Treking dan ‘Memata-matai’ Tarsius Di Bukit Peramun

    Nama Belitung, ada juga yang menyebutnya Belitong, mencuat saat Andrea Hirata meluncurkan novel Laskar Pelangi di tahun 2005. Nama wilayah ini semakin ‘mendunia’ semenjak kisah dalam novel itu diangkat dalam karya film dengan judul sama, tiga tahun kemudian, oleh duet sutradara-produser yakni Riri Riza dan Mira Lesmana.

   Lokasi syuting film tersebut lantas menjadi destinasi wisata baru yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun asing, yakni Pantai Tanjung Tinggi, Kota Tanjung Pandan, dan replika SD Muhammadiyah Gantong. Belakangan hadir Museum Kata-Kata Andrea Hirata yang menjadi destinasi wisata favorit, kemudian Danau Kaolin, dan mercusuar di Pulau Lengkuas, serta Pulau Kalayang.

    Destinasi wisata Belitung sebenarnya bukan sebatas itu, danau kaolin, pantai dan bebatuan besar, serta mercusuar. Ada satu destinasi wisata yang eksotik di Belitung, yakni Bukit Peramun. Ini destinasi wisata yang baru dikembangkan sekitar 4-5 tahun terakhir. Bukit Peramun, merupakan sebuah bukit yang memiliki puncak tertinggi berupa singkapan Boulder Granit pada ketinggian 129 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

    Kini disebut Desa Wisata Bukit Peramun, secara administratif berada di wilayah Desa Air Selumar, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Konon, disebut Bukit Peramun karena di tempat ini banyak tanaman lokal yang di masa lalu diramu oleh masyarakat menjadi obat-obatan. Kekayaan flora dan fauna inilah yang kemudian oleh Arsel Community selaku penanggungjawab Desa Wisata Bukit Peramun, dikembangkan dalam berbagai lokasi spot foto instagramable antara lain berupa rumah hobbit, jembatan cinta, batu kembar, dan mobil terbang.

   Menurut Ketua Arsel Community Adie Darmawan yang biasa dipanggil Adong, ada beberapa paket wisata yang dapat dipilih para pengunjung, yakni paket edukasi atau sekolah alam, treking hingga puncak bukit, cross country di jalur hijau di hutan untuk menemukan 12 titik luar biasa, dan wisata Tarsius yang hanya dibuka tiga kali dalam seminggu. “Untuk all terrain vehicle (ATV) adventure, baru dibuka tahun 2019 ini. Kami sudah menerapkan aturan safety riding yang harus diikuti wisatawan jika mengendarai ATV. Biayanya Rp50.000 per orang, nanti dipandu pengelola untuk melintasi jalurnya yang sekali perjalanan bisa 2-3 jam,” katanya saat berbincang dengan wartawan dan influencer dari Jakarta, peserta Kafe BCA on the Road Belitung, awal November 2019.

   Sore itu kami memilih paket wisata treking, dengan panjang lintasan dari titik kumpul di kaki bukit hingga puncak bukit sekitar 515 meter. Normalnya, menurut Rohmat, salah satu pemandu rombongan kami, perjalanan hingga ke puncak bukit akan memakan waktu sekitar 30 menit. Namun baru lima menit kami berjalan, sebagian anggota rombongan tidak yakin jika akan dapat menyelesaikan perjalanan selama 30 menit. Pasalnya, jalurnya lantas menanjak, bahkan ada yang memiliki kemiringan di atas 30 derajat.

    Sepanjang perjalanan, para pemandu yang saat itu ada empat orang untuk tiap kelompok yang beranggota 10 orang, dengan ramah menjelaskan mengenai pepohonan yang kami temui. Di beberapa tempat ada pohon yang dilengkapi dengan barcode, pengunjung dapat men-scan barcode yang ada dengan menggunakan smartphone, untuk mendapat informasi mengenai pohon tersebut. “Di setiap pohon ada barcode yang bisa diakses secara offline. Nanti akan keluar semua informasi seperti nama pohon, ciri fisik, dan manfaatnya. Kami mengonsepkan Bukit Peramun menjadi destinasi digital informasi terapan,” jelas Adong sebelum kami memulai perjalanan.

   Kami dengan senang hati mencoba men-scan bar code yang dipasang di beberapa pohon. Pertama karena penasaran, apakah benar barcode tersebut berfungsi atau tidak. Selebihnya memang ingin mengetahui informasi mengenai pohon itu yang ternyata muncul di layar smartphone. Ternyata keberhasilan Arsel Community dalam mengaplikasikan sistem QR Code untuk memperkenalkan jenis dan manfaat tanaman di bukit Peramun, dan nantinya virtual guide dalam dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris, membuat desa wisata ini juga dikenal sebagai desa berbasis digital.

    Spot foto pertama yang kami temui adalah Rumah Hobbit. Tapi saat itu tidak banyak anggota kelompok kami yang berfoto di sini, sehingga hanya singgah sebentar. Terlebih lagi kami merasa belum terlalu capek, mengingat jalurnya belum terlalu menanjak. Selepas spot foto pertama ini, peserta treking mulai disuguhi jalur pendakian yang menguras tenaga dan membuat napas mulai ‘ngos-ngosan’. Beberapa kali kami berhenti sejenak untuk sekadar ambil nafas.

    Setelah melalui sebuah tanjakan yang cukup tajam, sampailah rombongan di tempat perhentian pertama yakni Batu Kembar. Di sini, wisatawan sudah dapat melihat Kota Belitung dengan pemandangan hutan alami. Selain itu, pengunjung dapat foto di antara dua batu granit kembar ukuran raksasa yang menjadi ikon wisata Bukit Peramun ini.

   Setelah berjalan sekitar lima menit, kami sampai di spot kedua yang berketinggian sekitar 100 mdpl, yakni ‘Mobil Terbang’. Di sini, pengunjung dapat berfoto di mobil yang seperti sedang melayang di atas pepohonan. Jika fotografernya jago, akan mendapatkan foto seperti di adegan dalam film Harry Potter: The Chamber of Secrets.

  Spot foto mobil terbang sengaja disediakan oleh Arsel Community untuk memuaskan pengunjung yang ingin mendapat gambar menarik seolah mengendarai mobil di ketinggian. “Mobil ini kita angkat langsung dari bawah. Butuh 24 orang untuk menaikkan hingga sampai di titik ini.   Ini murni ide dari Arsel Community agar menyajikan hal unik,” kata Rahmat, salah satu pemandu yang menemani kami, sore itu.

   Setelah napas tidak tersengal-sengal lagi dan cukup puas foto-foto di lokasi mobil terbang, kami melanjutkan pendakian ke titik ketiga atau puncak Bukit Peramun yang berjarak sekitar 100 meter lagi. Sampai di puncak, pengunjung akan dapat foto-foto sepuasnya. Sayang, sore itu agak mendung, sehingga kami tak dapat menikmati suasana sunset, yang mestinya cukup menawan.

   Di puncak kami beristirahat sekitar 15 menit untuk foto-foto dan menikmati kelapa muda yang memang dibawa pengelola dari bawah, ke puncak bukit ini. Tidak terlalu lama di puncak, karena kami harus segera turun sebelum terlalu gelap.

   Perjalanan turun kembali ke titik awal pendakian berlangsung jauh lebih singkat, hanya sekitar 15 menit. Setelah sampai di pos keberangkatan, kami beristirahat sambil menunggu menu makan malam disajikan.

  Saat kami menikmati santap malam, sekitar 20 pemandu telah menyebar di sekitar kaki Bukit Peramun untuk melacak keberadaan satwa endemik Belitung, yakni Tarsius, atau yang oleh penduduk setempat dinamai Pelilian.

Wisata melihat Tarsius, dilakukan berkelompok 8-10 orang. dimulai sekitar pukul 18.30 WIB. Pengelola akan mulai mencari Tarsius, biasanya memakan waktu 30 menit hingga satu jam. Tidak ada jaminan pengunjung akan bertemu Tarsius. Saat ini ada sekitar 80 ekor Tarsius yang berada di kawasan Bukit Peramun ini. Pengelola juga menemukan beberapa anak Tarsius yang baru lahir, sekitar bulan Februari lalu.

  Walaupun sebenarnya cukup banyak, memang tidak mudah menemukan binatang langka ini. Kami menunggu lebih dari satu jam, saat mendapat informasi bahwa tim pemandu telah menemukan seekor Tarsius. Karena hanya satu ekor yang ditemukan, rombongan kami yang berjumlah sekitar 40 orang lantas dibagi dua. Para fotografer mendapat kesempatan pertama.

  Agar tetap menjaga kelestarian hewan yang dalam bahasa lokal disebut pelili’an itu, Arsel Community pun menerapkan beberapa peraturan, antara lain pengamatan Tarsius hanya boleh dilakukan selama 10 menit dengan jarak sekitar satu meter agar hewan tersebut tak stres. Para pengunjung juga dilarang mengeluarkan suara dan membuat gerakan yang tiba-tiba atau mengejutkan. Selain itu, dilarang memotret dengan menggunakan lampu blitz, karena akan menyakiti mata Tarsius. Beruntung, lampu sorot yang dibawa pemandu, cukup menerangi lokasi ditemukannya Tarsius malam itu, sehingga kami dapat mengabadikan pertemuan dengan binatang nocturnal ini, cukup menggunakan smartphone.

   Walaupun tak lama, seluruh rombongan kami dapat melihat Tarsius dari jarak dekat pada malam itu. Tidak semua orang mendapat kesempatan mengabadikan pertemuan dengan binatang yang ‘monogami’ ini. Faktor keberuntungan lebih berperan dalam hal ini. Salah satu yang beruntung adalah Media Asuransi, yang mendapat kesempatan berada dekat dengan binatang itu dan berseberangan posisi dengan kawan seperjalanan yang sedang memotret Tarsius, sehingga berada dalam satu frame foto dengan binatang langka ini. S. Edi Santosa