Tax Amnesty Dan Masuknya Dana Asing ke Bursa

Transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) terlihat cukup bergairah di bulan Agustus lalu yang ditandai dengan naiknya nilai transaksi rata-rata harian dan juga kecenderungan tingginya indeks harga saham gabungan (IHSG). Selain sentimen positif yang mendongkrak indeks, juga tetap saja ada sentimen negatif yang menahan laju kenaikan indeks tersebut.
Menurut data BEI, dalam sebulan terakhir nilai transaksi harian di bursa naik rata-rata Rp2 triliun, dari Rp6 triliun menjadi Rp8 triliun. Ada dugaan, kenaikan ini karena sentimen positif dari pemberlakuan tax amnesty (pengampunan pajak).
“Saya nggak bisa bilang begitu. Apakah yang Rp2 triliun itu uang yang ikut amnesty pajak? Belum bisa disimpulkan begitu,” kata Direktur Utama BEI Tito Sulistio saat ditemui wartawan di Gedung BEI, Jakarta, 23 Agustus 2016. Dalam dua bulan terakhir terlihat dana asing mengalir deras ke Indonesia, baik melalui surat utang maupun pasar saham. Menurut ekonom BC David Sumual, sepanjang Juli 2016, dana asing masuk melalui surat utang (bonds) dan saham tercatat sekitar miliar dolar AS atau sekitar Rp 25 triliun. “Hari ini saja, dana asing masuk melalui pasar saham mencapai Rp1,476 triliun,” katanya awal Agustus lalu.
Tito meyakini bahwa program tax amnesty ini membuat persepsi positif di masyarakat, karena kinerja pemerintah dinilai meningkat. “Amnesti pajak ini membuat persepsi orang terhadap kinerja pemerintah meningkat. Mereka optimistis kinerja pemerintah akan terus membaik. Karena persepsi membaik, confidence meningkat.Persepsi kinerja perusahaan-perusahaan juga meningkat. Makanya mereka semakin percaya untuk taruh dananya di pasar modal,” jelasnya.
Keyakinan serupa juga disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida yang mengatakan bahwa tax amnesty menjadi salah satu sentimen positif di bursa saham. “Tax amnesty sangat positif bagi pasar modal karena kita lihat dana dari tax amnesty diharapkan dengan jumlah tersebut akan membawa kembali ke Indonesia, cari instrumen-instrumen yang bisa memberikan return yang bagus, nah instrumen dengan return yang bagus ini ada di pasar modal, itu juga bisa dilihat secara langsung hari ini kenaikan indeks juga bagus mencapai di atas 5.400,” ujarnya saat berbicara di gedung BEI Jakarta, 5 Agustus 2016.
Pada perdagangan di hari terakhir pekan pertama, 5 Agustus, IHSG ditutup menguat 46,383 poin (0,86 persen) ke 5.420,246. Sementara indeks LQ45 ditutup menguat 7,401 poin (0,80 persen) ke 932.186. Penguatan ini tak terlepas dari masih besarnnya dana asing yang masuk, yang hari itu tercatat sebesar Rp1,476 triliun. Sentimen positif terutama datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru saja mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2016 sebesar 5,18 persen, angka ini mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,66 persen.
Tito Sulistio menilai, naiknya pertumbuhan ekonomi tersebut secara langsung memberikan dampak positif terhadap naiknya IHSG ke angka 5.400. “Ini sentimen positif juga dari realisasi Produk Domestik Bruto (PDB). Karena sebelumnya banyak analis yang pesimis pertumbuhan ekonomi tidak bisa mencapai lima persen, tapi sekarang kita bisa melihat hasil nyata yang positif,” katanya saat itu.
Namun sesuai karakternya, perdagangan di lantai bursa tidak mungkin menguat terus menerus atau melemah terus
menerus. Setelah menunjukkan kenaikan di awal bulan, memasuki pertengahan Agustus indeks sedikit terkoreksi. Pada perdagangan akhir pekan kedua, 12 Agustus 2016, IHSG ditutup terkoreksi 41,892 poin (0,77 persen) ke 5.377,196. Sementara indeks LQ45 ditutup terpangkas 7,617 poin (0,82 persen) ke 921.522. Sepekan kemudian, 19 Agustus 2016, pada saat penutupan perdagangan akhir pekan, IHSG turun 45,415 poin (0,83 persen) ke level 5.416,035. Sementara Indeks LQ45 melemah 11,034 poin (1,17 persen) ke level 931,407. Saat itu investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp530,39 miliar di seluruh pasar. S. Edi Santosa