Sengketa Klaim Asuransi Jiwa

Bancassurance

frans

Oleh Frans Lamury

Mohammad Ali (Pemohon) dari polis atas nama ibu kandungnya sebagai Tertanggung/Pemegang Polis dalam program Asuransi Perlindungan Kredit, meninggal dunia. Uang Pertanggungan maksimal sebesar Rp120 juta dan akan menurun sesuai dengan tabel sisa pinjaman pokok dan bunga berjalan yang dibuat oleh Pemegang Polis (Loan Ledger).
Pemohon adalah putra ketiga Tertanggung yang datang atas nama adiknya dan bapaknya/suami Tertanggung sebagai penerima kuasa dari Pemegang Polis. Pemohon adalah saksi yang hadir pada saat penandatanganan kredit dan penandatanganan SPAK. Ibunya saat itu, telah memberikan tandatangan pada akad kredit yang dilakukan di rumah Pemohon/Tertanggung tanggal 25 April 2012, dan keesokan harinya 26 April 2012 datang kembali petugas bank yang menyodorkan selembar kertas untuk minta ditandatangani saja. Petugas tersebut tidak menjelaskan isi formulir yang sudah terisi dan katanya pula bahwa lembar ini yang masih belum ditandatangani. Pada saat itu petugas bank hanya bertanya biasa-biasa saja seperti orang menyapa apa kabar; apakah ibu saat ini sehat…?, dijawab sehat dan apakah pada saat ini benar-benar sehat.
Termohon menolak membayar klaim asuransi meninggal dunia sebesar Rp73.237.707 (berdasarkan outstanding tertanggal 7 Nopember 2013) dengan alasan:
– Dalam dokumen SPPK pada Bagian B untuk pertanyaan 1, 2 dan 3 diberi jawaban “TIDAK”.
– “Pernyataan/Deklarasi” Tertanggungpada SPPK.
– Penelusuran/investigasi Termohon memperoleh bukti bahwa Tertanggung pernah melakukan rawat jalan pada 9 April 2011 dan 31 Desember 2011 di Puskesmas Wringin Harjo Sidareja dengan diagnosa hipertensi.
– Rekam medik dari RSUD Margono Soekarjo menyatakan bahwa meninggalnya tertanggung disebabkan oleh: “Shock sepsis, sepsis dan DM”,
– Tertanggung telah melakukan misrepresentasi.

Pemohon dan keluarganya tidak dapat menerima keputusan penolakan klaim mereka, sebab:
– Tertanggung meninggal dunia bukan akibat hipertensi.
– Tertanggung hanya diminta menandatangani saja dan petugasnya hanya bertanya seperti menyapa biasa saja dan tidak terpikir bahwa pertanyaan itu ada kaitannya dengan formulir yang ditandatangani dan memang saat itu ibu benar-benar sehat.
– Jika tertanggung pernah melakukan perawatan ke Puskesmas, maka itu hanya untuk keluhan sakit biasa seperti kepala pusing dan tidak diketahui bahwa ibunya menderita hipertensi, karena dokter yang memeriksanya pun tidak memberitahukan penyakit yang diderita ibunya.
– Petugas yang meminta tandatangan juga tidak menanyakan perihal penyakit yang pernah diderita ibunya.
– Kesalahan pengisian SPAK dilakukan oleh pihak Termohon melalui staf Bank yang ditunjuk. Staf Bank yang ditunjuk tidak memberikan petunjuk bagaimana mengisi SPAK dengan benar dan lengkap. Sedangkan pertanggungan sudah berlaku saat akad kredit ditandatangani.
– Tertanggung telah menyampaikan informasi yang sebenarnya secara jujur kepada Termohon (staf bank) Akhirnya termohon bersedia meninjau ulang keputusannya dan menawarkan win-win solution-nya itu klaim dibayarkan secara ex-gratia sebesar 65 persen dari outstanding pinjaman sebesar Rp47.604.510 dan akan segera dibayar selambat-lambatnya 30 hari setelah perjanjian ini disepakati

Pembelajaran
Bancasurance, menurut Surat Edaran Bank IndonesiaNomor 12/35/DPNP tanggal 23 Desember 2010 menyatakan bahwa Bancassurance adalah aktivitas kerja sama antara perusahaan asuransi dan bank dalam rangka memasarkan produk asuransi melalui bank yang dapat diklasifikasikan dalam tiga model bisnis:
a) Bisnis referensi, yakni referensi dalam rangka produk. Bank mereferensikan produk asuransi yang menjadi persyaratan untuk memperoleh suatu produk perbankan kepada nasabah seperti KPR yang disertai kewajiban untuk mengasuransikan terhadap risiko kebakaran, atau kredit kendaran bermotor yang mewajibkan penutupan asuransi atas kerusakan atau kehilangan kendaraan bermotor. Selain itu juga referensi tidak dalam rangka produk bank, yaitu ketika kerja sama tidak melibatkan produk bank.
B) Kerja sama distribusi, yakni kerja sama pemasaran produk asuransi dengan bank berperan sebagai perantara yang memasarkan produk asuransi.
C) Integrasi produk, yaitu aktivitas kerja sama pemasaran produk asuransi kepada nasabah dengan melakukan modifikasi dan atau menggabungkan produk asuransi dengan produk bank.

Model kerja sama apapun, bank bertindak sebagai perantara yang mewakili asuransi dan oleh sebab itu, kekeliruan dan kesalahan yang dilakukan oleh petugas bank menjadi tanggung jawab asuransi. Kasus ini adalah model kerja sama pemasaran Bisnis Referensi dan penawaran termohon untuk membayar klaim secara ex-gratia, kiranya dapat dimengerti sebab masing-masing pihak mempunyai kesalahan. Termohon tidak menjelaskan dengan baik cara menjawab pertanyaan dalam SPAK, sedangkan pemohon tidak mengungkap konsultasi dan perawatan atas dirinya oleh dokter.
Ketika Bancasurance menjadi model pemasaran asuransi yang semakin gencar dilaksanakan dewasa ini, maka pihak-pihak terkait harus melakukan fungsinya masing-masing dengan benar dan baik.

Penulis adalah Ketua Badan Mediasi Asuransi Indonesia (BMAI)