OJK Kerja Sama dengan Universitas Andalas Tingkatkan Inklusi dan Literasi Keuangan Mahasiswa

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) fokus meningkatkan inklusi dan literasi terhadap jasa keuangan di masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa dan pelajar. OJK menjalin kerja sama dengan Universitas Andalas untuk mendorong kerja sama literasi dan pengembangan sektor jasa keuangan melalui Tridharma Perguruan Tinggi. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida dan Rektor Universitas Andalas (Unand) Yuliandri, di Kampus Unand, Padang, 13 Maret 2020. Dalam kesempatan yang sama juga ditandangani komitmen bersama implementasi program One Student One Account (OSOA) antara OJK dan Dinas Pendidikan Sumatera Barat.

    Saat memberikan sambutan seusai penandatanganan komitmen, Nurhaida mengatakan kerja sama ini bagian dari upaya OJK meningkatkan inklusi dan literasi keuangan. “Salah satu upaya yang dilakukan OJK yaitu program OSOA, dengan target tahun ini seratus persen seluruh mahasiswa punya account. Upaya kita untuk melakukan kerja sama dalam membangun ekonomi Indonesia dengan meningkatkan peran mahasiswa dalam perekonomian Indonesia,” katanya dalam acara yang dihadiri Media Asuransi.

    Nurhaida menjelaskan bahwa program OSOA berupa kepemilikan rekening tabungan tersebut dapat membantu para mahasiswa mengetahui dan memahami industri jasa keuangan. Menurutnya para mahasiswa dapat berperan aktif dalam melakukan sosialisasi terkait produk sektor jasa keuangan, tidak hanya di lingkungan kampus melainkan juga kepada masyarakat luas. “Mahasiswa dapat berlaku aktif di masyarakat dalam artian tidak hanya di kampus, itu sangat dibutuhkan bagi pembangunan perekonomian kita,” ujarnya.

    Dia tambahkan, OJK mencatat, inklusi keuangan setiap tahun mengalami peningkatan, dan pada tahun 2019 sudah berhasil mencapai 76,19 persen. Kendati demikian, sampai dengan tahun lalu literasi keuangan baru mencapai 38,03 persen. Nurhaida mengaku bahwa OJK belum puas dengan pencapaian tersebut karena potensi perekonomian Indonesia masih besar sehingga diharapkan seluruh mahasiswa dapat memiliki akun produk keuangan. “Kalau menabung maka mereka tahu, ternyata di perekonomian kita ada produk untuk berinvestasi dalam hal ini menabung. Lalu diharapkan mereka bisa meningkat menjadi memahami ada investasi lain di sektor keuangan,” tuturnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Andalas mengatakan bahwa kerja sama ini merupakan upaya untuk membangun bidang pendidikan dan mengembangkan sektor jasa keuangan di Indonesia. “Mudah-mudahan dengan kerja sama ini segala program yang nanti akan dilakukan menjadi komitmen bersama bagaimana menyiapkan mahasiswa sehingga nanti ketika lulus mereka mempunyai referensi dan pengetahuan yang lain tentang bidang-bidang yang akan dimasukinya,” kata Yuliandri.

    Sementara itu saat menyampaikan materi Kuliah Umum dengan tema ‘Peran OJK dalam Meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan serta Perlindungan Konsumen’ Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen (EPK) Tirta Segara mengatakan bahwa ketimpangan antara literasi dan inklusi keuangan berpotensi menimbulkan masalah lain. “Hasil survei bahwa terjadi gap yang cukup besar antara inklusi dan literasi kita. Ini artinya risiko investasi yang kita hadapi itu tinggi dan harus dipahami risikonya,” ujarnya.

    Tirta juga menjelaskan bahwa ketimpangan hasil survei menandakan masyarakat hanya membeli produk keuangan namun tidak memahami beberapa aspek penting lainnya seperti risiko, kewajiban, dan pembiayaan. “Masyarakat membeli produk keuangan, investasi, dan sebagainya tapi mereka tidak paham risikonya apa, kewajibannya apa, biaya-biayanya berapa. Ini masyarakat belum paham,” ujarnya.

    Menurut dia, mahasiswa merupakan agen perubahan yang strategis untuk dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan pemahaman produk keuangan kepada masyarakat. Seiring dengan semakin tingginya tingkat inklusi dan literasi keuangan, paling tidak mahasiswa dapat memahami produk investasi lain yang ada di Indonesia, termasuk di antaranya adalah produk keuangan dari pasar modal. “Dengan mahasiswa mengerti produk sektor keuangan, diharapkan mereka bisa meningkat, menjadi memahami investasi lain di sektor keuangan yang banyak sekali, seperti produk pasar modal dan produk pembiayaan,” tandas Tirta Segara. S. Edi Santosa