Reksadana Diproyeksikan Tumbuh di Semester Kedua 2020

      Pandemi Covid-19 telah menekan kinerja bursa saham global, termasuk Indonesia. Indeks saham berjatuhan seiring pelemahan ekonomi global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terjun bebas dari level 6.000-an di bulan Januari 2020 menjadi di level 4.000-an di bulan April-Mei 2020. Perlahan namun pasti, IHSG kembali naik menuju level 6.000-an di bulan Juni 2020. Di sisi lain, ada satu jenis investasi di pasar modal, yang ternyata tidak terlalu terdampak pandemi ini, yakni reksadana. Walau terjadi penurunan jumlah dana kelolaan (assets under management atau AUM) selama semester pertama 2020, jumlah produk reksadana dan investor reksadana ternyata meningkat.

     Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyebutkan bahwa jumlah investor reksadana per akhir Juni 2020 mencapai 2,19 juta. Angka ini naik 23,73 persen secara year to date (ytd), dari periode akhir 2019 yang tercatat sebanyak sebanyak 1,77 juta investor. Penambahan jumlah investor reksadana ini lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan jumlah investor secara keseluruhan yang mengalami kenaikan sebesar 18
persen ytd.

     Jumlah investor reksadana yang mencapai 2,19 juta ini, setara dengan 75,52 persen dari total jumlah investor di pasar modal berdasar single investor identification (SID). Per akhir Juni 2020, BEI menyampaikan bahwa jumlah investor pasar modal mencapai 2,9 juta.

      Meningkatnya jumlah investor reksadana mendorong para manajer investasi merilis produk terbaru. Per 26 Juni 2020, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, total produk reksadana tercatat mencapai 2.217. Dengan demikian, selama satu semester ini, ada penambahan 36 produk baru atau tumbuh 1,65 persen ytd, dari posisi akhir 2019 sebanyak 2.181 produk. Padahal sejak Maret, pasar modal secara keseluruhan telah terimbas Covid-19.

     Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan bahwa dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, industri reksadana masih akan terus berkembang seiring tren pertumbuhan jumlah investor baru yang semakin meningkat. Menurut dia, pertumbuhan NAB (nilai aktiva bersih) reksadana, seperti reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap, masih tinggi. “Dalam kondisi pasar saat ini investor cenderung beralih ke reksadana dengan profil risiko investasi yang konservatif,” kata Jemmy dalam diskusi secara virtual, beberapa wktu lalu.

     Data OJK menunjukkan bahwa dana kelolaan (assets under management atau AUM) industri reksadana pada Juni 2020 tercatat sebesar Rp482,54 triliun. Terjadi peningkatan sekitar Rp8 triliun dibandingkan posisi dana kelolaan industri reksadana pada Mei 2020 yang tercatat sebesar Rp474,2 triliun. Walau demikian, nilai AUM reksadana per Juni 2020 masih jauh di bawah nilai AUM reksadana per Desember 2019 yang tercatat sebesar Rp542,2 triliun.

     Data OJK juga menunjukka bahwa AUM reksadana yang per akhir Juni 2020 yang mencapai Rp482,5 triliun, meningkat 2,35 persen dibandingkan dengan nilai AUM reksadana per akhir Maret 2020. Peningkatan dana kelolaan reksadana sepanjang kuartal kedua tahun ini terjadi hampir di semua jenis reksadana yang dijual ke publik, termasuk jenis reksadana indeks. Reksadana indeks adalah reksadana saham yang meniru portofolio indeks acuannya. Misal, reksadana indeks ada yang mengacu pada LQ45, maka isi portofolio reksadana tersebut sama dengan saham-saham dalam LQ45.

     Berdasarkan data “Bareksa Mutual Fund Industry Data Market – Monthly Report June 2020” per akhir Juni 2020, dana kelolaan reksadana indeks per akhir Juni 2020 mencapai Rp7,45 triliun, naik 18,6 persen dibandingkan Rp6,28 triliun per akhir Maret 2020. Adapun secara bulanan, pada Juni terdapat peningkatan AUM sebesar 6,4 persen, atau merupakan peningkatan bulanan ketiga kali berturut-turut. Sedangkan dana kelolaan reksadana terproteksi naik secara bulanan dari Rp147,6 triliun pada Mei menjadi Rp148 triliun di Juni 2020.

Reksadana Syariah
     Berdasar data OJK, pada Juni 2020, market share AUM reksadana syariah mencapai 12,03 persen terhadap total dana kelolaan industri reksadana nasional. Kenaikan itu seiring gencarnya peluncuran produk baru reksadana syariah oleh perusahaan manajemen investasi. Hingga Juni 2020, market share produk reksadana syariah mencapai 12,7 persen.

     Kenaikan market share dana kelolaan cukup signifikan, dibandingkan akhir tahun lalu masih 9,9 persen. Kenaikan market share reksadana syariah yang cukup signifikan baru terjadi dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2010, market share-nya hanya 3,5 persen. Kemudian naik menjadi 4,05 persen di tahun 2015.

     Sedangkan sisi jumlah produk, pada tahun 2010 hanya ada 48 produk reksadana syariah kemudian menjadi 93 produk reksadana syariah pada tahun 2015, sedangkan per Juni 2020 jumlahnya mencapai 282 produk reksadana syariah. Sebagai perbandingan, secara keseluruhan jumlah produk reksadana pada tahun 2010 mencapai 612, kemudian naik menjadi 1.091 produk reksadana di 2015, dan pada Juni 2020 jumlah produk reksadana telah mencapai 2.217.

     Reksadana syariah pada dasarnya ialah reksadana yang pengelolaannya sesuai hukum syariat Islam. Sehingga reksadana jenis ini haram hukumnya untuk membeli saham-saham perusahaan yang bisnisnya dilarang dalam agama Islam seperti riba, minuman keras, dan rokok.

Proyeksi Pertumbuhan
     Memasuki semester kedua 2020, beberapa eksekutif perusahaan sekuritas menyatakan optimistis kondisinya akan lebih baik. Faktor utama adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi di kuartal ketiga dan keempat, dibandingkan dengan kuartal pertama dan kedua yang lalu. Hal ini dimungkinkan oleh kembali dibukanya aktivitas ekonomi, walau masih secara terbatas. Hal ini, menurut Direktur Utama BNI Asset Management (BNI AM) Reita Farianti, akan membuat pertumbuhan laba dari emiten di pasar modal yang sebelumnya mengalami mengalami tekanan di dua kuartal pertama tahun ini akan akan kembali pulih pada kuartal ketiga.

     Selain itu, penggerak pertumbuhan industri reksadana akan dipengaruhi oleh stimulus dari bank sentral di beberapa negara. Stimulus dalam bentuk pembelian surat berharga diperkirakan mengalir ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Di sisi lain, stimulus moneter dan fiskal serta bantuan-bantuan sosial yang dikeluarkan pemerintah, diharapkan dapat membangkitkan kinerja sektor riil, seperti industri pariwisata dan perhotelan.

     Reita Farianti memproyeksikan reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap memiliki peluang untuk terus naik seiring pemulihan ekonomi. Namun, kedua jenis reksadana ini takkan lepas dari volatilitas pergerakan aset dan penurunan nilai investasi. “Masih ada beberapa risiko, antara lain, potensi gelombang kedua Covid-19, Pemilu AS, trade war, serta risiko fiskal dan utang dari besarnya anggaran yang harus dialokasikan oleh pemerintah untuk membantu pemulihan ekonomi,” katanya.

     Head of Investment Avrist Asset Management (AM) Farash Farich yakin, semester kedua akan menjadi periode yang lebih baik untuk pasar modal. Faktor penyebabnya adalah kondisi terburuk ekonomi dan bisnis diperkirakan sudah terlewati, yakni pada kuartal kedua 2020. Walau demikian, dia berharap pengendalian penyebaran virus Covid-19 dapat lebih agresif. Pasalnya, sejak pembukaan kembali ekonomi jumlah kasus positif Covid-19 belum juga menurun.

     Menurut Farash, hal ini dapat menghambat pembukaan kembali ekonomi sehingga peluang perbaikan ekonomi dikhawatirkan masih akan rendah di semester kedua 2020. “Dengan demikian tambahan katalis untuk kenaikan harga efek juga minim dan kinerja reksadana pun akan terpengaruh,” ujarnya. Saat ini, tambahnya, peluang kenaikan harga efek yang berimbas ke gairah industri reksadana hanya ditopang oleh valuasi yang murah dan sentimen eksternal, terutama angka penyebaran virus sudah menurun di Eropa dan China.

     Secara terpisah, Direktur Bahana TCW Investment Soni Wibowo juga menyebut pada semester kedua nanti akan menjadi periode yang lebih baik
untuk reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham. Menurut dia, di masa mendatang reksadana pendapatan akan tetap lebih diminati investor karena berhasil menorehkan kinerja positif sejak awal tahun dengan jumlah penarikan dana (redemption) yang minim.

     Beberapa waktu lalu, Infovesta Utama mengeluarkan sebuah laporan terkait sentimen yang berpotensi memengaruhi kinerja produk reksadana pada enam bulan ke depan. Dalam laporan tersebut, disebutkan kinerja reksadana berbasis pendapatan tetap diproyeksikan akan mendapat sentimen positif pada semester kedua mendatang. Hal ini didorong oleh faktor tingkat inflasi rendah yang berpotensi membuat tingkat suku bunga acuan melanjutkan
tren penurunan.

     Sementara itu reksadana berbasis saham akan punya sentiment, baik dari dalam dan luar negeri. Sentimen dari dalam negeri yang akan berpengaruh adalah laporan keuangan emiten pada kuartal kedua 2020. Selain itu, investor dinilai juga masih akan menunggu perkembangan masa
transisi PSBB dan perkembangan penemuan vaksin virus corona, serta masih adanya potensi terjadinya second wave karena angka kasus baru di Indonesia setiap harinya masih belum melandai. Sementara sentimen dari luar negeri, di Amerika Serikat akan segera dilaksanakan pemilihan presiden pada tanggal 3 November 2020 mendatang. Oleh karena itu investor akan wait and see sambil mengamati keadaan ekonomi. S. Edi Santosa