Polis Machinery Insurance (Lanjutan 6, Pengecualian)

Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan tentang pengeculian untuk ‘risiko sendiri, exchangeable tools berikut contohnya, parts suffering high rate of wear berikut contohnya refractory lining, dan seterusnya, dan objects made of glass dan seterusnya, kebakaran dan seterusnya,’ dan ‘kesalahan atau cacat yang telah ada pada saat mulai berlakunya polis ini dengan sepengetahuan tertanggung atau wakilnya, dan seterusnya.

Sebelum berlanjut penulis mohon maaf atas kesalahan pengulangan ketik, yang seharusnya pengecualian butir 4 masih diketik sebagai butir 3, dan yang seharusnya butir 5 masih diketik sebagai butir 4. Namun isi penjelasannya tetap benar seperti yang penulis maksudkan.

Pengecualian selanjutnya di butir 6 tentang “willful act or gross negligence of the Insured or his representatives” yang diterjemahkan sebagai “tindakan sengaja atau kelalaian melampaui batas tertanggung atau wakilnya”.

Terjemahan ini tidak salah, tetapi mungkin dapat diberikan penjelasan tambahan. Tindakan sengaja sudah cukup jelas, yaitu menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak barang yang dipertanggungkan untuk mencari keuntungan keuangan dari penanggung.

Catatan 1: perlu diingat bahwa meskipun mendapatkan ganti rugi dari penanggung, tetapi bisa saja tertanggung menderita kerugian atas kerusakan barangnya, tetapi mendapatkan keuntungan keuangan dari ganti rugi atas klaim atas business interruption-nya bila dijaminkan di polisnya (baik dijaminkan langsung maupun bersama atau sebagai perluasan polis Industrial All Risks/Property All Risks (IAR/PAR), atapun polis lain).

Catatan 2: terjemahan atas “kelalaian melampaui batas” mudah mengundang selisih pendapat.

Pertama, atas pengertian ’kelalaian’ itu sendiri. Sulit dicapai sepakat antara lalai, teledor, lupa, kurang hati-hati, dan dan sebagainya.

Kedua, batasnya apa? Siapa yang menentukan batasnya? penanggung atau tertanggung atau pihak lain?

Catatan 3: atas hal ini, sebenarnya polis Machinery Insurance (MI) telah membuat ketentuan tentang ”Reasonable Precaution” yang harus dipatuhi oleh tertanggung agar tetap ada jaminan polis (bukan berarti ada ganti rugi, karena masih banyak hal-hal lain yang harus dipatuhi tertanggung).

Catatan 4: penjelasan tentang ”Reasonable Precaution” ada di conditions butir 3 yang akan disampaikan pada tulisan berikutnya. Namun sebagai rujukan awal, hal ini termasuk bahwa tertanggung harus 1) mengikuti peraturan pemerintah, 2) saran pabrikan, 3) saran Penanggung, dan 4) akal cerdik untuk mencegah terjadinya kerugian atau kerusakan.

Pengertian mengenai tertanggung sebenarnya sudah cukup jelas. Namun sering terjadi adanya pihak-pihak yang mengasuransikan suatu barang meskipun mereka tidak akan menderita kerugian keuangan langsung (tidak mempunyai insurable interest) seandainya barangnya rusak. Contoh: forwarder, leasing company, bank, dan lain-lain.

Catatan 5: tentang hal di atas telah pernah disampaikan beberapa kali. Untuk mengingatkan saja.

Tentang forwarder seandainya barangnya rusak, maka sesuai Undang-Undang Pelayaran, paling-paling forwarder-nya akan didenda sebesar sekian kali ongkos tambang.

Tentang leasing company, sebenarnya sebelum lunas, maka barang itu belum milik leasee, sehingga leasee tetap harus melunasi utangnya.

Untuk bank, seandainya utangnya tidak dapat dilunasi oleh yang berutang, maka banknya bisa menyita barang jaminannya yang seharusnya lebih tinggi nilai ekonomisnya dibandingkan dengan pinjaman yang diberikannya.

Catatan 6: yang dimaksud dengan wakil tertanggung pada umumnya di asuransi adalah orang yang diberi wewenang dan menjalankan wewenang tersebut, terlepas dari apapun jabatannya.

Kalau dia seorang operator mesin, maka dia lah wakil tertanggung, bukan direktur perusahaan tertanggung.

Catatan 7: di undang-undang kita, direktur adalah wakil tertanggung. Hal ini tidak salah, tapi tidak cocok untuk industri asuransi sehubungan dengan polis.

Catatan 8: dalam hal perusahaan tidak memberikan pelatihan kepada operator mesinnya, sehingga operator tersebut melakukan kesalahan yang menyebabkan kerugian atau kerusakan, maka perlu ditinjau secara cermat apakah operator tersebut ”lack of skill” yang merupakan jaminan polis, atau tertanggung tidak menerapkan ”reasonable precaution” yang merupakan kewajiban tertanggung.

Atas hal ini, kita dapat kembali ke jaminan polis MI yang untuk kerugian atau kerusakan yang ‘unforeseen and sudden’.

Pengecualian selanjutnya di butir 7 mengenai perang dan seterusnya pada dasarnya telah cukup jelas. Pengecualian ini didasarkan pada kaidah bahwa asuransi tidak memberikan pertanggungan untuk kerugian/kerusakan yang 1) tidak mungkin terjadi; 2) dapat sangat besar yang akan menyebabkan asuransi itu bangkrut, 3) tidak mempunyai data tertanggung, risiko yang dapat terjadi, pengetahuan asuransi yang memadai, dan lain-lain.

Catatan 9: pengecualian butir 7 ini berdasarkan filosofi bahwa asuransi bukan judi.

Pengecualian butir 8 tentang ”segala akibat reaksi nuklir” juga didasarkan pada hal-hal seperti catatan 2) dan 3) pada butir 7 yang telah disebutkan.

*Penulis adalah Adjuster dan tinggal di Jakarta