Menempa Karakter Diri dengan Oprek Mobil dan Motor Klasik

Hobi tidak selamanya menjadi sebuah kegiatan untuk mengisi waktu luang atau hanya kegiatan yang ‘membuang’ duit saja. Tengok saja orang–orang sukses, banyak di antaranya yang memulai bisnis dari kegiatan yang awalnya kesenangan atau hobi. Hobi juga dipercaya dapat menempa karakter seseorang, bahkan ada banyak hal yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan.

Kali ini kita akan mengulik hobi eksekutif industri jasa keuangan, yakni otomotif klasik, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Bagi Mohamad Jusuf Adi, Ketua Umum Apparindo (Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia), dunia otomotif sudah menjadi bagian dari kehidupan sejak masih remaja. Sang paman lah yang mengenalkan dirinya dengan dunia otomotif.

Pria yang akrab disapa Adi ini, tidak hanya mengenal seluk-beluk mesin, dia juga mencintai dunia otomotif khususnya mobil klasik bermesin turbo yang biasa dipakai untuk kegiatan offroad. Kecintaannya dimulai saat ada kesempatan untuk memiliki sebuah mobil ‘rongsokan’ klasik jenis Hard Top dan Land Cruiser.

Dengan telaten, mobil yang dibelinya dalam kondisi mati tersebut ‘dioprek’ sendiri. “Saya punya mobil Hard Top dan Land Cruiser, benar- benar dari bahan dan tentunya butuh waktu lama untuk perbaikannya. Dari sana saya belajar membongkar mesin dan memasang lagi. Benar-benar saya belajar ngoprek mobil itu sampai laik jalan,” ungkap Adi, Februari 2021.

Dia belajar otodidak mengoprek mobil jenis klasik tersebut hingga berhasil, berkat dorongan pamannya. Sang paman menyarankan untuk berani praktik secara langsung, mulai dari memitigasi kerusakan yang ada, hingga memburu sparepart-nya yang kala itu memang sangat sulit didapat. “Saya belajar secara otodidak, mulai belajar di bengkel paman. Memang, saat di SMA ada mata pelajaran mesin, makanya saya praktik langsung di bengkelnya,” jelasnya.

Menurut Adi, hobi otomotif klasik memiliki filosofi tersendiri, yakni komitmen. “Komitmen itu diartikan sebagai hobi yang membutuhkan waktu, tenaga, materi, hingga kesabaran tingkat tinggi atau ekstra. Mengapa demikian, karena memiliki hobi otomotif itu tidak bisa setengah-setengah, terlebih hanya ikut-ikutan tren saja. Pasalnya akan ada banyak waktu yang mesti diluangkan, biaya yang tidak sedikit, dan butuh kesabaran untuk membangunnya,” ungkap bapak dua puteri ini.

Menurut Adi, hobi mobil lawas itu banyak tantangannya. Mulai dari mencari sparepart saja sudah menjadi tantangan tersendiri. “Zaman saya dulu belum ada internet. Kalau tidak ada sparepart-nya harus cari solusi mencari penggantinya, atau bisa dengan bikin. Itu tantangannya, kita jadi memiliki kreativitas yang tinggi,” katanya.

Adi mengakui, dunia otomotif klasik memberi pengaruh besar dalam menempa karakter dirinya untuk menjadi orang yang pantang menyerah dan memiliki kreativitas tinggi. Selain itu, memiliki kesabaran dalam menghadapi banyak hal, baik kehidupan pribadi maupun dunia pekerjaan.

Hingga saat ini, di tengah kesibukannya yang sangat padat, Adi masih menyempatkan diri untuk berbagi pengalaman menangani mobil klasik dan offroad dengan berbagai klub. Terlebih dalam komunitas para pecinta mobil klasik Land Rover, dan didapuk sebagai ketua klub yang ada di bilangan Halim Perdana Kusuma. Sebagian besar anggota klub ini berasal dari Angkatan Udara. “Kebetulan ada lahan di Halim, akhirnya kita jadikan sebagai Dirgantara Offroad Track untuk latihan offroad,” paparnya.

Kegiatan offroad ini juga bisa sebagai ajang melakukan kegiatan sosial di berbagai daerah dengan sesama anggota klub. Tidak sedikit yang mengundang untuk berkumpul bersama para offroader dan pecinta mobil Land Rover Klasik lainnya. “Kita Sering dapat undangan kumpul-kumpul dengan klub lain bisa di Hambalang, Sentul, Puncak, Sukabumi, hingga Cikole, Bandung,” tuturnya.

Dunia otomotif klasik juga bukan hal baru bagi Putrama Wahju Setyawan yang kini menjadi orang nomor satu di PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo). Kecintaannnya terhadap dunia otomotif sudah tumbuh sejak kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bisa dibilang, Iwan, sapaan akrabnya, merupakan biker kelas berat. Tidak hanya mahir mengendarai tunggangan ber-cc besar, tetapi juga rajin utak-atik tunggangan kesayangannya yang merupakan produk asal Inggris. Kini ada motor BSA, Norton, AJS atau ARIEL yang menghuni garasi rumahnya di bilangan Bekasi, Jawa Barat.

“Kecintaan pada motor antik dimulai sejak kuliah. Dulu saya beli motor tua lalu diperbaiki dan jual lagi. Selain mencari uang tambahan, saya memang suka motor yang antik. Jadi menyalurkan hobi sekaligus mendapat uang tambahan. Seperti dalam bisnis, untuk membuka bisnis, tentu harus dimulai dari kesukaan kita, jadi kita juga bisa all out dalam mengelola bisnis tersebut,” kata Putrama.

Alumni Fakultas Kehutanan UGM ini mengaku, kini nyaris sudah tidak ada waktu untuk berkeliling melakukan touring. Jadi, dia hanya bisa memoles dan mengelap motor di rumah. “Di tengah kesibukan saya saat ini, belum ada waktu yang tepat untuk touring lagi. Jadi hanya sesekali saja digunakan di perumahan atau sekitarnya, sekalian manasin motor,” ungkapnya.

Putrama bercerita, hobinya tersebut banyak memberikan pengajaran dalam membentuk dirinya seperti saat ini. Selain melatih kesabaran juga mendukung dalam hal ketelitian dalam mengerjakan apapun, baik di kehidupan pribadi maupun pekerjaan.

“Menangani motor antik atau motor tua memang butuh kesabaran, karena memang sentuhannya berbeda dengan motor pabrikan terbaru, mulai dalam mendapatkan sparepart-nya hingga menjadikan cocok dengan karakter kita. Semua pelajarannya dapat diaplikasikan dalam kehidupan pribadi maupun
pekerjaan kita, dan itu sangat membantu,” kata pria asal Kota Gudeg ini. Caca Casriwan