Semester II/2020 Penerbitan Obligasi Korporasi Diproyeksi Meningkat

    Penerbitan obligasi korporasi pada kuartal pertama dan kuartal kedua 2020 jauh di bawah perkiraan. Lesunya penerbitan obligasi korporasi ini tak lepas dari pengaruh pandemi Covid-19. Kondisinya diperkirakan sedikit membaik di kuartal ketiga dan kuartal keempat 2020. Walau demikian, diperkirakan nilai obligasi korporasi yang diterbitkan tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan realisasi penerbitan obligasi korporasi pada 2019 lalu.

    Pada semester pertama 2020, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat realisasi penerbitan baru obligasi korporasi senilai Rp30,03 triliun atau turun 42,8 persen dari pencapaian Rp52,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra menyampaikan bahwa perseroan mencatat penerbitan surat utang listed pada periode Januari-Juni 2020 senilai Rp29,28 triliun atau turun 45,08 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp53,32 triliun.

  Director Investment Banking Capital Market Danareksa Sekuritas Boumedine Sihombing mengatakan bahwa pada semester pertama 2020, khususnya bulan Maret-April terjadi kenaikan yield yang signifikan di pasar obligasi sehingga banyak rencana penerbitan surat utang yang tertahan. Namun, menjelang Mei kondisi pasar mulai membaik sehingga jumlah kesepakatan untuk penjaminan emisi surat utang juga bertambah dan besaran nilai obligasi yang disepakati juga meningkat secara signifikan.

   Berdasar data Pefindo, obligasi jangka pendek-menengah menjadi pilihan
utama korporasi dalam penerbitan surat utang pada periode Januari-Juni 2020. Pada periode ini, obligasi dengan tenor 3 tahun-5 tahun hampir mencakup 60 persen dari total nilai penerbitan surat utang korporasi. Perinciannya, surat utang bertenor 3 tahun sebesar 35,6 persen dan tenor 5 tahun sebesar 21,2 persen. Surat utang tenor 1 tahun sebesar 16,9 persen, tenor 7 tahun sebesar 6,0 persen, dan tenor lainnya (termasuk surat utang dengan jangka waktu di bawah 1 tahun) sebesar 12,7 persen.

    Penerbitan obligasi korporasi pada paruh pertama tahun ini didominasi oleh emiten dengan peringkat AAA dan A. Untuk emiten dengan peringkat AAA, porsi emisi obligasinya meningkat dari 55,7 persen pada 2019 menjadi 58,2 persen pada semester pertama 2020. Sedangkan untuk emiten dengan peringkat A, porsinya meningkat dari 20,1 persen pada 2019 menjadi 31,2 persen pada semester pertama 2020. Di sisi lain, ada emiten yang peringkatnya turun dari A menjadi BBB, dengan porsi penerbitan obligasi sebesar 3,1 persen.

  Director Investment Banking Bahana Sekuitas Nelwin Aldriansyah memperkirakan, penerbitan obligasi korporasi di semester II/2020 memang akan lebih banyak dibandingkan dengan semester I/2020. Tahun ini obligasi korporasi yang jatuh tempo sekitar mencapai Rp117 triliun, sedangkan sampai kuartal pertama 2020 baru ada penerbitan obligasi korporasi sekitar Rp18 triliun. “Di kuartal kedua 2020 karena pandemi Covid-19 dan market yang bearish, tidak banyak emiten masuk pasar,” ujar Nelwin beberapa waktu lalu.

   Dengan demikian, obligasi korporasi yang jatuh tempo di tahun 2020 ini kemungkinan besar akan didanai ulang dengan penerbitan obligasi baru di semester II/2020 karena pasar mulai stabil dan cost of fund telah turun.

   Realisasi penerbitan obligasi korporasi pada semester I/2020 yang lebih rendah dari proyeksi awal, membuat proyeksi hingga akhir tahun juga diturunkan. Proyeksi awal, pada tahun 2020 ini nilai obligasi yang diterbitkan diperkirakan mencapai Rp158,5 triliun. Prediksi yang cukup tinggi ini dibuat karena ada Rp130,7 triliun obligasi korporasi yang jatuh tempo dan kemungkinan ada yang dilakukan refinancing.

   Akan tetapi, pandemi Covid-19 telah membuat proyeksi itu kemungkinan tidak akan terwujud. Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra menjelaskan pihaknya memiliki tiga skenario untuk menggambarkan proyeksi penerbitan obligasi korporasi pada paruh kedua tahun ini. “Biasanya kami membuat estimasi hanya satu angka, kami buat estimasi tiga angka,” katanya dalam konferensi pers virtual, 10 Juli 2020.

   Dalam skenario pesimistis, Pefindo memperkirakan penerbitan obligasi korporasi pada tahun ini dapat mencapai Rp60 triliun hingga Rp70 triliun. Skenario moderat, total penerbitan obligasi pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp80 triliun. Adapun untuk skenario optimistis, total penerbitan obligasi korporasi diharapkan dapat mencapai Rp100 triliun.

   Berdasar skenario dari Pefindo ini, nilai penerbitan obligasi korporasi tahun ini akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan realisasi tahun 2019 yang mencapai Rp146,5 triliun. Pencapaiannya sedikit banyak tergantung pada kemampuan pasar untuk menyerap obligasi yang diterbitkan korporasi. Walau demikian, perekonomian yang mulai bergeliat di bulan Juli, memunculkan optimisme bahwa di semester kedua tahun ini akan ada perbaikan di pasar modal, termasuk obligasi. S. Edi Santosa