Pertaruhan Vaksinasi Covid-19

Tidak terasa Covid-19 sudah 1 tahun mewabah di Indonesia. Sampai kini, kasus positif Covid-19 masih terjadi. Hingga 2 Maret 2021, total kasus positif di Indonesia mencapai 1.347.026 kasus, sebanyak 1.160.863 orang dinyatakan sembuh dan 36.518 orang meninggal dunia. Meski sudah dalam tren penurunan, tetapi jumlah penambahan kasus positif setiap harinya masih di atas 5.000 kasus.

Selama 1 tahun ini, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran virus yang menyerang saluran pernapasan tersebut, mulai dari penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alias lockdown, penerapan protokol kesehatan secara ketat, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan PPKM mikro, hingga program vaksinasi. Khusus kebijakan PSBB, pemerintah sampai harus beberapa kali melakukan pengetatan kembali tatkala keputusan pelonggaran kebijakan physical distancing malah menambah jumlah kasus positif.

Setelah berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka penanganan pandemi tidak cukup efektif mengurangi penyebaran virus Covid-19, kini harapan yang tersisa adalah efektivitas dari program vaksinasi yang mulai digalakkan secara nasional. Guna mempercepat proses vaksinasi, pemerintah akhirnya mengizinkan vaksinasi mandiri alias gotong royong yakni vaksinasi ini dilakukan secara gratis oleh perusahaan kepada semua pekerja atau karyawan, keluarga, dan individu lain yang terkait.

Jika melihat data tren perkembangan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 per hari, penambahan kasus positif justru mencapai puncak tertingginya setelah Presiden RI Joko Widodo melaksanakan vaksinasi pertama pada 13 Januari 2021, yang diikuti oleh sejumlah perwakilan dari berbagai latar belakang seperti tenaga kesehatan, pemuka agama, guru, dan lain-lain. Penambahan kasus tertinggi terjadi pada 30 Januari yang mencapai 14.518 kasus.

Namun demikian, sejak saat itu tren penambahan kasus positif terus menurun dan menyentuh level 5.712 kasus pada 2 Maret 2021. Meski tren penurunan tersebut bukan semata akibat vaksinasi, tentu kita berharap tren ini semakin menurun ke depannya seiring dengan masifnya vaksinasi baik yang dikoordinir pemerintah maupun gotong royong. Vaksinasi ini benar-benar menjadi game changer bagi pemulihan ekonomi nasional. Pasalnya, selama pandemi ini tidak dapat diatasi, maka aktivitas ekonomi tidak dapat berjalan normal.

Pandemi Covid-19 ini sangat terasa memukul perekonomian Indonesia sehingga proses pemulihannya tidak dapat berjalan cepat. Bank Indonesia pun harus realistis dan merevisi target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 dari kisaran 4,3 persen-5,3 persen menjadi 4,8 persen-5,8 persen. Alasannya, realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal IV/2020 masih tumbuh minus 2,19 persen yang
dipicu oleh lemahnya konsumsi swasta dan investasi bangunan serta terbatasnya mobilitas akibat pandemi.

Dalam rangka mendorong konsumsi swasta yang masih lemah tersebut, otoritas fiskal dan moneter kembali menggelontorkan sejumlah stimulus di antaranya diskon PPnBM untuk kendaraan bermotor dan DP 0 persen untuk pembelian kendaraan bermotor serta properti. BI juga memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan ke level 3,50 persen atau level terendah sepanjang sejarah.

Selain mendorong daya beli, kebijakan ini diharapkan merangsang peningkatan produksi dunia usaha dan memberikan multiplier effect kepada industri jasa keuangan. Asuransi adalah salah satu sektor yang diharapkan menuai berkah dari pemberian stimulus tersebut karena setiap peningkatan kegiatan ekonomi akan berdampak pada peningkatan kebutuhan asuransi.

Pertanyaannya adalah apakah kebijakan stimulus fiskal dan moneter ini akan efektif mengungkit perekonomian dan memberikan multiplier effect kepada industri jasa keuangan? Jawabannya tergantung pada efektivitas vaksinasi. Secara grafik memang tren kasus positif menurun, tetapi bukan berarti pandemi Covid-19 sudah terkendali. Virus ini masih ada dan masih terus menyebar ke seluruh penjuru negeri ini. Efektivitas vaksinasi benar-benar menjadi pertaruhan apakah ekonomi Indonesia akan pulih atau justru akan kembali terpuruk.

Hingga 2 Maret 2021, realisasi vaksinasi dosis pertama baru sekitar 1,93 juta orang atau masih jauh dari target pemerintah sebanyak 182 juta orang untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). Pasalnya, kekebalan yang dihasilkan dari vaksinasi akan tercapai jika kekebalan kolektif atau komunitas yang sudah divaksin mencapai 70 persen dari total penduduk Indonesia. Dengan catatan, vaksinasi yang dilakukan berjalan efektif. Karena banyak cerita yang mengungkapkan bahwa orang yang sudah divaksin justru terkonfirmasi positif Covid-19. Mari kita tunggu sejauhmana vaksinasi ini memberikan efek bagi penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi. Achmad Aris