Haryo Pamungkas: Berdiri di Jalan yang Benar Saat Menjalani Karier

     Kendati kariernya diawali dari industri perbankan, Head of Syariah Business PT Tokio Marine Life Insurance Indonesia Haryo Pamungkas, pada akhirnya berlabuh di dunia perasuransian mulai tahun 2011. Lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang tahun 2003 ini, mengawali karier di sebuah bank asing dan menjalani pekerjaan di berbagai divisi, mulai dari bagian marketing hingga bagian investasi. Dalam kurun waktu tujuh tahun, bapak satu anak ini berpindah-pindah dari satu bank ke bank lain, hingga akhirnya di tahun 2011 Haryo bergabung kali pertama di perusahaan asuransi, tepatnya di Asuransi Manulife untuk mengurus bisnis bancassurance.

    Kepada Media Asuransi, Haryo mengaku saat masa belajarnya tidak pernah membayangkan untuk berkarier di asuransi, atau di lembaga keuangan manapun. Sekalipun kakaknya berprofesi sebagai agen asuransi, bahkan terkadang mengajaknya sesekali untuk visit client, namun bisnis ini tidak menumbuhkan minatnya. Untuk itu, dirinya memilih fakultas hukum
saat kuliah. Namun takdirnya berkehendak lain, pria lulusan Pascasarjana Strategic Management Universitas Gadjah Mada (UGM) ini akhirnya juga mengikuti jejak sang kakak di industri asuransi dari jalur yang tidak disangka-sangka.

     Haryo juga menceritakan, awal bergabung dengan Tokio Marine karena ketertarikannya terhadap kesempatan mendalami asuransi syariah di perusahaan ini. Rasa penasarannya dengan asuransi syariah muncul karena fenomena hijrah yang luar biasa yang dia rasakan. “Ketertarikan saya akan asuransi syariah muncul karena prinsip tolong-menolong yang sangat kentara dan sejalan dengan konsep baitul mal dalam mekanisme keuangan syariah. Saya juga ingin mejalankan sesuatu yang memiliki nilai lebih, yaitu keberkahan dalam setiap aktivitas bisnis, khususnya di asuransi syariah ini,” ungkap bontot dari lima bersaudara ini.

     Karier itu, menurut dia, akan mengikuti orangnya. “Jadi, jangan pernah takut dalam meniti karier. Namun yang jelas, janganlah selalu memandang ‘ke atas’ sehingga menghilangkan objektivitas. Dalam menjalani karier, kita harus berdiri di jalan yang benar. Terlepas dari suka atau tidak disukai. Soal penghambat jalan karier, lanjutnya, itu permasalahan lain. Yang paling penting adalah ikhtiar dulu dengan sebaik mungkin, kemudian baru tawakal. Bahwa setiap manusia itu punya nasibnya sendiri-sendiri,” ungkapnya.

    Mengenai harapannya terhadap industri ini, Haryo ingin menghidupkan asuransi syariah supaya dapat diterima di masyarakat luas. “Karena saya percaya dengan mekanisme ta’awwun dalam asuransi syariah, dapat memberi kontribusi yang besar dalam sistem keuangan masyarakat, bukan hanya untuk umat Islam tapi untuk seluruh komponen. Jadi, melalui asuransi syariah ini, kita mengambil andil untuk meningkatkan literasi keuangan. Saya berharap asuransi syariah ini dapat menjadi prioritas utama dalam bisnis perasuransian secara umum. Karena prinsipnya adalah tolong-menolong, maka mekanisme asuransi syariah ini akan mencairkan perbedaan antara yang miskin dan yang kaya,” tandas pria yang lahir 39 tahun silam ini. B. Firman

%d bloggers like this: