Trofi EPL 2020, Obat Hati Liverpudlian Di Tengah Pandemi Covid-19

     Sangat meriah dan seru rasanya, bagi seorang penggemar suatu klub sepakbola saat melihat klub yang dicintai meraih kemenangan dalam satu kompetisi. Katakanlah salah satu klub sepakbola liga Inggris, Liverpool atau yang biasa dikenal dengan LFC, baru-baru ini memenangkan kompetisi tahunan English Premier Legue (EPL), setelah 30 tahun puasa piala liga utama. Ironisnya kemenangan ini diraih saat ada pandemi virus corona mewabah secara global. Menarik pula disimak, bagaimana keseruan para fans fanatik LFC dari kalangan eksekutif asuransi, menyambut kemenangan ini.

     Liverpool berhasil menggondol gelar juara EPL tahun ini. Terakhir kali klub ini merajai liga Inggris tahun 1990. Klub asal Merseyside ini kembali berhasil membawa pulang trofi EPL di tahun ini. Tentu dengan dukungan penggemarnya dari seluruh dunia yang terkenal sebagai pendukung paling
setia dalam keadaan apapun. Liverpudlian (istilah bagi para fans setia LFC) meluap di Anfield, mereka berkumpul menyalakan flare merayakan gelar sebagai juara, padahal Kerajaan Inggris sendiri masih menerapkan protokol ketat karena pandemi Covid-19.

     Di Indonesia, khususnya Liverpudlian di industri asuransi tidak kalah bahagianya dengan kemenangan tersebut. Diantaranya adalah Direktur PT AXA Mandiri Financial Services Rudi Kamdani yang ikut senang dengan kemenangan klub kesayangannya ini. Kepada Media Asuransi, Rudi mengatakan kemenangan ini menjadi momen sangat istimewa.

     Selain LFC sudah berjuang sekian lama untuk menjadi yang terbaik di negara penemu sepakbola ini, juga pertama kalinya LFC mencatatkan namanya sebagai juara liga Inggris sejak kompetisi berganti format menjadi Premier League di musim 1992-1993. “Akhirnya, penantian panjang para pemain, official, fans, menjadi kenyataan. Siapa yang tidak tahu nama besar Liverpool FC yang punya sejarah panjang dengan sederet pemain kelas dunia. Sudah mengantongi enam juara Liga Champion, tiga Piala UEFA dan empat Piala Super Eropa, tentunya kurang lengkap kalau tidak menjadi juara di tanah sendiri. Penantian panjang berbuah manis dan membuktikan LFC masih memiliki taji di negeri sendiri,” ujarnya.

     Soal kemenangan di tengah pandemi, Rudi menilai ini juga menjadi catatan di sejarah sepakbola Inggris. Sebenarnya LFC sendiri sudah diprediksi menjadi juara ketika menduduki puncak klasemen paruh musim. Setelah itu, kompetisi terhenti karena wabah ini dan kemudian dilanjutkan kembali. Baginya, keseruan menjadi juara lebih dari sekadar selebrasi mengangkat trofi di Anfield yang dihiasi kembang api dan konfeti, tetapi esensi menjadi juara akan lebih terasa jika persaingan ketat terjadi sepanjang musim. “Bisa dibayangkan, jika terjadi kejar-mengejar poin antara beberapa tim pada klasemen dan pemenang ditentukan hingga pertandingan terakhir. Adrenalin rush yang tercipta di setiap pertandingan, kenikmatan menikmati indahnya pertandingan akan terbayar lunas saat peluit akhir pertandingan menjadi penanda bahwa LFC adalah terbaik dari yang terbaik,” ungkapnya.

     Terkait filosiofi You’ll Never Walk Alone (YNWA) yang selalu tersemat kuat dalam jiwa Liverpudlian, menurut Rudi slogan tersebut tepat untuk menggambarkan pertandingan sepakbola. Para pemain tidak akan pernah merasa sendiri untuk memenangkan pertandingan, karena mereka memiliki pemain keduabelas yaitu para suporter untuk terus memberikan dukungan moral. “Untuk para Kopite (sebutan lain pendukung Liverpool) saya rasa slogan tersebut juga bisa dikatakan sebagai prinsip kebersamaan. Ketika bersama-sama bukan hanya menjadi pendukung ‘The Reds’ (julukan lain LFC) tetapi juga menciptakan ikatan kekeluargaan,” ujarnya.      

     Saat ditanya alasannya menyukai LFC dari sekian banyak klub sepak bola Inggris, Rudi menjawab awalnya seru-seruan saja dengan teman-teman. Jika ada acara kumpul-kumpul, pasti membicarakan sepak bola. Nah, permainan LFC lebih menarik karena gaya permainan Ian Rush salah satu legenda LFC yang dikenal sebagai top skor LFC sepanjang masa, bermain di Liverpool dua periode yakni tahun 1980-1987 dan 1988-1996.

     Sebagai klub besar yang punya segalanya, ternyata butuh perjuangan juga untuk dinobatkan sebagai juara. Dinamika inilah yang menarik untuk selalu disaksikan. “Saya tidak ingat tepatnya mulai kapan menyukai klub ini. Yang pasti saya menikmati berbagai gaya pertandingan sepakbola. Saya suka melihat gaya khas Maradona ketika mengolah bola dan kontrol bolanya luar biasa. Nah, kontrol bola yang luar biasa ini juga menjadi salah satu kelebihan para pemain liga Inggris, karena iklim mereka yang sangat berangin. Dengan gaya permainan cepat dan kontrol bola yang baik, permainan liga Inggris khususnya Liverpool menarik perhatian saya,” tandas penikmat pertandingan cantik dan kompetisi ketat ini.

     Selain Rudi Kamdani, ada pula Chief Bancassurance Officer PT Asuransi
Jiwa Manulife Indonesia Richard Ferryanto, seorang Liverpudlian yang menjadi fans setia klub ini sejak tahun 1990. Kepada Media Asuransi, Richard menceritakan awal menyukai Liverpool ketika dirinya mulai mengikuti Liga Inggris yang disiarkan di televisi nasional. Saat itu Liverpool adalah klub yang berprestasi dan merajai liga Inggris. “Ketika saya melihat histori klubnya membuat saya makin menyukai klub ini. Sejak saat itu saya selalu mengikuti sepak terjang dari Liverpool di kompetisi lokal dan regional. Saya merasakan kekecewaan, penasaran, dan kebahagiaan seiring perjalanan prestasi klub ini,” kenang Richard.

     Terkait kemenangan klub kesayangannya ini, Richard mengungkapkan bahwa dirinya merasa sangat bahagia. Keberhasilan ini merupakan momen terbaik selama menjadi penggemar Liverpool, melihat klub kebanggaan yang akhirnya menjadi juara EPL dengan melewati beberapa kegagalan dan near-miss di beberapa musim lalu.

     Dia mengaku sejak awal tahun lalu (pertengahan musim 2018-2019) dirinya sudah melihat bahwa momen menjadi juara kelak akan sampai, melihat dari kualitas skuad Liverpool dalam memenangkan pertandingan. “Selama menjadi fans klub ini lebih dari 20 tahun, saya telah menyaksikan beberapa momen magis, diantaranya Final Champions League 2005 versus AC Milan, Semifinal Champions League 2019 versus Barcelona, momen ketika harapan tinggi menjadi juara Liga sirna di tahun 2014, serta momen menjadi runner-up di 2019 dengan akumulasi poin tertinggi sepanjang sejarah. Dan, bisa saya katakan ini perjalanan yang mengesankan dan membanggakan,” kenang Richard.

     Soal kemenangan di kala wabah pandemi Corona melanda, bagi Richard hal tersebut tidak mengurangi  keseruan dan tetap memiliki makna mendalam. Pasalnya kemenangan ini adalah kemenangan pertama sejak 30 tahun terakhir. Ini juga kemenangan yang diraih karena prestasi dan rekor kemenangan fantastis yang mereka raih sejak awal 2019 lalu.

     Sebagaimana Rudi, Richard juga menilai filosofi ‘You’ll Never Walk Alone’ memiliki arti mendalam bagi klub Liverpool dan penggemarnya. YNWA bukan sekadar slogan, akan tetapi pemersatu semua orang yang memiliki asosiasi dengan klub Liverpool, baik dari pemain maupun para fans setia. Kita selalu bersama dalam keadaan suka dan duka klub. “YNWA ini suatu pengingat bahwa kita harus tetap berjalan ke depan meski menghadapi keadaan yang sulit, dalam ungkapan ‘at the end of the storm, there’s a golden sky’,” tegasnya

     Lebih jauh, Richard memandang LFC tidak hanya sebuah klub sepak bola, akan tetapi juga suatu kultur yang menyatukan banyak orang di seluruh dunia. Klub ini, lanjutnya, bukan yang dibentuk dengan instan, kemudian memenangkan hati fansnya menjadi juara, akan tetapi klub ini memenangkan hati penggemar dengan perjalanan uniknya serta nilainilai kebersamaan yang dibentuk. “Saya mengikuti pertandingan-pertandingan Liverpool, baik menonton siaran langsung atau highlight dan siaran ulangan. Saya juga selalu mengikuti perkembangan klub dan pemain melalui berita. Mendukung klub favorit sebetulnya mempertegas komitmen pribadi kita. Melalui hal ini bisa belajar bagaimana senantiasa setia pada pilihan kita dan mendukungnya dalam kondisi apapun. Hal ini yang sekaligus memberi warna dalam hidup kita, ada semacam nilai tambah bagaimana agar konsisten memberikan dukungan, tidak berpaling dan yakin bahwa setiap perjuangan pasti membuahkan hasil. Jadi untuk pendukung Liverpool lainnya, You’ll Never Walk Alone!,” tandasnya. B. Firman