Menikmati Keseruan Perjalanan Mudik-Balik Lebaran

Berlebaran di kampung halaman adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Berkumpul bersama keluarga, bersilaturrahmi, dan mengulang kembali nostalgia lama saat berhari raya, menjadi dambaan insan muslim yang berada jauh di perantauan. Akan tetapi ternyata kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, satu atau dua minggu setelah itu harus kembali mencari nafkah, menghadapi rutinitas pekerjaan seperti sediakala. Kesan indah selama liburanpun segera berlalu, seiring perjalanan balik menuju tanah rantau untuk melanjutkan episode kesibukan berikutnya. Namun paling tidak, ada keseruan yang layak untuk dikenang sebagai bagian dari cerita indah di hari kemenangan.

Menjadi fenomena menarik di negeri tercinta ini, sebuah tradisi, di sela-sela menjalankan ibadah puasa Ramadhan, saat menjelang hari raya Idul Fitri, umat Islam di perantauan bersiap pulang ke tanah asal yang biasa disebut dengan mudik. Saking maraknya mudik lebaran ini bagi masyarakat Indonesia, bahkan momentum ini seolah telah menjadi ritual tahunan, tentunya bagi yang memilki kemampuan dan kesempatan. Antrean ribuan kendaraan di perjalanan, letihnya berkendara yang terkadang dengan sepeda motor menempuh jarak ratusan kilometer, bahkan dengan mengorbankan waktu dan materi, tidak menjadi halangan untuk sekadar bersimpuh dan mencium tangan orangtua (Jawa: sungkeman) di hari yang fitri.
Tidak beberapa lama berkumpul bersama keluarga, tiba pula saatnya untuk kembali ke perantauan. Letih yang belum terobati, rasa kangen yang masih menggantung, namun tugas dan kewajiban juga siap menanti. Saatnya pula mengarungi arus balik lebaran, membawa asa baru, jika diberi umur panjang tentunya akan kembali lagi bermudik ria di lebaran tahun mendatang.
Saat balik kembali itulah, rasa haru berpadupadan menyesak dada saat berpamitan pada orangtua untuk berangkat melanjutkan perantauan. Kilauan bulir bening air mata menghiasi sudut kelopak mata lembut itu, melepas sang anak beserta keluarganya kembali berjuang di negeri orang. Sungguh terasa berat hati ini meninggalkan orang-orang tercinta beserta ribuan kenangan. Di kampung halaman, seberapapun lamanya itu, berkumpul bersama orang yang disayang, tidak akan pernah puas.
Perasaan itulah yang selalu mendera di hati Client Manager Vice President Reinsurance Asia Swiss Re Retakaful Delil Khairat, saat teringat momen-momen setiap kembali berangkat merantau setelah mudik lebaran. Momen mudik ke kampung bagi Delil adalah aktivitas refreshing yang paling efektif, setelah selama setahun menghadapi tumpukan pekerjaan. Dan dikampung lah dirasakan kehidupan yang tenang dan nyaman. Keadaan seperti itu yang terkadang membuatnya sadar bahwa kebahagiaan itu tidak selamanya bergantung pada materi. Bersilaturrahmi bersama keluarga, bertemu orangtua, adalah hal yang luar biasa kenikmatannya. Nah, pada saat mengakhiri itu semua, saat tiba waktunya balik ke perantauan, perasaan haru pasti menyerang. Seiring langkah kaki meninggalkan kampung halaman.
Saat ngobrol santai dengan Media Asuransi beberapa hari yang lalu, Delil menceritakan bahwa untuk lebaran tahun ini dirinya pulang ke kampung halaman istrinya di Klaten, Jawa Tengah. Pria yang lahir dan dibesarkan di Kerinci, Provinsi Jambi ini memang tiap tahun menggilir tempat untuk berlebaran, antara di kampung halamannya di Sumatera dan ke tempat mertuanya di Klaten. Sekalipun Delil berkantor di Kuala Lumpur Malaysia, dia tetap mengusahakan selalu pulang setiap menjelang lebaran. Bahkan, bukan saja saat bertugas di negeri jiran, saat berada di Timur Tengah pun, pria yang pernah bekerja di Bahrain ini mengaku kalau lebaran di tanah kelahiran adalah hal yang selalu diimpikan-nya. “Saya selalu berharap bisa berlebaran di Indonesia, baik itu di tanah kelahiran saya, ataupun di kampung istri di Klaten. Untuk tahun ini kami pulang bersama, namun balik lagi ke KL (Kuala Lumpur) istri saya sudah duluan karena pertimbangan anak-anak yang akan masuk sekolah. Karena saya masih ada urusan di Jakarta, jadi baliknya terpisah,” ungkap Delil.
Soal kenyamanan yang dirasakan di perjalanan, Delil mengaku tidak ada masalah, karena tiket pesawat telah dipesan
dari jauh hari. Untuk pemesanan luar negeri relatif tidak ramai hingga tidak rebutan, berbeda dengan perjalanan domestik di Indonesia saat arus mudik atapun arus balik. Begitu pula tantangan di perjalanan saat menuju Klaten, seperti antrean panjang yang terjadi di pintu tol Brebes tahun ini, Delil pun tidak merasakannya karena tidak menggunakan jalan darat.
Saat ditanya perbandingan tradisi lebaran di tanah air dan di luar negeri, ayah dua anak ini mengaku kalau dengan Malaysia tidak jauh berbeda, ada arus mudik dan ada arus balik juga. Namun di Bahrain yang terasa hanya silaturrahminya saja, arus mudik dan balik tidak terlalu kentara. “Dengan Malaysia tradisinya hampir sama, ada arus mudik dan ada arus balik. Cuma di sana tidak terlalu ramai seperti di Indonesia, mungkin karena Malaysia lebih kecil, dan penduduk Kuala Lumpur tidak sebanyak di Jakarta. Sedangkan di Bahrain relatif tidak ada keramaian dan antrean panjang seperti di Indonesia. Biasa saja, macet lalu lintas pun tidak ada. Mungkin karena, Bahrain cuma pulau kecil saja. Jadi tidak ada mudik dan baliknya,” lanjut Delil.
Jika Delil menggunakan pesawat untuk mudik dan balik, berbeda dengan Takaful Departement Head Technical PT Asuransi Wahana Tata Hero Wirasmara yang menikmati perjalanan darat saat mudik lebaran dan saat mengarungi arus balik. Hero mengaku bahwa hampir setiap tahun dia menggunakan mobil untuk pulang ke kampung istrinya di Painan, Sumatera Barat. Bahkan dia sendiri yang memacu mobilnya menyusuri Jalan Lintas Sumatera sepanjang 1.000 kilometer lebih.
Menurutnya, ada nilai kepuasan tersendiri saat mengarungi perjalanan jauh dengan mobil itu, yaitu nilai adventure
nya yang dia sukai. “Kalau di Sumatera itu, kita bisa memacu mobil hingga spedometernya menyentuh angka 140. Relatif sepi, yang bikin lama cuma saat menyeberang Selat Sunda saja. Awalnya saya sempat ragu juga nyetir sendiri, karena faktor umur, sedangkan anak saya masih SMA belum layak nyetir mobil, tapi ternyata saya kuat juga,” ungkap pria paruh baya ini pada Media Asuransi di kantornya beberapa hari yang lalu.
Selama di perjalanan, Hero mengakui memang sedikit harus hati-hati. Pasalnya, jika sudah melintasi daerah perkebunan karet ataupun sawit (sekitar daerah Lubuk Linggau Sumatera Selatan) pada tengah malam, sering terjadi perampokan yang biasa dikenal dengan aksi bajing loncat. Apalagi saat arus balik, arus mobil yang melintas daerah tersebut tidak ramai sebagaimana saat mudik. “Arus balik itu lebih sepi. Jadi harus sedikit hati-hati. Tapi karena kita konvoi dengan tiga mobil, jadi merasa yakni tidak akan ada yang berani nyetop. Apalagi tiap mobil itu membawa souvenir berupa parang (golok) khas daerah Painan. Ya… kita merasa berani saja jadinya… he… he…. Sebenarnya saat ini, juga sudah banyak pos-pos polisi di sekitar daerah itu,” tambah Hero.
Hero juga menceritakan bahwa saat balik, ia tidak langsung menuju Jakarta, melainkan mampir dulu di beberapa daerah untuk menikmati pemandangan dan kuliner setempat, seperti di Bukit Tinggi. Setelah puas berkeliling, baru perjalanan dilanjutkan kembali. Sesampai di Tangerang, tanah kelahirannya, Hero beserta keluarga juga bermalam terlebih dahulu di kediaman orangtuanya. Dan dari sini pulalah ayah tiga anak ini memulai perjalanan saat mudik ke Painan. “Kami tidak langsung jalan ke Jakarta, mampir dulu di Bukit Tinggi. Saya juga terlebih dahulu mampir di Tangerang, dan keesokan harinya berangkat ke Jakarta,” ungkapnya. Saat ditanya tentang tradisi atau kebiasaan khusus saat balik dari Painan, Hero menjawab bahwa tidak ada hal yang berbeda dengan orang mudik pada umumnya. Seperti orang bepergian jauh, tentunya sebelum berangkat balik dari Painan, keluarga Hero telah mempersiapkan bekal beserta oleh-oleh khas Sumatera Barat untuk dibawa ke Jakarta. Sama halnya saat berangkat mudik, juga membawa buah tangan khas Betawi. “Semua oleh-oleh yang akan dibawa, istri saya yang mempersiapkan. Biasalah kalau ibu-ibu memang begitu, mobil (Innova) jadi penuh, padahal penumpangnya cuma berlima. Jok belakang itu dilipat dan penuh dengan bawaan. Saya juga tidak tahu persis, apa saja yang dibawa,” kata Hero.
Soal perasaannya saat meninggalkan tempat berhari raya menuju perantauan untuk menghadapi rutinitas pekerjaan,
Hero mengatakan biasa-biasa saja. Bahkan dia juga mengatakan, seandainya terlalu lama di kampung, juga timbul rasa jenuh atau bosan. Baginya setelah pikiran cukup fresh dan kerinduan terhadap kampung sudah terobati, saatnya pula terjun kembali di kesibukan kantor. “Cukuplah seminggu atau dua minggu di kampung untuk berlebaran. Selanjutnya, ya harus kembali ke meja kerja lagi, bekerja seperti biasanya,” tandas Hero.
Demikianlah pengalaman perjalanan mudik dan balik saat lebaran yang memberi kesan di hari kemenangan. Setiap orang pasti memiliki pengalaman dan kesan berbeda, entah itu menggunakan transportasi darat, udara, maupun laut.
Namun yang perlu diingat, ke manapun bepergian agar selalu berhati-hati dan waspada. Serta jangan lupa mematuhi
rambu atau aturan yang ada. B. Firman