Kinerja Saham Syariah Lebih Baik

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan Daftar Efek Syariah (DES) yang berisi 345 efek jenis saham emiten dan perusahaan publik, serta efek syariah lainnya. Lebih banyak jika dibandingkan jumlah DES pertama tahun ini yang dikeluarkan OJK pada akhir Mei 2016 dan berlaku mulai 1 Juni 2016, sebanyak 321 efek. Penerbitan DES kedua untuk tahun 2016 ini berdasar pada Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor: Kep-56/D.04/2016 tentang Daftar Efek Syariah yang akan mulai berlaku pada 1 Desember 2016. “Jumlah 345 efek ini merupakan angka DES
tertinggi yang selama ini pernah tercatat,” kata Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I OJK Sarjito, saat jumpa pers pengumuman DES di Jakarta, akhir November2016.
Dari 345 saham emiten dan perusahaan publik tersebut, tiga diantaranya merupakan entitas syariah yakni PT Bank Panin Syariah Tbk, PT bank Muamalat Tbk, dan PT Sofyan Hotel Tbk. Sedang 342 saham lainnya merupakan emiten dan perusahaan publik yang tidak menyatakan bahwa kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah, namun memenuhi kriteria sebagai Saham Syariah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah. Dari jumlah 345 tersebut, yang terbanyak berasal dari sektor Perdagangan, Jasa, dan Investasi sebanyak 87 saham (25,2 persen dari total DES), diikuti sektor Properti, Real Estate dan Konstruksi Bangunan sebanyak 58 saham (16,81 persen), serta dari sektor Industri Dasar dan Kimia 52 saham (15,07 persen).

cap-market

Menurut Sarjito, jumlah efek syariah yang ada dalam DES periode kedua 2016 ini bukan hanya lebih banyak dibandingkan DES periode pertama 2016, melainkan juga merupakan yang tertinggi sejak tahun 2007. “Salah satu faktornya karena laporan keuangan. Kami berharap ke depan jangan sampai turun,” katanya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa di periode pertama 2007, DES tercatat sebanyak 174 efek dan periode kedua 2007 sebanyak 183 efek.
“Jumlah tersebut terus mengalami peningkatan dan pada 2013 pernah tercatat mencapai 336 efek di periode kedua dan pada periode pertama sebanyak 310 efek,” tuturnya. Berikutnya, pada periode pertama 2014 tercatat ada 322 efek kemudian bertambah menjadi 334 efek di periode kedua 2014. Sementara itu, pada tahun 2015 tercatat DES periode pertama dan periode kedua jumlahnya sama, yakni 331.
Menurut Sarjito, DES ini merupakan panduan investasi bagi manajer investasi pengelola reksa dana syariah, asuransi syariah, dan investor yang mempunyai keinginan untuk berinvestasi pada portofolio efek syariah. Selain itu juga referensi bagi penyedia indeks syariah, seperti PT
Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menerbitkan Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). “Penerbitan keputusan tersebut didasarkan pada hasil penelaahan berkala yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan atas Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik, data dan informasi pendukung, serta Daftar Efek Syariah yang telah ditetapkan sebelumnya,” jelasnya. Dilihat dari performanya, pertumbuhan saham syariah di tahun ini, hingga November 2016 cukup baik, di atas pertumbuhan konvensional. “Di sini kelihatan bahwa saham-saham yang masuk kategori syariah ini memang memberikan yield yang lebih menarik,” kata Sarjito. Sepanjang tahun ini, dari Januari hingga 25 November (year to date/ytd) pertumbuhan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan indeks saham lainnya. Menurut Sarjito, ISSI tercatat sebesar 168,59 atau tumbuh 16,22 persen (ytd), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat sebesar 11,52 persen (ytd) menjadi 5.122,1. Pertumbuhannya juga lebih tinggi dibandingkan Jakarta Islamic Index (JII) yang tumbuh sebesar 12,37 persen (ytd) menjadi 677,97, serta pertumbuhan indeks LQ45 yang tercatat sebesar 7,80 persen (ytd) menjadi 853,84.
Dari sisi pertumbuhan kapitalisasi pasar, ISSI juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi yakni 19,24 persen (ytd) sehingga mencapai Rp3,10 triliun. Pertumbuhan kapitalisasinya hanya kalah dari LQ45 yang tumbuh 23,80 persen (ytd) menjadi Rp3,65 triliun. Pertumbuhan kapitalisasi IHSG merupakan yang terendah yakni hanya 13,78 persen (ytd) namun nilainya merupakan yang terbesar yakni Rp5,54 triliun. Sedang kapitalisasi saham JII tumbuh 15,72 persen (ytd) dengan nilai mencapai Rp2,01 triliun. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, kinerja saham syariah lebih tinggi dibandingkan IHSG. Selain itu, dari 535 jumlah emiten yang memperdagangkan sahamnya di lantai bursa, sebanyak 61 persen atau 311 emiten merupakan saham berbasis syariah. Hal ini menunjukkan bahwa geliat ekonomi syariah di Indonesia memiliki peminat dan porsi yang cukup besar. “Performance saham-saham syariah memberikan kinerja return year to date sebesar 18 persen, sedangkan IHSG tumbuh 13 persen,” kata Direktur BEI Alpino Kianjaya di Jakarta, 20 November 2016.
Berdasarkan data BEI, per 16 November 2016 saham syariah memiliki cakupan pasar sekitar 56 persen yakni Rp3,142 triliun dari total market cap yang mencapai Rp5,607 triliun. Selain itu, nilai transaksi saham syariah juga tercatat cukup besar yakni 57 persen dan saham nonsyariah sebanyak 43 persen. Saham syariah juga mencatatkan volume transaksi paling tinggi yakni 51 persen, dibandingkan dengan saham nonsyariah yang jumlahnya mencapai 49 persen. S. Edi Santosa