Eksekutif Asuransi Hobi Bersepeda Tak Sekadar Ikut Tren

    Di tengah pandemi Covid-19 melanda Indonesia, mendadak bersepeda menjadi olah raga yang digemari masyarakat. Fenomena ini otomatis membuat pedagang sepeda ketiban berkah. Mulai dari merek dalam negeri, hingga sepeda impor, semua laris terjual. Dari harga paling murah, hingga yang dibanderol puluhan, bahkan ratusan juta, diserbu pembeli. Tren bersepeda ini ternyata juga diikuti oleh sebagian eksekutif asuransi. Selain untuk kesehatan, olah raga ini juga memberikan manfaat besar untuk membangun relationship antarkomunitas pesepeda dari berbagai industri. 

    Belum lama ini cukup viral di media sosial fenomena orang Indonesia yang memborong sepeda Brompton dari luar negeri. Banyak yang terheran-heran, negara yang ekonominya terancam resesi, warganya justru ramai-ramai membeli sepeda buatan Inggris ini. Soal harga, tentu sepeda jenis ini termasuk barang mewah harga paling rendah sekitar Rp30 jutaan.

  Berita viral tersebut ternyata juga diikuti oleh sosok yang saat ini berkiprah di industri asuransi, yaitu Kepala Divisi Syariah PT Asuransi Asei Indonesia (Asuransi Asei) Wahyudin Rahman yang juga menyukai olah raga bersepeda ini. Kepada Media Asuransi, Wahyudin mengaku bahwa bersepeda ini tidak hanya dilakoni untuk event-event ‘gowes’ dengan anggota komunitasnya saja. Namun tidak jarang, pria yang berdomisili di bilangan Depok, Jawa Barat ini, berangkat kerja dengan ‘maracak’ sepeda kesayangannya atau yang biasa disebut Bike to Work (BTW). Baginya ada keasyikan tersendiri, saat menyusuri setiap jengkal jalan yang dilaluinya dengan bersepeda.

   Wahyudin mengatakan BTW ini sudah menjadi tren bagi sebagian eksekutif untuk ke kantor. Untuk BTW ini, biasanya dibuat janji temu dulu dengan anggota komunitas yang tempat searah kerjanya. Setelah berkumpul di titik yang ditentukan, baru berangkat bersama menuju kantor. “Terkadang kerja dengan bersepeda bareng bisa mencapai 10 orang. Ini juga bagus untuk menyiasati program genap ganjil lalu lintas dari pemerintah. Bahkan dari BTW ini bisa terbentuk juga komunitas baru Asuransi belum lama ini.

    Untuk menyalurkan hobi bersepeda ini, Wahyudin bergabung dengan dua komunitas bersepeda, yaitu komunitas di wilayah domisilinya yang dikenal dengan Seli Depok. Komunitas ini beranggotakan lebih dari 100 orang terdiri dari berbagai profesi. Kedua, bergabung dengan komunitas internal Asei dengan nama Cyclonasei.

   Wahyudin menuturkan tujuan utama menggeluti bersepeda ini, selain hobi, tentunya juga untuk kesehatan, tetapi momen bersepeda juga dapat menjadi ajang untuk membicarakan bisnis. Olah raga bersepeda ini, berfungsi juga sebagaimana golf, yakni dapat membangun relationship. “Tidak menutup kemungkinan, komunitas sepeda dapat dimanfaatkan untuk membangun jaringan bisnis,” tuturnya. Hingga saat ini, Wahyudin memiliki tiga koleksi sepeda, yaitu satu sepeda lipat jenis 3sixty, Dahon Broadwalk, dan MTB Polygon.

   Wahyudin mengaku menyediakan waktu khusus bersepeda 2-3 kali dalam satu minggu di saat pandemi Covid-19 ini, mengingat waktunya di rumah lebih banyak. Namun, di saat normal hanya sekali dalam seminggu yaitu ketika weekend. Sekali bersepeda, dapat menempuh jarak rata-rata sekitar 15-20 kilometer, dengan durasi sekitar 60-70 menit. Otomatis, katanya, harus menyediakan waktu minimal 2 jam, termasuk untuk beristirahat di jalan untuk minum-makan dan ngobrol dengan teman satu tim.

    Wahyudin menambahkan dirinya tidak memiliki jalur khusus dalam bersepeda, tetapi yang sering dikunjungi adalah di sekitaran hutan Universitas Indonesia (UI) dan jalur dari rumah menuju kantor saat BTW. Jalur kerja ini merupakan track tara pagi dan sore, tetapi saya lebih suka pagi, karena udara yang masih bersih dan belum terlalu panas. Bahkan sesekali juga bersepeda di malam hari, tapi itu tidak direkomendasikan untuk kesehatan,” katanya.

   Terkait isu yang berkembang tentang pengenaan pajak bagi sepeda, Wahyudin kurang setuju jika kebijakan tersebut betul-betul diterapkan. Dirinya beralasan bahwa sepeda bukanlah kendaraan yang memiliki emisi dapat mencemari udara. Bahkan, bersepeda termasuk upaya mendukung pemerintah untuk menyukseskan program go green.

  Namun untuk menerapkan aturan lalu lintas khusus bagi pesepeda, dirinya sangat mendukung. Pasalnya dengan memberikan rambu-rambu tertentu di jalan raya bagi pesepeda itu membuktikan bahwa pemerintah memiliki perhatian bagi pesepeda. “Bahkan di beberapa negara, pemerintahnya memberi perlakuan khusus untuk kenyamanan para pesepeda. Jadi, saya kira tidak pas jika dikenakan pajak,” jelas Wahyudin.

    Sebagaimana Wahyudin, Senior Underwriter PT Tugu Pratama Indonesia (Tugu Insurance) Yayat Supriyatna juga berpendapat bahwa bersepeda ini dapat dijadikan sebagai ajang membangun relasi bisnis. Selain olah raga, memperkuat pertemanan, dan ikut menjaga kelestarian alam, dengan bersepeda kita juga dapat menikmati keindahan alam.

   Yayat mengatakan bahwa untuk aktivitas bersepeda ini dilakukannya sendiri dan terkadang beramai-ramai. “Namun lebih saya sukai jika bersama teman-teman. Karena lelahnya tidak terasa dan bisa menikmati kebersamaan. Semangatnya sangat terasa. Selain itu juga menambah koneksi. Sekalipun hanya ngobrol-ngobrol ringan, ada keasyikan tersendiri yang dirasakan,” ungkapnya kepada Media Asuransi beberapa waktu lalu.

    Untuk bersepeda ini, Yayat memiliki filosofi khusus. Bahwa setiap gerakan kaki dalam mengayuh itu merupakan effort untuk mencapai apa yang diinginkan. Selain itu juga dari sisi balancing dan keseimbangan tubuh yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena keseimbangan itu akan tercipta karena ada pergerakan. Artinya jika hanya tetap diam tanpa pergerakan maka keseimbangan hidup ini akan hilang.

    Sama seperti halnya dalam berbisnis, kalau hanya tertumpu pada satu kondisi saja, bisnis tidak akan berkembang. Karena bisnis itu akan mengalami kondisi-kondisi tertentu yang tidak diduga. “Oleh karenanya, ada kalanya seseorang butuh keluar dari zona nyaman agar selalu ada keseimbangan dalam berbisnis, sebagaimana setiap gerakan kaki dalam bersepeda,” ujarnya.

  Saat ini, Yayat tergabung dalam komunitas bersepeda di internal perusahaan Tugu Insurance yang total anggotanya sekitar 25 orang yang di kantor pusat. Untuk hobi ini, dia memiliki agenda ‘gowes’ sekali dalam seminggu bersama komunitasnya. “Namun kita tidak memiliki hari yang pasti, tergantung kesepakatan para anggota. Yang paling sering disepakati adalah hari Rabu di luar jam kantor. Saya tidak pernah BTW karena jarak rumah dengan kantor yang jauh. Sejauh ini saya bersepeda sekadar untuk olah raga serta membangun silaturahmi saja, belum sebagai alat transportasi bekerja,” ungkap pria yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat ini.

   Kepada pemerintah, dirinya berharap agar terus memberi keluasan fasilitas dengan menambah titik-titik tertentu lokasi yang mendukung masyarakat untuk aktif bersepeda. Terkait isu pemungutan pajak untuk pesepeda, ia mengaku setuju-setuju saja, dengan catatan dana tersebut dialokasikan untuk kepentingan para peseda dalam menyediakan fasilitas.

    Untuk olah raga ini, Yayat mengaku bahwa dirinya menikmati bersepeda sudah sedari kecil, bukan karena pandemi atau karena mengikuti tren. Baginya, bersepeda lebih memandang kepada kebutuhan, terutama untuk kesehatan serta refreshing. Oleh karena itu Yayat selama ini hanya punya satu sepeda, yaitu jenis Urbano. “Sudah punya satu dan masih enak dipakai, itu sudah cukup. Kalaupun ada keinginan untuk memiliki jenis tertentu, yang lama akan dijual atau dihibahkan ke orang lain,” jelas pria kelahiran Jakarta berdarah Sunda ini. B. Firman