Jurus MTF

 Meraih Pembiayaan Baru di GIASS

Di tengah kondisi pernjualan mobil yang relatif masih melemah dibandingkan tahun sebelumnya dan untuk memenuhi target bisnis di akhir tahun 2016, perusahaan pembiayaan harus ‘rajin’ berinovasi. Data Gaikindo menunjukkan hingga kuartal kedua 2016, penjualan mobil nasional baru tumbuh satu persen dari 525.491 unit menjadi 531.929 unit.
Hal ini pula yang menjadikan perusahaan multifinance hasil patungan PT Bank Mandiri Tbk dan PT Tunas Ridean Tbk terus mengembangkan diri dengan berbagai strategi untuk mengail pembiayaan baru. Diantaranya, bertepatan dengan pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang dihelat pada 11-21 Agustus 2016 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, PT Mandiri Tunas Finance (MTF) meluncurkan program pembiayaan baru bernama ‘Bunga Pintar’. Sebuah program khusus untuk pelanggan yang melakukan pembelian mobil secara kredit melalui MTF, pada periode Agustus hingga Oktober 2016. “Program ini berlaku khusus untuk kredit mobil baru jenis passenger (mobil penumpang) semua merek,” jelas Direktur Keuangan MTF Ade Cahyo Nugroho saat konferensi pers di Tangerang, 12 Agustus 2016.
Pria yang biasa disapa Cahyo ini mengungkapkan bahwa melalui paket ‘Bunga Pintar’, MTF ingin memberikan kemudahan sekaligus edukasi kepada pelanggan dalam memilih besaran bunga sesuai dengan besaran uang mukanya. Semakin besar DP, semakin murah bunganya. Mulai dari 2,55 persen untuk tenor satu tahun berlaku nasional. Dan, kami juga mempunyai paket kredit mulai tenor enam bulan sampai tujuh tahun. “Selain menyasar konsumen kelas menengah atas yang sensitif terhadap bunga, produk ini sebenarnya juga untuk mengedukasi konsumen,” ujar dia.
Cahyo mengakui dengan menjadi sponsor resmi, pihaknya memiliki banyak keuntungan, salah satunya adalah mendapatkan special price dari berbagai Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) yang terlibat dalam GIIAS. Selain dukungan penuh Bank Mandiri membuat perusahaan ini dapat menawarkan produkproduk secara kompetitif.
Selama pameran tersebut, MTF juga memberikan penawaran menarik lain yang bisa didapatkan yaitu program bunga spesial untuk tenor satu tahun, passenger new car. Sertaada pembiayaan untuk seluruh merek kendaraan baik passenger car, commercial car, dan motor besar. “Lebih dari itu, keuntungan lain yang bisa didapat konsumen yang melakukan pembelian khusus saat GIIAS adalah bunga nol persen untuk tenor satu tahun, gratis BBM satu tahun, pre-approved bagi nasabah Mandiri Prioritas, trade in, gratis asuransi Personal Accident sampai Rp25 juta, serta hadiah langsung on board unit, e-money, voucher diskon, dan suvenir,” ujar Cahyo.
Perusahaan ini menargetkan dapat meraih 1.500 SPK. Bila rata-rata per aplikasi kredit saja sekitar Rp180 juta, MTF bisa meraih pembiayaan baru sekitar Rp270 miliar sehingga diharapkan dapat mem-boosting pembiayaan MTF mencapai target Rp18 triliun di akhir tahun ini. “Dari tahun ke tahun penjualan kami terus menunjukkan peningkatan. Tahun lalu pembiayaan kami di ajang yang sama sekitar Rp200 miliar,” tukasnya.

Target Rp18 Triliun
Secara terpisah, sebelumnya Direktur Utama MTF Ignatius Susatyo Wijoyo mengakui bahwa penurunan penjualan mobil akan berdampak pada lini bisnis pembiayaan. Di tengah lesunya penjualan otomotif, pihaknya terus berusaha mempertahankan kinerja yang baik dengan berbagai strategi marketing yang kreatif dengan terus mengeluarkan programprogram pembiayaan yang menarik. Pada akhir 2016, perusahaan memproyeksikan pembiayaanbaru mencapai Rp18 triliun.

Sementara, pada periode Januari-Juni 2016, pembiayaan mencapai Rp9,7 triliun atau naik 24 persen dibanding periode yang sama 2015. Pembiayaan kendaraan baru (new car) mencapai 96 persen. Pada kuartal kedua 2016, khusus pembiayaan kendaraan baru tumbuh 25 persen dari periode yang sama di 2015. Sedangkan, secara unit tumbuh 4,3 persen. Untuk pembiayaan new car masih fokus pada merek Toyota, Honda, Mitshubishi, Daihatsu, dan Suzuki. Pendapatan perseroan di periode kuartal kedua 2016 tercatat Rp1,2 triliun atau naik 32 persen. Perseroan menargetkan laba tahun berjalan 2016 mencapai Rp333 miliar dengan tetap mempertahankan NPF di bawah 1,5 persen. “Return on Asset (ROE) kami jaga di atas 26 persen, dengan NPF stabil yakni 1,28 persen gross, dan belum termasuk biaya pencadangan. Pencadangan provisi terhadap NPF ada di level 160,46 persen,” jelas Susatyo.
Untuk meningkatkan pembiayaan di tahun ini, perseroan tengah menyiapkan beberapa langkah dengan membuka kantor cabang baru di Luwuk (Sulteng) serta beberapa kantor satelit baru di Baubau (Sultra), Poso (Sulteng), Ternate (Malut), Air Molek (Riau), Pematang Siantar (Sumut), Penarik (Bengkulu), Pangkalan Bun (Kalteng), Berau (Kaltim), dan Tenggarong (Kaltim). “Dan, di 2017 nanti akan merambah jaringan baru di Indonesia Bagian Timur khususnya di Propinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat untuk mendorong penetrasi market,” tegas Susatyo. W. Widiastuti