AAUI Selenggarakan Webinar 6th AAUI International Insurance Seminar

     Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyelenggarakan 6th AAUI International Insurance Seminar (IIS) dengan tema utama “Leading Through Adversity: Strategies for Generating Success”. Berbeda dari tahun sebelumnya, acara IIS tahun ini dalam bentuk virtual (webinar) karena berlangsung dalam kondisi pandemi Covid-19. Webinar ini diselenggarakan di Jakarta, 21 Juli 2020, diikuti oleh 300 peserta dan sebagian besar merupakan CEO perusahaan asuransi dan industri penunjang.

   Seminar dibuka oleh Ketua AAUI HSM Widodo yang sekaligus memberikan sambutan. Dia mengatakan bahwa meski harus berlangsung secara virtual, tidak mengurangi tujuan dan manfaat dari acara ini, ditambah IIS merupakan agenda tahunan dari Bidang Hubungan Internasional AAUI yang sudah ditunggu para pelaku industri asuransi umum. Menurut dia, seminar ini menjadi ajang untuk diskusi serta memberikan pandangan bagi pelaku usaha industri asuransi umum, IIS kali ini akan fokus membahas proses kepemimpinan menuju transformasi di industri asuransi termasuk optimalisasi data dalam strategi usaha merespons kondisi terdampak pandemi.

     Lebih lanjut HSM Widodo mengatakan, kondisi pandemi telah memukul semua aspek perekonomian Indonesia. Berbagai proyeksi perekonomian mengarah pada pertumbuhan yang rendah di tahun 2020, bahkan proyeksi optimistis hanya menunjuk pada angka pertumbuhan satu persen. “Namun demikian, proyeksi Bank Dunia, IMF, dan ADB menunjukkan di tahun 2021 akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang signifikan,” katanya.

   Perubahan paradigma dan cara kita berbisnis dengan menyesuaikan kondisi terkini merupakan langkah yang sangat penting. Perubahan itu sendiri merupakan sesuatu yang tak terelakkan karena dunia kita sudah berubah. Menurut Widodo, sebagaimana disampaikan oleh para pemimpin dunia, untuk dapat bertahan dalam kondisi ini kita membutuhkan ilmu dan pengetahuan. Bukan stigma, tentu saja fakta dan bukannya ketakutan. “Kami berharap, acara seminar hari ini akan memberikan pengetahuan yang berharga dan perspektif baru, serta kemungkinan mengeksplorasi ide yang berbeda mengenai bagaimana kita dapat secara efektif dan sukses melewati krisis ini,” tegasnya.
  
    Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi menjadi pembicara kunci. Dalam kesempatan tersebut, dia mengungkapkan OJK telah mengeluarkan beberapa kebijakan dalam merespons pandemi ini, dengan tujuan memberikan relaksasi aturan agar perusahaan asuransi dapat bertahan terhadap dampak pandemi Covid-19. Dia mengingatkan bahwa cepat atau lambat, dampak pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan melanda industri asuransi.

    Riswinandi menuturkan bahwa saat ini pandemi telah berdampak pada turunnya daya beli masyarakat sehingga mendorong turunnya angka belanja masyarakat, baik konsumsi barang kebutuhan sehari-hari maupun jasa termasuk asuransi. “Sebagai contoh, asuransi kendaraan bermotor selama ini merupakan salah satu penyumbang premi terbesar di industri asuransi umum. Namun pandemi telah memukul angka penjualan mobil maupun sepeda motor, sehingga berdampak langsung pada penurunan premi asuransi kendaraan bermotor,” tuturnya.

   Di sisi lain, keharusan physical distancing menjadi tantangan terHSM sendiri bagi industri asuransi dalam memasarkan produknya. Khususnya bagi perusahaan asuransi yang selama ini mengandalkan direct marketing, agency, dan broker sebagai jalur pemasaran. Sebagai contoh, di tahun 2018, tiga jalur distribusi itu memberi kontribusi lebih dari 70 persen terhadap premi industri asuransi.

    Sementara itu, pada sesi pertama seminar dengan tema “Transformation Leadership for Growth in Changing Times” hadir satu orang pembicara yakni Ignasius Jonan, mantan Dirut PT KAI yang juga merupakan Menteri ESDM RI tahun 2016-2019 dan Menteri Perhubungan RI tahun 2014-2016. Jonan antara lain mengatakan bahwa dunia sudah berubah dan akan terus berubah, terutama di masa pandemi Covid-19 ini. Di masa seperti ini, peran pemimpin sangat penting karena akan membawa organisasi dapat melewati krisis.

   Dia yakin, jika vaksin telah ditemukan  dan diimplementasikan, industri akan berubah, market juga akan berubah, termasuk market asuransi akan berubah. “Market asuransi umum menurut saya adalah salah satu industri yang sangat sulit, karena harus membaca tren bisnis di sektor lain. Harus membaca bagaimana tren bisnis di sektor-sektor lain itu akan tumbuh dan arahnya ke mana, untuk menetapkan bisnis asuransi umum dapat berkembang ke depan. Ini menurut saya sangat penting,” kata Jonan.

   Direktur Utama PT KAI (Persero) tahun 2009-2014 ini lantas menceritakan
upayanya melakukan transformasi di perusahaan tersebut. Dia mengingatkan tidak ada transformasi yang dapat dilakukan seorang diri oleh pemimpin. Transformasi harus melibatkan semua orang di organisasi. “Waktu memimpin PT KAI, saya dapat puluhan award. Setiap kali terima award, saya selalu katakan bahwa saya mewakili 30.000 karyawan PT KAI untuk menerima penghargaan ini. Menurut saya ini penting, yakni kita empower anak buah melakukan tugas. Namun jika ada salah, yang tanggung jawab adalah pemimpinnya,” tegasnya.

     Selain itu, transformasi itu harus dilakukan secara terus-menerus. Kalau
berhasil satu, perbaiki lagi satu, kemudian perbaiki lagi satu. Begitu seterusnya, tidak bisa berhenti. Karena sekali berhenti, untuk memulainya sangat sulit. Transformasi dapat dilakukan dari hal sederhana. Misalnya, saat melakukan transformasi di PT KAI, Jonan memulai dari upaya membersihkan toilet di stasiun. “Dulu waktu saya bilang itu, ada yang mengatakan Stasiun Gambir penumpangnya per hari 6.000 orang, waktu itu. Bagaimana kita membersihkan toilet yang dipakai 6.000 orang per hari? Saya katakan, jika Anda tidak bisa membersihkan toilet ini, maka yang ada di ruang kerja pimpinan akan saya tutup semua. Akhirnya bisa, kan? Ini sederhana saja, dapat dilakukan dan menjadi code of conduct,” tuturnya.

  Lebih lanjut, dia mengingatkan mengenai pentingnya melakukan perubahan yang berkesinambungan. Seorang pimpinan, jika akan mengubah sesuatu maka harus dapat dijalankan secara berkesinambungan. “Jangan begitu ganti pemimpin, ini lantas berubah lagi dan sebagainya. Karena yang di bawah akan frustasi. Transformation is sustain changes, and it is achieved true practice. Ini tidak bisa hanya teori, ini tidak bisa hanya nyuruh. Transformasi itu harus dilakukan. Anda harus mempraktikkannya satu demi satu dan Anda harsus memonitor eksekusinya. Ini yang penting,” jelas Ignasius Jonan.

    Sementara itu, sesi kedua dengan tema “Becoming Data-Driven Leader” menghadirkan dua orang pembicara yakni Hasnul Suhaimi yang merupakan CEO PT XL Axiata Tbk tahun 2006-2015 dan Harry K Nugraha yang merupakan CEO & Director SEA Intel Corporation tahun 2014-2017. Menurut Hasnul, data driven ini harus diturunkan dari atas, sebaiknya dari share holders dulu atau dari komisaris dulu, kemudian CEO, dan terus diturunkan ke bawah. Karena harus melibatkan semua unit bisnis yang ada di perusahaan. “Jika data driven ini dimulai dari tengah, misalnya GM Marketing sudah data driven. Namun begitu dia minta support ke IT, mungkin support-nya tidak full. Kalau dia propose ke atasnya, bisa jadi atasannya tidak percaya,” katanya.

    Hasnul Suhaimi menceritakan bagaimana dia mulai membangun data driven habit di XL Axiata. Dimulai dari unit yang kecil, ketika akan melakukan sesuatu diminta menyampaikan data untuk kemudian dianalisa. Setelah itu berjalan, unit yang lain diminta melakukan hal sama. Akhirnya semua terbiasa dengan data. “Jadi dengan demikian satu perusahaan menjadi data driven. Mereka sampai mengatakan, berbahaya
kalau menghadap Pak Hasnul tanpa bawa data. Sehingga akhirnya data driven ini menjadi habit di perusahaan,” jelasnya.

   Sementara itu, Harry K Nugraha menyampaikan pengalamannya saat menjadi country manager Intel di Indonesia. Pada saat ada meeting di regional, ternyata semua country manager yang ikut meeting hapal semua angka menyangkut bisnis Intel yang ada di negara masing-masing. Sementara dia tidak hapal data-data yang ada di Indonesia. “Awalnya dari rasa malu, saya belajar. Kemudian karena saya mendapat tuntutan untuk menguasai data itu, maka saya menuntut kepada organisasi di bawah, sehingga akhirnya mereka ikut data driven. Ini kemudian menjadi suatu kebiasaan di organisasi,” tuturnya.

    Lebih lanjut, Harry menjelaskan bahwa data driven ini lantas menjadi habit karena kemudian banyak hal yang dapat dilakukan dengan adanya data ini, misalnya kebutuhan aneka training yang kemudian dapat dilakukan. Menurut data driven ini merupakan syarat bagi kita untuk menjadi seorang digital leader yang baik. “Karena tanpa angka atau data, ini akan sulit dilakukan,” tegasnya. S. Edi Santosa