Indeks Saham serta Rupiah Terdampak Brexit dan Tax Amnesty

Keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa melalui referendum pada tanggal 23 Juni 2016, yang dikenal dengan sebutan Brexit (British Exit), langsung berdampak pada bursa global dan nilai tukar (kurs) mata uang. Indonesia juga
terkena pengaruhnya yakni terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang global terutama dolar AS.
Dampak Brexit terhadap bursa saham di Indonesia langsung terlihat pada penutupan perdagangan 23 Juni 2016, saat IHSG ditutup melemah 22,543 poin ke level 4.874. Sementara dolar AS berada di angka Rp13.228. Keesokan harinya tanggal 24 Juni 2016, IHSG ditutup turun 39,740 poin ke 4.834. Sedangkan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah di level Rp13.412 per dolar AS. Sebagai perbandingan, sehari sebelum pengumuman Brexit, pada penutupan perdagangan bursa tanggal 22 Juni 2016 IHSG ditutup menguat 18,138 poin ke level 4.896 dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp13.270 per dolar.
Indeks yang melemah bukan hanya terjadi pada bursa saham di Indonesia, karena mayoritas bursa global juga terkoreksi pada perdagangan tanggal 24 Juni 2016. Penyebabnya, terjadi kepanikan berlebihan di kalangan investor global yang tidak memperkirakan bahwa Inggris akhirnya harus keluar dari Uni Eropa. Khusus di bursa Indonesia, meskipun indeks terkoreksi, investor asing justru mengakumulasi pembelian saham dengan mencatatkan net buy Rp587,29 miliar. Bahkan, investor asing membukukan net buy Rp1,43 triliun sepanjang pekan itu.
Bahkan berdasar rilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 20 Juli 2016, disebutkan bahwa situasi pasar keuangan global yang dipicu oleh Brexit tidak memberikan dampak negatif yang persisten bagi pasar keuangan domestik sebagaimana yang dialami oleh pasar keuangan negara-negara maju. Hal ini terlihat dari data pasar modal Indonesia sepanjang Juni 2016 masih mencatat net buy oleh nonresiden (asing) sebesar Rp22 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp8,8 triliun di pasar saham. Arus dana yang masuk juga turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar yang mengalami apresiasi sebesar 1,85 persen atau ditutup pada level Rp13.088 per dolar AS, pada 19 Juli 2016.
Di sisi lain, OJK melihat bahwa kondisi perekonomian akan dapat tumbuh lebih baik, terutama dengan memanfaatkan momentum positif kebijakan tax amnesty. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan berada pada kisaran 4,9-5,2 persen. Sentimen positif dari pengumuman tax amnesty ini telah mempengaruhi pelaku pasar keuangan nasional. Hal ini terlihat dari nilai dan frekuensi transaksi di pasar modal mengalami peningkatan.
Sentimen positif tax amnesty, menurut Direktur Utama, Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio terus terlihat di pasar saham. Salah satu tandanya adalah pada perdagangan pertengahan Juli, frekuensi perdagangan mencapai yang tertinggi sepanjang sejarah BEI yakni hingga 377.000 per hari. “Minggu kemarin bursa mencapai all time high frequency, mengalahkan semua negara ASEAN. Average kita naik 377.000 frekuensi per hari. Untuk informasi, Singapura hanya 74.000 per hari, Malaysia 153.000, Filipina 56.000,” ujar Tito saat rapat dengan Komisi XI DPR, 20 Juli 2016.
Lebih lanjut ditambahkan bahwa BEI juga mencatatkan kapitalisasi pasar tertinggi pada hari itu. “Hari ini kita memecahkan all time high untuk market cap mencapai Rp5.670 triliun dan menariknya adalah kita mengalahkan Thailand, Malaysia, Filipina jadi sudah terasa market kencang sekali,” tuturnya. Hal ini terjadi karena ada optimisme bahwa akan ada dana dalam jumlah yang akan masuk ke pasar modal, kemudian potensi dana repatriasi, dan proses IPO (initial public offering/penawaran saham perdana).
Kembali ke masalah dampak Brexit, potensi pelemahan indeks saham dan kurs, sedikit banyak juga tertahan oleh libur perdagangan saat Lebaran. Sehingga hingar-bingar di lantai bursa global sebagai kelanjutan dampak Brexit, tidak dirasakan di Indonesia selama libur itu. Bahkan pada pekan ketiga Juli, boleh dikatakan bahwa dampak Brexit nyaris tak terlihat lagi.
Hal ini terjadi antara lain akibat sentimen positif tax amnesty yang juga memberikan pengaruhnya pada saat yang bersamaan. Sehingga pada hari terakhir perdagangan di pekan ketiga Juli, IHSG di level 5.194 sedangkan dolar AS di level Rp13.103. Lebih baik dibandingkan saat pengumuman Brexit di pekan ketiga Juni saat IHSG 4.834 dan dolar AS di level Rp13.391. Mudah-mudahan sentimen positif akan terus berlanjut seiring dengan rilis data keuangan emiten per kuartal kedua 2016 yang biasanya diumumkan di akhir Juli. S. Edi Santosa