Polis Machinery Insurance (Lanjutan 4, Jaminan)

Oleh Robertus Ismono

Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan tentang carelessness, negligence, boiler/ketel uap, heat exchanger, dan perbedaan antara fire tube boiler dan water tube boiler.

Selanjutnya polis juga menjamin kerugian/kerusakan fisik karena ”physical explosion” yang diterjemahkan sebagai “ledakan fisik”. Penulis percaya bahwa yang diartikan sebagai “ledakan” tentunya ke arah luar, bukan ke arah dalam karena kalau ke arah dalam namanya “mengkerut/implosion” dan kalau ada yang berpendapat lain mungkin sekadar ingin berdebat saja.

Catatan 1: mengapa polis tidak menjamin kerugian/kerusakan karena “mengkerut?”. Jawaban teknisnya karena merancang/menghitung kekuatan barang (buatan manusia) lebih mudah untuk “meledak” dibandingkan dengan “mengkerut”.

Selanjutnya jaminan polis termasuk “koyak akibat gaya sentrifugal”, yaitu gaya atau kekuatan ke arah luar (menjauh dari sumbu putarnya) yang ditimbulkan oleh benda yang sedang berputar. Kalau benda tersebut berhenti berputar, maka tidak ada lagi gaya yang timbul. Besarnya gaya ini tergantung banyak hal, seperti kecepatan putarnya, berat bendanya, berputar tegak atau miringnya berapa derajat, dan lain-lain. Selain gaya sentrifugal, juga ada gaya “sentripetal”. Mengapa polis tidak menjamin kerugian/kerusakan karena gaya “sentripetal” ? Alasan/jawaban teknisnya sama dengan ‘Catatan 1’ di atas.

Selanjutnya jaminan polis termasuk “short circuit” yang diterjemahkan sebagai “arus pendek”.

Pertama, terjemahan ini tidak sesuai dengan istilah yang umumnya digunakan oleh orang teknik listrik, termasuk PLN (Perusahaan Listrik Negara).

Catatan 2: istilah yang digunakan orang teknik dan PLN adalah “hubung singkat” yang mewakili pengertian antara ‘hubungan langsung (kontak) antara penghantar yang beraliran listrik dengan barang/benda lain atau antara satu penghangtar dengan penghantar lain yang berbeda, misal tegangannya, fasenya, dan lain-lain.

Kedua, kalau ada yang pendek, maka apa/mana yang panjang?.

Catatan 3: untuk menghindari perdebatan berkepanjangan, maka penulis akan menggunakan istilah ‘short circuit’ saja.

Catatan 4: asalkan taat pada pengertian ‘short circuit’, maka perdebatan yang akan timbul dari penerapannya dapat dikurangi, tetapi tetap perlu disadari bahwa penerapannya tetap sulit, apalagi kalau tidak mempunyai pengetahuan atau latar belakang yang memadai.

Catatan 5: penanggung maupun tertanggung/pialang, bahkan penilai kerugian asuransi sendiri, mudah berdebat tentang penerapan jaminan dan pengecualiannya, dan tertanggung pada umumnya cenderung untuk berkeberatan menunjuk tenaga ahli dengan berbagai alasan, seperti tenaga ahli yang akan disepakati bersama, biaya, dan lain-lain.

Catatan 6: meskipun dapat disepakati tenaga ahli yang ditunjuk, masih sering terjadi bahwa salah satu pihak yang merasa dirugikan akan berpendapat bahwa tenaga ahlinya memihak, kemudian memilih berperkara saja.

Kesimpulan sementara: bila taat asas dan tidak berniat untuk berbantah ataupun berperkara, maka sesungguhnya jaminan untuk ‘short circuit’ ini sangat terbatas, hanya ‘1 (satu) dari lebih 28 kejadian’ yang termasuk ‘short circuit’.

Catatan 7: untuk perincian dan penjelasan mengenai 27 kejadian yang tidak termasuk ‘short circuit’ akan disampaikan di tulisan-tulisan tentang “Pengecualian di butir 9”.

Catatan 8: perlu kiranya disadari, baik oleh penanggung, tertanggung/pialang maupun penilai kerugian, bahwa polis yang dibuat oleh MunichRe tidak akan menjamin dua kejadian yang sama, tetapi dapat mengecualikan suatu kejadian di dua macam polisnya. Kecuali kedua macam polis diterbitkan dalam jeda waktu yang jauh.

Misal suatu kejadian dijamin di polis IAR (Industrial All Risks), maka tidak akan dijamin di polis Machinery Insurance (MI) dan sebaliknya, tetapi dapat saja suatu kejadian dikecualikan di polis IAR maupun polis MI. Namun bisa terjadi bahwa suatu kejadian dijamin di polis IAR ataupun MI dan juga dijamin di polis CMI (Comprehensive Machinery Insurance) karena lamanya jeda waktu antara pembuatan polis IAR – MI dengan polis CMI.

Selanjutnya jaminan polis juga termasuk ‘storm’ yang diterjemahkan sebagai ‘badai’. Pada awalnya jaminan ini mengundang banyak masalah, termasuk yang terutama ‘seolah-oleh asuransi menipu tertanggung’ karena:

1) tidak ada definisi untuk pengertian “badai” itu; 2) bila merujuk ke ‘Beaufort Scale’, maka tidak akan terjadi badai di Indonesia, bahkan di laut terbuka yang masih menjadi wilayah kedaulatan NKRI; 3) polis ini ditujukan untuk penggunaan di darat, bukan di laut.

Untuk menyelesaikan permasalahan di atas, maka kita membuat kesepakatan bahwa yang dimaksud di Indonesia dengan ‘badai’ adalah kecepatan angin sekian.

Catatan 9: meskipun sudah ada kesepakatan tentang kecepatan anginnya, tetapi masih juga timbul masalah terutama karena tertanggung/pialang berkeberatan untuk mendapatkan surat keterangan dari pihak BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dengan alasan di daerah tersebut tidak ada kantor BMKG-nya.

Dengan mengamati kerusakan yang ditimbulkan oleh angin kencang tersebut, maka (petugas) BMKG dapat menyimpulkan secara (agak) tepat kecepatan anginnya berapa, atau setidak-tidaknya antara berapa sampai berapa.

*Penulis adalah Adjuster dan Direktur PT AqualisBraemar. Bekerja di Jakarta