidak wajar tingginya untuk hal-hal yang diasuransikan (insureable interests) akan menjadi wajar kembali di pasar dengan adanya pialang asuransi.

Fred Iswara adalah Sekretaris Jenderal Asosiasi Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APPARINDO) ketika pertama kali asosiasi perasuransian itu berdiri pada 1978. Ia adalah salah satu pendiri perusahaan pialang asuransi PT Mitra, Iswara & Rorimpandey, yang kalau di pasar asuransi dikenal dengan MIR, Ltd., yang berdiri 1975.

Sebelumnya Fred Iswara adalah Dosen di Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran, Bandung, menjadi asisten Profesor Mochtar Kusumaatmadja. Kini perusahaan pialang asuransi yang didirikannya telah punya juga anak perusahaan pialang reasuransi. Juga mempunyai pialang asuransi berbasis teknologi informasi, yang melakukan bisnisnya secara online.

Industri pialang asuransi dan reasuransi di Indonesia sejak adanya Covid-19 diumumkan resmi oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020 memang terjadi penurunan kegiatan, sebagaimana pertumbuhan ekonomi yang juga mengalami penurunan kegiatan. Karena, bagaimana pun, industri asuransi memang mengikuti pertumbuhan ekonomi.

Dampak pandemi Covid-19 bagi pialang asuransi maupun reasuransi memang terasa. Hal ini, misalnya, diungkapkan oleh Presiden Direktur PT Energi Mandiri International atau EnergyRe, M Jusuf Adi, atau yang sering dipanggil Adi Sofyadi.

Menurut Adi Sofyadi, pada awalnya perusahaan pialang reasuransi yang dipimpinnya konsentrasi pada pasar khusus oil & gas insurance business. Tapi seiring dengan perkembangan yang ada, maka bisnis asuransi yang ditangani perusahaan pialang asuransi ini tidak hanya oil & gas, tapi juga meluas ke sumber daya alam. “Ketika oil and gas insurance business mengalami penurunan, maka kami melakukan redefinisi mengenai bisnis yang kami lakukan. Yaitu ke sumber daya alam secara luas,” katanya kepada Media Asuransi, baru-baru ini.

Sehingga, Adi Sofyadi menjelaskan, kegiatan perusahaan pialang ini melingkupi juga kelistrikan, pertambangan, pupuk dan sebagainya. “Secara korporasi, karena bisnisnya besar dan secara nasional kapasitasnya masih terbatas, sehingga masih perlu penempatan risiko ke luar negeri,” kata eksekutif pialang reasuransi yang menjadi Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APPARINDO).

Adi Sofyadi merasa bersyukur bahwa perusahaan pialang yang dipimpinnya masih dapat survive di saat pandemi Covid-19 pada 2020. Pihaknya sudah menyampaikan rencana bisnis ke depan untuk 2021. “Di samping kami menyampaikan rencana bisnis ke OJK, kami juga melakukan kegiatan bisnis dengan lebih efisien,” kata tokoh pialang asuransi dan reasuransi, yang berlatarbelakang keluarga diplomat ini. Ia mengungkapkan EnegyRe masih menghasilkan laba selama 2020, meskipun diakui labanya mengalami penurunan di tahun tersebut.

Sedangkan menurut Presiden Direktur PT Perisai Bhakti Rahardjo, Bambang Suseno, pandemi Covid-19 berdampak juga pada rerata perusahaan pialang asuransi di Indonesia, yang bisnisnya tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari pandemi Covid-19. “Pandemi Covid-19 yang terjadi secara tiba-tiba sejak tahun 2020 yang lalu hingga saat ini dan berdampak masif, tentunya menjadi prioritas yang utama untuk dievaluasi guna dicarikan solusi agar usaha tetap bisa bertahan dan bahkan berkembang,” kata eksekutif pialang asuransi, yang juga Ketua Umum Asosiasi Ahli Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APARI).

Sementara itu, Direktur PT Mitra Jasa Pratama Insurance Brokers, Ian Ramelan, mengatakan bahwa perusahaan pialang asuransi yang dipimpinnya sejak Oktober 2019 sudah berencana melakukan pemasaran secara digital dengan bekerja sama Qoala Insurtech. “Jadi ketika pandemi Covid- 19 mulai melanda di NKRI, kami masih mengalami pertumbuhan,” kata eksekutif pialang asuransi, yang pernah menjadi Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Perasuransian Indonesia (LSP-PI), dan aktif di APARI.

Dampak pandemi Covid-19 juga diakui oleh Presiden Direktur PT Adi Antara Asia, Ahmad Oey Liong. PT Adi Antara Asia adalah perusahaan pialang asuransi. Ia mengungkapkan bahwa harus diakui banyak yang kesulitan dalam industri pialang asuransi karena memang kegiatan ekonomi menurun. “Memang kami mengalami penurunan dalam kegiatan bisnis. Tapi kami bersyukur karena per Desember 2020 Adi Antara Asia masih membukukan laba, walaupun labanya turun,” katanya kepada Media Asuransi, baru-baru ini.

 

2021 Optimistis Lebih Baik
Setelah mengalami pandemi Covid- 19 pada 2020, tampaknya pelaku bisnis di industri pialang asuransi dan reasuransi lebih optimistis pada tahun 2021.

Adi Sofyadi dari EnergyRe mengatakan, bahwa bisnis reasuransi yang digarap oleh perusahaan pialang reasuransi yang dipimpinnya mempunyai rasio klaim yang rendah. “Mungkin karena kegiatan di sumber daya alam mengalami penurunan karena pandemi Covid-19, maka klaimnya juga menurun,” katanya.

Untuk tahun 2021, Adi Sofyadi mengungkapkan, rencana kegiatan bisnis EnergyRe tidak banyak perubahan dengan yang ada di 2020. “Pada rencana bisnis 2021, kami tidak agresif, tidak ekspansif. Kami mencoba me-maintain bisnis yang ada, dengan pola kerja yang lebih efisien,” katanya.

Dia mengatakan bahwa pihaknya menyediakan fasilitas-fasilitas dukungan reasuransi, sehingga ketika dibutuhkan telah siap untuk dipakai oleh perusahaan asuransi yang menjadi kliennya. “Karena Covid-19, perusahaan reasuransi di pasar global juga membutuhkan konfirmasi yang cepat ketika ada kebutuhan reasuransi. Mereka juga sebagian besar melakukan work from home. Jadi agar cepat, mereka sudah menyediakan fasilitas-fasilitas dukungan reasuransinya. Misalnya, ada yang bersedia bahwa kalau untuk lini bisnis engineering, mereka menyediakan dukungan 20 persen,” jelasnya. Ia optimistis setidaknya di tahun 2021 diharapkan bisnis Energy-Re dapat tumbuh sekitar 5 persen.

Bambang Suseno dari PT Perisai Bhakti Rahardjo, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan, pelaku bisnis pialang asuransi perlu memutar (pivoting) cara berbisnisnya sesuai dengan dinamika yang terjadi. “Situasi bisnis yang berbeda saat ini tidak akan maksimal hasilnya bila dilakukan dengan cara berbisnis yang sama,” kata eksekutif pialang asuransi yang juga penyintas Covid-19.

Sedangkan Ian Ramelan dari Mitra Jasa Pratama mengungkapkan bahwa pihaknya optimistis, apalagi sekarang sudah ada vaksin untuk Covid-19. “Kita harus semangat walau masih ada Covid-19. Memang kita harus menciptakan kreativitas prospek apa yang cocok untuk klien lama dan klien baru. Misalnya di bidang kesehatan, yang diutamakan yang menjamin risiko Covid-19. Pembayaran premi juga harus bisa dicicil dan melihat kondisi ekonomi klien,” katanya.

Sementara itu, Ahmad Oey Liong dari PT Adi Antara Asia mengungkapkan tahun 2021 lebih baik dari tahun 2020. “Karena kita tidak terkejut lagi dengan adanya Covid-19 dan lebih siap, apalagi juga sudah ada vaksin untuk Covid-19,” katanya. Lebih dari itu, ia melanjutkan, perlu ketekunan dari para pelaku bisnis pialang asuransi dalam menghadapi situasi seperti pandemi Covid-19.

Tampaknya, para pelaku bisnis pialang asuransi dan reasuransi optimistis tahun 2021 lebih baik dibandingkan tahun 2020. Semoga harapan menjadi kenyataan. Mucharor Djalil