Dwi Prasetyo: Bermodal Keyakinan dan Mau Belajar

Selama 23 tahun berkecimpung di dunia asuransi membuat Head of Aswata Takaful PT Asuransi Wahana Tata (Aswata), Dwi Prasetyo merasakan bahwa industri ini adalah tempat labuhan ternyaman baginya dalam meniti karir. Baginya bisnis asuransi ini sudah mendarah-daging dan sangat berat untuk berpindah ke industri lain.
Dwi pertama kali bekerja di perusahaan asuransi sebagai tenaga IT, sesuai dengan background pendidikannya di Teknik Komputer, Universitas Gunadarma. Ia mengaku kalau mulai bekerja di Aswata per Januari 1994 hingga saat ini.
Saat ditanya rahasianya bisa betah selama itu di perusahaan yang sama, Dwi menjawab bahwa kenyamanan yang didapat di Aswata ini tidak lepas dari lingkungan kekeluargaan yang selalu terjaga diantara sesama pegawai. “Kalau soal pendapatan, tidak jauh beda rasanya dari perusahaan-perusahaan lain. Namun yang membuat betah itu sebenarnya adalah suasana kekeluargaan di sini. Itu yang tidak bisa dibandingkan dengan nominal gaji sekalipun,” katanya.
Dalam perjalanan karirnya di Aswata, Dwi menceritakan bahwa dirinya sempat berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lainnya untuk mengurus kantor cabang. Mulai dari Medan, Samarinda, Palembang, dan menangani kantor cabang utama di Jakarta. Dalam dua tahun terakhir dia dipercaya menangani bisnis Aswata dari sektor syariah.
Tentang peranannya di syariah ini, Dwi mengaku terkejut bahwa akan ditempatkan di bagian ini. Pasalnya, dari segi penguasaan dirinya mengaku kalau pengetahuannya di bidang keagamaan masih minim. Namun dengan modal kayakinan dan mau belajar, ia memberanikan diri dan ternyata banyak yang didapat dari sektor ini, baik secara profesional maupun secara pribadi. “Saya tidak menyangka akan ditempatkan di bagian syariah. Dari sisi penguasaan, untuk syariah ini saya merasa masih minim. Saya sempat terkejut mendapat SK untuk menangani asuransi syariah. Namun bagaimanapun juga harus terus belajar lagi, mulai dari nol tentang asuransi syariah. Ternyata cukup menarik juga dan menjadi hal baru untuk dapat dipelajari. Selain itu juga sebagai ajang untuk menambah pengetahuan dari sisi agama,” ungkap penyuka Sate Padang ini.
Dari sisi eksternal, Dwi juga melihat potensi pasar syariah di Indonesia ini sangat besar, karena mayoritas penduduk Indonesia itu muslim, namun market share untuk syariah ini masih belum jauh dari angka lima persen. “Di Aswata sendiri, antara konvensional dan syariah itu bedanya masih jauh sekali, padahal kalau dilihat potensi market syariah itu sangat besar,” katanya.
Soal target dalam karirnya, Dwi mengaku saat ini tidak begitu antusias dengan jabatan. “Saat pertama kali bekerja mungkin pernah terbersit untuk mematok target tertentu dalam berkarir. Namun, seiring waktu saya rasa ternyata bukan jabatan yang menjadi ukuran tapi sejauh mana seseorang memberikan kontribusi pada perusahaan. Kerja itu tidak muluk-muluk, yang penting bekerja maksimal dengan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Tentang imbal balik yang diterima, itu diserahkan kepada perusahaan sepenuhnya,” tandas pria berusia 47 tahun ini. B. Firman