Covid-19, Asuransi, dan Harapan Nasabah serta Rumah Sakit

    Tiba-tiba Pemerintah Indonesia, sebagaimana disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo, pada 2 Maret 2020 menyatakan bahwa ada dua orang Indonesia yang terdampak virus Corona (Covid-19). Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, menjelaskan bahwa per Senin 30 Maret 2020 ada 1.414 orang positif terpapar Covid-19, 75 orang sembuh, dan 122 orang meninggal. Kasus-kasus yang terjadi berkaitan dengan virus Corona ini ternyata sudah tersebar di 31 provinsi di Indonesia.

    Penyakit karena virus ini memakan korban besar lebih dari 150 negara di dunia ini, bahkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dinyatakan sebagai pandemi.

    Beberapa eksekutif perusahaan asuransi jiwa dan perusahaan asuransi umum di Indonesia yang dihubungi Media Asuransi tampaknya memasukkan penyakit karena virus ini sebagai penyakit kritis. Beberapa perusahaan asuransi jiwa bahkan secara terbuka menawarkan atau menyatakan perlindungan risiko terhadap penyakit virus Corona ini, baik bagi nasabah atau tertanggung (insured) mereka maupun yang akan menjadi tertanggung.

    Tentu, apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asuransi, terutama asuransi jiwa, mengenai asuransi kesehatan yang berkaitan dengan penyakit-penyakit kritis, khususnya Covid-19, merupakan sesuatu yang menarik. Karena, dengan pernyataan atau penawaran yang tertulis dan jelas dari perusahaan asuransi jiwa tersebut, masyarakat dapat memilah dan memilih program dan produk asuransi kesehatan yang cocok untuk menangani penyakit kritis virus Corona bagi masing-masing orang bila terinfeksi. Atau, bagi asuransi kumpulan (group insurance) karyawan kalau preminya ditanggung oleh suatu organisasi atau perusahaan.

    Perusahaan asuransi dalam melakukan manajemen risiko untuk penyakit kritis melalui program dan produknya bagi nasabah atau tertanggungnya, tidak bisa berjalan sendiri. Setidaknya harus bekerjasama dengan rumah sakit atau dokter dalam asuransi kesehatan yang ditawarkannya, terlebih untuk penyakit kritis seperti Covid-19.

    Beberapa rumah sakit yang dihubungi oleh Media Asuransi berkaitan dengan asuransi kesehatan, termasuk asuransi penyakit-penyakit kritis, mengungkapkan beberapa hal yang diharapkan dapat lebih baik lagi kerjasama yang selama ini sudah terjalin. Pertama, ada istilah yang kiranya perlu disepakati bersama, yaitu istilah medis yang disebut dengan penyakit kritis dan penyakit kronis. Sehingga diharapkan ada kesamaan definisi yang dipakai sebagai acuan rumah sakit dalam melakukan tindakan medis, dengan yang ada dalam polis asuransi kesehatan dari perusahaanperusahaan asuransi.

    Kedua, bagi pasien dengan jaminan asuransi, masih menurut pihak rumah sakit, diharapkan dapat sesegera mungkin mendapatkan konfirmasi dari perusahaan asuransi ketika rumah sakit membutuhkan konfirmasi. Misalnya mengenai limit biaya dari suatu tindakan medis. Semakin cepat perusahaan asuransi memberikan konfirmasi syarat dan kondisi polis kepada pihak rumah sakit, semakin cepat pula pihak rumah sakit melakukan tindakan medis yang dibutuhkan pasien yang merupakan nasabah atau tertanggung perusahaan asuransi.

    Tampaknya, dua hal tersebut diungkapkan oleh pihak rumah sakit dalam kaitannya dengan kerjasama dalam asuransi kesehatan, termasuk untuk penyakit-penyakit kritis.

    Sedangkan bagi nasabah-nasabah atau tertanggung perusahaan asuransi yang menjadi pasien rumah sakit, yang mengalami tindakan medis yang besar seperti operasi pengangkatan rahim dan sebagainya, mengharapkan agar kerjasama dengan rumah sakit ditingkatkan. Misalnya, konfirmasi biaya yang ditanggung perusahaan asuransi mestinya disampaikan sebelum tindakan medis dilakukan sehingga pasien mengetahui dan pihak rumah sakit juga memperoleh kepastian. Seorang pasien rumah sakit yang merasakan kepuasan dengan jaminan asuransi mengungkapkan bahwa semakin baik kerjasama perusahaan asuransi dan rumah sakit, maka nasabah yang akan merasakan manfaatnya dan kepuasannya. Mucharor Djalil