Menyesuaikan Diri dengan Kebiasaan Baru di Masa Pandemi Covid-19

    Sejak pandemi Covid-19 merambah ke Indonesia, banyak perubahan yang terjadi pada pola hidup dan kebiasaan para eksekutif di negeri ini. Tak terkecuali tokoh-tokoh di industri asuransi. Ditambah lagi adanya anjuran untuk di rumah saja, menjadikan pola interaksi dan sosialisasipun bergeser ke bentuk yang lain. Mulai dari silaturrahim bersama keluarga, hingga untuk bersosialisasi dengan sesama rekan kerja. Semua dilakukan dari kediaman masing-masing secara online. Di satu sisi mungkin hal ini memberikan efek jenuh, karena dalam berbagai hal sudah terbiasa berinteraksi secara langsung. Dengan kondisi seperti ini, ada nilai positif dan ada pula tantangannya. Pada edisi ini, akan diungkap bagaimana tiga orang Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi menghadapi pola baru dalam beraktivitas seharihari dalam kondisi yang tak lazim akibat Corona.

      Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody AS Dalimunthe tidak menyangka bahwa Covid-19 akan menjadi epidemi di Indonesia. Tak terbayang sebelumnya bagi Dody, bahwa semua orang akan melakukan social distancing dan physical distancing. Namun untuk mencegah dampak yang lebih besar, merespons secara cepat menerapkan Work from Home (WFH) bagi pekerja serta School from Home (SFH) bagi siswa, cukup efektif serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi keluarga.

        Kepada Media Asuransi, Dody mengaku untuk menjaga kebugaran dan kesehatan di kala harus menjalani WFH, dirinya terus berupaya berpikir positif, mengkonsumsi makanan sehat, istirahat yang cukup, dan mengatur ritme kerja selama di rumah. Selain itu, menyempatkan berolah raga dan beribadah serta meningkatkan tawakkal kepada Allah SWT.

      Dody mengatakan pola WFH sebetulnya dapat menciptakan work life balance. Etos kerja akan terlihat saat tidak ada pengawasan fisik dari kantor, namun kualitas proses dan hasil kerja akan ditunjukkan saat melaporkan pekerjaan tersebut. Dalam WFH ini, lanjutnya, seseorang akan menyeimbangkan kegiatan menyelesaikan pekerjaan di saat bersamaan juga dihadapkan kepada perannya di rumah tangga maupun masyarakat. “Bagi pekerjaan yang sebelumnya harus hadir secara fisik maupun banyak melakukan aktivitas fisik, maka kegiatan ini akan terhenti. Bahkan beberapa perusahaan melakukan efisiensi biaya dengan memberhentikan karyawan karena relatif tidak ada pekerjaan. Ini adalah sisi negatifnya,” ungkap Dody.

       Sembari menyelesaikan tugastugas kantor, untuk mengatasi kejenuhan
selama PSBB di rumah, Dody melakukan kegiatan yang jarang dilakukan saat kondisi normal yaitu memperhatikan tanaman di pekarangan rumah, dan mencoba berkebun. Sesekali dirinya juga melakukan kegiatan selingan seperti membaca, bermain musik, menonton film, dan lainnya.

      Untuk asupan gizi dan vitamin selama pandemi, Dody memilih yang alami, yaitu kapsul minyak zaitun, kadangkala dikombinasi dengan air jeruk nipis dan madu. Apalagi jika dikonsumsi saat sahur, yang insyaallah dapat menjaga kondisi tubuh jika saat berpuasa.

       Sebagai seorang muslim yang juga menjalani puasa Ramadhan dan Idul Fitri saat masa pendemi, Dody merasakan suasana yang berbeda di tahun ini. Pada kondisi normal di tahun-tahun sebelumnya, dirinya jarang dapat buka puasa dan sholat tarawih bersama keluarga, karena sering ada jadwal dengan rekan kerja. Tapi di Ramadhan tahun ini, ia dapat melakukan kegiatan tersebut bersama keluarga satu bulan penuh. Namun tetap ada rasa kehilangan, yaitu momen i’tikaf di masjid saat 10 hari terakhir Ramadhan, yang biasa dilakukan. “Banyak pelajaran yang diperoleh selama pandemi ini. Kita dihadapkan kepada tuntutan etos kerja yang baik, diimbangi keahlian yang kompeten, karena banyak perusahaan dengan mudah memberhentikan karyawan untuk mengurangi beban biaya. Setelah masa pendemi ini berakhir, mudahmudahan semua akan sadar betapa berartinya kompetensi,” tandas Dody.

       Tidak jauh berbeda dengan Dody, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu juga memiliki kiat khusus untuk menjaga imun di saat pandemi Covid-19, yaitu dengan berupaya mengelola energi, emosi dan pikiran agar tidak stres, karena stres berpengaruh kepada imunitas. Togar mengaku dirinya selalu menerapkan gaya hidup lebih teratur selama selama pandemi seperti tidur yang cukup, memperhatikan asupan dan gizi, banyak minum air mineral dan vitamin C atau multivitamin.

       Selain itu, lanjut, Togar, dirinya menerapkan perilaku segera mengganti
baju setelah keluar rumah dan mendukung physical distancing, menggunakan masker dan rajin mencuci tangan sebagai langkah awal untuk mengantisipasi dan memutus rantai penyebaran Covid-19. “Semua hal itu tampaknya akan tetap saya lakukan meski PSBB akan tidak diberlakukan lagi, untuk tetap menjaga kesehatan sebagai bagian dari The New Normal,” ungkap Togar pada Media Asuransi.

      Untuk mengusir kejenuhan saat dianjurkan WFH oleh pemerintah, Togar mengaku lebih banyak melakukan interaksi dengan keluarga, bermain dengan anak-anak atau berdiskusi serta mendampingi anakanak belajar. Selain itu, juga memiliki waktu lebih banyak untuk mengurus koleksi-koleksi prangko yang sudah cukup lama ditekuni namun sempat terhenti karena kesibukan sehari-hari. “Mumpung WFH, hobi ini diteruskan kembali,” ujarnya.

      Dia menilai bahwa sisi positif dari WFH adalah lebih banyak melakukan
urusan kerja di rumah, dekat dengan keluarga dan tidak perlu berada dalam kemacetan di jalan. Namun di sisi lain, lanjutnya, WFH sejatinya bukan merupakan kebiasaan atau praktik yang dapat dilakukan oleh sebagian besar orang, sehingga berdampak pada lambatnya respons dan progres pekerjaan. “Dalam situasi menantang saat ini, bisa lebih dekat dengan keluarga di rumah. Sementara itu untuk menjalin interaksi dengan kerabat maupun rekan kerja, saya melakukan komunikasi virtual,” kata Togar.

       Karena konektivitas tetap terjaga, Togar mengaku tetap dapat bekerja dan berkoordinasi dengan tim dan rekan kerja dari rumah masing-masing. “Saya tetap bisa mengobrol dan bercanda dengan sahabat-sahabat saya. Saya juga tetap dapat berunding bersama kolega di AAJI untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar para pelaku industri asuransi jiwa dapat bersama melalui masa yang penuh tantangan ini,” tambahnya.

     Togar melanjutkan bahwa semua pasti ingin tetap sehat, bekerja kembali dan perekonomian bergerak kembali. Tetapi tentu semua sekarang berbeda. “Saya ingin mengimbau teman-teman dan rekan-rekan untuk menyesuaikan dengan gaya hidup yang baru atau The New Normal ini. Untuk teman-teman di industri asuransi jiwa, kita akan terus bersama-sama melalui tantangan akibat perubahan pada masyarakat. Kita semua harus bisa mempelajari hal baru, bersikap adaptif agar industri kita terus maju,” tandasnya.

      Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Erwin Noekman juga menuturkan pengalamannya selama pandemi  Covid-19 kepada Media Asuransi. Menurut Erwin, menjalani WFH karena pandemi, membuat dirinya merasa lebih produktif dan efektif dalam bekerja. Waktu tidak terbuang untuk menuju satu tempat pertemuan. Setiap pagi, selesai shalat dan rangkaian ibadah pagi, sudah dapat langsung bekerja di depan laptop.

        Bagi Erwin, pandemi Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir di Indonesia bukan lagi melahirkan new normal tapi juga menciptakan new norm (norma baru), yaitu sebuah adab baru. “Saya selaku anak dari orangtua atau selaku adik dari kakak-kakak saya, melakukan  silaturrahim dengan video call, bukan dengan mengunjungi beliau. Hal ini barangkali menjadi hal yang absurd, bila dilakukan dalam kondisi normal,” ujarnya.

       Kegiatan serupa (video conference) juga dilakukan untuk berkaba dengan rekan dan kerabat. Begitu juga dengan kegiatan ibadah saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, norma barunya adalah tahun ini menjadi ajang pertama kali bagi Erwin imam dan khatib saat Shalat Idul Fitri di tengah keluarga.

     Saat ditanya terkait suplemen untuk menjaga imun tubuh selama pandemi, Erwin menjawab secara rutin, bahkan sebelum ada pandemi, dirinya sudah terbiasa mengkonsumsi jahe dan infused water. Ketika  pandemi, ia juga mendapat tambahan vitamin dan kalsium alami berupa sinar matahari pagi saat berjemur yang rutin dilakoni selama pandemi. “Tidak ada olahraga tambahan atau khusus yang saya lakukan. Sesekali relaksasi setelah duduk di depan laptop. Dan sesekali berjemur untuk mendapatkan asupan vitamin D alami,” ucap Erwin beberapa waktu lalu.

        Erwin pun berharap, semoga wabah ini bisa segera berakhir, dan semua bisa kembali beraktivitas dan beribadah secara normal. Dia juga berharap dampak lanjutan dari pandemi tidak berpengaruh secara sistemik bagi perekonomian. “Masa pandemi bisa menjadi sebuah momentum yang baik (bagi yang berpikir) untuk melakukan muhasabah dan introspeksi diri. Mengutip kisah Nabi Yusuf, ada baiknya setiap kita melakukan hal serupa yaitu saving untuk menghadapi masa sulit. Momentum ini juga bisa mengingatkan kita untuk memisahkan ‘kebutuhan’ (needs) dan ‘kemauan’ (wants). Saatnya berpikir rasional dan taktis, utamakan kebutuhan dan kurangi kemauan,” pungkasnya. B. Firman