Menumpukan Harapan pada Kuartal Ketiga 2020

     Ketika virus corona mulai menyerang warga di Wuhan, China, akhir Desember 2019, tidak ada yang menyangka bahwa virus sars-cov-2 akan sedahsyat ini dampaknya. Hingga Wuhan lock-down, masih banyak pihak yang meyakini bahwa ini hanya ‘bencana kesehatan’. Namun, enam bulan kemudian ternyata dampak ekonomi yang ditimbulkan pandemi ini, tak kalah dahsyatnya. Pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia anjlok, banyak perusahaan yang harus memangkas operasionalnya hingga minimal, bahkan tak sedikit yang terpaksa tutup.

     Indonesia yang resmi mengumumkan kasus pertama positif Covid-19 pada 2 Maret 2020, juga tak luput dari dampak pandemi ini. Di kuartal pertama, perekonomian tak terlalu terdampak karena baru pertengahan Maret diberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat. Oleh karena itu, pada kuartal pertama ini perekonomian masih tumbuh.

     Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2020 terhadap kuartal pertama 2019, atau secara tahunan (year on year/yoy) 2,97 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 10,67 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P)sebesar 3,74 persen.

     Lantas bagaimana di kuartal-kuartal selanjutnya? Saat tulisan ini dibuat, BPS belum mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2020.

     Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada pertengahan Juni lalu mengatakan bahwa meskipun perkembangan terkini menunjukkan tekanan mulai berkurang, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan kedua 2020 diprediksi akan tetap merosot. Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini akan menurun pada kisaran 0,9 persen hingga 1,9 persen.

     Sementara itu untuk tahun 2021 mendatang, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melonjak, yakni di kisaran 5,0-6,0 persen. Pertumbuhan sebesar itu pada tahun 2021, dapat terjadi akibat didorong dampak perbaikan ekonomi global dan stimulus kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.

    Perekonomian nasional memang mulai menunjukkan tanda-tanda membaik pada Juni 2020, seiring dengan adanya relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Beberapa indikator dini permintaan domestik menunjukkan perkembangan positif ini seperti tercermin pada penjualan ritel, purchasing manager index, ekspektasi konsumen, dan berbagai indikator domestik lain yang mulai meningkat. Kinerja ekspor Juni 2020 pada beberapa komoditas seperti besi dan baja, juga terpantau membaik seiring peningkatan permintaan dari Cina untuk proyek infrastruktur.

      Walau demikian, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan kedua 2020 tetap mengalami kontraksi. Kontraksi terdalam terjadi pada Mei 2020, sebagai dampak dari kebijakan PSBB yang berakibat pada berkurangnya aktivitas ekonomi.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani akhirnya merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 ini dari semula sebesar 2,3 persen, menjadi satu persen. Hal ini dia sampaikan dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR, 18 Juni 2020. Menurutnya, perekonomian Indonesia pada kuartal kedua 2020 akan mengalami kontraksi cukup dalam dengan perkiraan pertumbuhan sebesar -3,1 persen. Walau di kuartal pertama yang lalu pertumbuhan ekonomi masih positif, kontraksi di kuartal kedua itu akan memberi tekakan besar terhadap pertumbuhan ekonomi di semester pertama 2020.

     Perbaikan ekonomi pada dua kuartal terakhir, yakni di kuartal ketiga dan kuartal keempat, akan bergantung pada kebijakan dan langkah pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19. Selain itu, ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak ekonomi pandemi ini. Pertama, bantuan sosial perlu ditingkatkan penyalurannya untuk mendongkrak konsumsi rumah tangga. Kedua, investasi harus didorong melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) guna mempercepat pemulihan di sisi dunia usaha. Ketiga, dukungan kebijakan bagi eksportir untuk bertahan dan pulih dari kondisi krisis.

    Keberhasilan Program PEN juga diharap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi di akhir tahun. Karena perekonomian Indonesia 2020 akan sangat ditentukan apakah di kuartal ketiga akan sedikit lebih baik dari kuartal kedua dan apakah di kuartal keempat akan terjadi recovery. Sejauh ini, Pemerintah Indonesia belum mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi sebelumnya, yakni -0,4 sampai 2,3. Meskipun menurut Sri Mulyani, point estimate-nya sudah semakin mendekati di level 0-1 persen.

      Sekarang tinggal kita tunggu apakah berbagai proyeksi pertumbuhan itu perlu dikoreksi lagi atau tidak. Bulan Juli ini adalah awal kuartal ketiga, sehingga jika pertumbuhan mulai terjadi maka ada harapan itu akan terus berlanjut. S. Edi Santosa