Family Quality Time di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak kebiasaan sehari-hari. Para profesional dan eksekutif perusahaan yang biasanya waktunya lebih banyak dihabiskan di kantor, kini justru berkantor di rumah karena menjalani work from home (WFH). Hal ini memungkinkan interaksi dengan anggota keluarga menjadi lebih banyak, minimal berada di dalam ruang yang sama dalam waktu lebih lama dibandingkan sebelum pandemi.

Pandemi Covid-19 memang memberikan pengaruh sangat besar terhadap kehidupan sosial masyarakat. Hanya dalam waktu sekejap, Covid-19 sudah berhasil menjajah kebebasan masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia. Sebagai bagian dari upaya untuk memutus penyebaran Covid-19 secara massif, masyarakat “dipaksa” untuk melakukan berbagai kegiatan sosial yang dibatasi dengan dinding pagar rumah.

Hal ini diungkapkan oleh Presiden Direktur PT Tugu Reasuransi Indonesia Adi Pramana bahwa kebersamaan yang utama pada saat jam makan siang. Kalau dulu jam makan siang sudah pasti enggak pernah di rumah, sekarang lebih banyak di rumah. “Pas jam makan siang biasanya bareng, yang sekolah jam 1 sudah mulai lagi sehingga langsung saja waktu jam 12 makan. Saya juga sama, biasanya ada meeting-meeting, pas jam 12 berhenti, juga langsung makan. Sehingga kami biasanya dapat makan bareng saat makan siang. Itu yang paling utama. Kebersamaan di meja makan pas makan siang,” kata Adi Pramana dalam perbincangan via telepon dengan Media Asuransi.

Untuk akhir pekan, karena pandemi, saat ini pilihannya jadi terbatas. “Kalau saya, liburan biasanya modelnya agak panjang. Jadi enggak cuma weekend terus balik lagi, enggak seperti itu. Biasanya kita liburan yang agak panjang, agar benar-benar refresh,” jelasnya.

Walau sudah cuti, kenyataannya selama ini liburannya sering terpotong, karena harus balik kantor, kemudian balik lagi ke tempat liburan. “Itu keluarga saya sudah paham, saat liburan di luar kota, ditinggal balik ke kantor di Jakarta, lantas menyusul lagi ke sana untuk melanjutkan liburannya. Mereka sudah paham, karena hal seperti ini sudah sering terjadi, tidak cuma sekali atau dua kali,” katanya.

Bersama istri dan dua orang anaknya, Adi Pramana biasanya merencanakan liburan bersama setahun dua kali. Biasanya satu kali keluar kota yang destinasi wisata Nusantara, sedang yang satu lagi ke destinasi wisata di luar negeri. Menurut dia, sejak tahun 2011 sebenarnya lebih banyak liburan yang Nusantara. Beberapa tahun terakhir disepakati, dalam setahun satu kali liburan ke luar negeri dan satu lagi ke destinasi Nusantara. “Semenjak pandemi Covid-19 ini kami menjadi lebih hati-hati. Untungnya, Alhamdulillah untuk tahun 2020 lalu, masih sempat liburan bareng ke luar negeri pada awal tahun,” ujarnya.

Selama pandemi yang telah berlangsung sekitar 10 bulan, Adi Pramana mengaku baru dua kali liburan ke luar kota bareng keluarga. Pergi ke luar kotanya juga tidak terlalu jauh, yang dapat ditempuh dengan perjalanan menggunakan mobil. Ini pilihan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, hal yang tak dapat dilakukan jika menggunakan angkutan umum.

Namun menurutnya, tidak benar-benar liburan, melainkan ganti suasana saja. “Karena perginya pas weekday, ujung-ujungnya bawa laptop juga sih. Jadi sepertinya cuma pindah WFH saja, dari rumah ke luar kota. Apakah keluarga tidak protes? Semua bawa laptop. Anak yang sekolah ya tetap sekolah, kami yang kerja ya tetap kerja. Jadi hanya pindah tempat. Ganti suasana saja,” jelasnya.

Kalau weekend menurutnya, lebih banyak kumpul di rumah. Hiburannya lebih banyak pada nonton. “Selama pandemi ini kami lebih banyak langganan channel film. Kalau dulu ada HBO, sekarang ada Netflix, Disney plus, Galaxy Premium, jadi ada banyak pilihan,” jelasnya.

Mengapa pilih weekday untuk liburan ke luar kota? karena dinilai lebih longgar. Kalau weekend, kita ke tempat manapun di Indonesia ini pasti ramai. Selain itu, Adi bersama keluarga memilih satu tempat yang protokol kesehatannya memang ketat, kemudian di sana ya hanya di kamar saja. Misalnya saat glamping di Trizara Resort di Lembang, pertengahan tahun 2020, aktivitas lebih banyak di dalam tenda. “Makanan dipesan dan diantar ke tenda. Jadi enggak main-main ke tempat wisata, bahkan ke restoran juga tidak. Hanya ganti suasana dan cari udara segar yang berbeda saja,” katanya.

Adi Pramana mengakui, selama pandemi ini ada yang hilang dari kebiasaan mereka sekeluarga dalam merencanakan liburan. “Sebelum pandemi, saat akan liburan bareng selalu mengatur sendiri. Tidak ikut paket tur, karena istri saya senang planning jauh-jauh hari kemudian dirinci mau ke mana saja. Istri saya hobi membuat perencanaan semacam itu. Nah pandemi ini, hobinya berkurang satu. Sebagai gantinya, dia suka nonton film Korea sekarang ini,” tuturnya.

Dampak WFH juga dirasakan oleh Head of Syariah, Great Eastern Life Indonesia, Sangkut Wijaya. Diakuinya sejak merebaknya pandemi Covid-19 atau lebih dari 10 bulan, perusahaan tempatnya bekerja telah memberlakukan WFH bagi pekerjaan karyawannya. “Kami di Great Eastern Life Indonesia sejak pandemi Covid-19 mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan WFH. Itu artinya saya sudah lebih dari 10 bulan melakukan kegiatan pekerjaan full di rumah,” kata Sangkut Wijaya kepada Media Asuransi, baru-baru ini.

Diakuinya, kondisi WFH membutuhkan penyesuaian yang ekstra. Rutinitas yang menjadi keseharian sebelum merebaknya Covid-19, berangkat pagi dan pulang malam, sudah menjadi hal yang biasa dia lakukan. Kini mesti berubah lagi. Terlebih, mengusir rasa bosan sulit dihindari saat melakukan berbagai kegiatan yang hanya dibatasi dinding rumah.

Untuk mengusir rasa bosan, pilihannya adalah melakukan aktivitas bareng keluarga tercinta atau istilahnya family quality time. Menurut Sangkut, banyak hal yang dapat dilakukan untuk menciptakan hal tersebut, mulai dari berdiskusi dengan anak dan istri tercinta, menjadi asisten chef, menanam sayuran dan bunga di halaman rumah hingga membaca buku menjadi kebiasaan barunya di rumah. Tentu saja, selain menjalankan amanah sebagai Head of Syariah di Great Eastern Life Indonesia.

Sangkut Wijaya yang juga Wakil Ketua dan Sekretaris Jenderal Islamic Insurance Society (IIS) ini mengatakan bahwa pandemi Covid-19 mengajarkan kita untuk menjaga Imun, Iman, dan Amin. “Selama WFH ada banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebersamaan. Hal positif lainnya, saya dan keluarga bisa beribadah tepat waktu dan dilakukan secara berjamaah,” jelasnya.

Hal menarik lainnya, lanjut dia, adalah selama pandemi Covid-19 ini dirinya diangkat sebagai Ketua DKM Mushola At-Taufiq di lingkungan kediamannya. Hal ini pula yang menjadikan dirinya memiliki banyak kegiatan keagamaan yang dulu jarang diikuti, seiring dengan kesibukannya. Dia juga kini sering melakukan kegiatan bersepeda bersama keluarga dan komunitas di DKM Mushola At-Taufiq.

“Kegiatan ibadah di awal pandemi, mushola di kediaman kami sempat ditutup dan seluruh warga beribadah di rumahnya masing-masing. Tetapi sekarang sudah dibuka dengan protokol kesehatan ketat dan itu menjadi tanggung jawab saya sebagai ketua DKM untuk kembali menghidupkan kegiatan di mushola meski dengan protokol kesehatan yang ketat,” ungkapnya.

Selama menjabat sebagai Ketua DKM Mushola At-Taufiq, tugas berat juga melingkupinya untuk melanjutkan pembangunan TPA At-Taufiq, yang saat ini pembangunannya sudah lebih dari 80 persen. Biaya berasal dari dana infak dan shodaqoh masyarakat. “Banyak bantuan tak terduga yang diberikan untuk pembangunan TPA ini, bahkan dari orang tidak dikenal. Mungkin melihat dari status di media sosial saya, kemudian banyak yang turut memberikan bantuannya,” pungkasnya. S. Edi Santosa/Caca Casriwan