Asa dari Upaya Pemulihan Ekonomi

     Pandemi virus corona atau Covid-19 benar-benar memberikan efek merusak bagi perekonomian Indonesia pada semester I/2020. Semua sendi ekonomi terpapar akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

   Data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis BPS membuktikan betapa dampak pandemi menyebabkan laju ekonomi jauh di bawah ekspektasi pemerintah. Pertumbuhan ekonomi kuartal I/2020 hanya tumbuh 2,97 persen atau di bawah perkiraan pemerintah 4,5 persen-4,7 persen. Prediksi tersebut didasarkan pada dampak kebijakan PSBB yang diperkirakan baru terasa pada kuartal II/2020. Namun ternyata dampaknya lebih cepat dan lebih parah. Semua komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) terpukul terutama konsumsi, investasi, dan ekspor-impor.

    Realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020 lebih buruk lagi. Kinerja PDB terkontraksi hingga minus 5,32 persen. Seluruh komponen pembentuk PDB terkontraksi, konsumsi rumah tangga yang menjadi motor penggerak ekonomi nasional mencatatkan kontraksi terdalam hingga -5,51 persen.

    Sejalan dengan kinerja ekonomi yang mengarah ke jurang resesi tersebut, industri asuransi ikut terdampak. Permintaan premi tercatat susut, sedangkan pada saat bersamaan, permintaan klaim meningkat. Ditambah lagi kondisi pasar modal juga terbawa sentimen negatif Covid-19 yang berpengaruh terhadap imbal hasil investasi.

    Data OJK pada Maret 2020 mencatat bahwa kinerja premi asuransi tumbuh lambat dengan pertumbuhan terlambat dialami oleh asuransi jiwa. Premi asuransi jiwa terkoreksi menjadi minus 13,8 persen dibandingkan dengan kinerja pada Desember 2019 yang hanya minus 0,38 persen. Adapun pertumbuhan premi asuransi umum terkoreksi menjadi 3,65 persen year on year (yoy). Kinerja tersebut melambat dibandingkan dengan kinerja Desember 2019 yang tumbuh 15,65 persen yoy.

    Pada kuartal II/2020, pertumbuhan premi asuransi jiwa terkontraksi sebesar 10 persen, sedangkan pertumbuhan premi asuransi umum dan reasuransi minus 2,3 persen.

     Meski secara tahunan terkontraksi, kabar baiknya adalah secara bulanan kinerja premi asuransi pada Juni 2020 mulai menggeliat seiring dengan kebijakan stimulus dan pemulihan ekonomi yang mulai dijalankan pemerintah. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi, jika melihat tren Mei ke Juni, premi industri asuransi sudah mulai tumbuh.
Premi asuransi jiwa pada Juni tercatat naik 20,22 persen menjadi Rp77,08 triliun dibandingkan dengan posisi premi pada Mei Rp64 triliun. Begitu pun pada asuransi umum dan reasuransi yang pada Juni mengumpulkan premi Rp49,74 triliun atau naik 18,95 persen dibandingkan dengan Mei sebesar Rp41,82 triliun.

   Membaiknya kinerja premi asuransi pada Juni tersebut membangkitkan asa bahwa tekanan akibat pandemi bagi industri asuransi bakal mereda. Terlebih, pandemi kian membangkitkan kesadaran masyarakat atas pentingnya proteksi melalui asuransi.

     Memang pandemi ini belum pasti kapan akan berakhir, tetapi kebijakan pembukaan kembali ekonomi yang disertai dengan pemberian relaksasi dan stimulus dapat perlahan-lahan menggerakkan kembali roda ekonomi. Terlebih, pemerintah telah turun tangan menempatkan dana di bank umum guna merangsang permintaan kredit.

    Adaptasi kebiasaan baru dengan protokol kesehatan yang ketat menjadi pilihan yang harus diambil agar ekonomi kembali bergerak. Harapannya, berbagai kebijakan yang terpusat pada program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ini mampu membalikkan kontraksi PDB pada kuartal II menjadi positif pada kuartal III dan berlanjut meningkat pada kuartal IV hingga tahun-tahun berikutnya.  Achmad Aris