Pialang Asuransi Harus Lebih Mengenal Profil Risiko di Tengah Pandemi

    Ketua Umum Asosiasi Ahli Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APARI) Bambang Suseno mengatakan bahwa pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi produktivitas para pialang asuransi di Indonesia, hal tersebut tentu berimbas pada kinerja industri perasuransian, baik jiwa maupun kerugian.

   New normal atau juga disebut dengan adaptasi kebiasaan baru (AKB) masih menjadi latar belakang banyak orang untuk tetap fokus dalam beraktivitas kesehariannya, termasuk para pelaku bisnis di industri perasuransian, karena begitu kuatnya tantangan yang dihadapi semua orang saat ini. Hal ini, menurut Bambang, tentu sangat erat hubungannya dengan spektrum kehidupan dan spektrum usaha yang juga dialami oleh para pialang asuransi.

    Menurutnya, di masa sulit seperti ini, para pialang diharapkan masih mampu menjalankan fungsi dan peran dengan sebaik-baiknya sebagai pialang asuransi dan konsultan bagi tertanggungnya. “Untuk menjalankan fungsi dengan baik, pialang asuransi juga dituntut dapat menjalankan perannya dengan cara memahami assesment profile risk dengan sebaik-baiknya, untuk mengetahui profil risiko nasabah. Dengan harapan dapat memberi solusi yang efektif, sehingga nasabah merasa mendapat advice dari para pialang, sebagaimana yang diamanahkan oleh Undang-Undang Perasuransian,” ungkap Bambang di Jakarta,16 Juli 2020.

    Seorang pialang asuransi, tambah Bambang, harus bisa mengenal konsep
profil risiko yang menjadi modal utamanya dalam berbisnis. Kemudian pialang juga harus mengetahui bagaimana mengukur risiko-risiko inheren
atau yang disebut juga dengan risiko bawaan. Selain itu juga harus bisa menguji kualitas suatu implementasi risk management dengan baik.

 Hal tersebut diaminkan oleh seorang akademisi di bidang risk management
yang juga Komisaris Utama PT Proteksi Antar Nusa Insurance Broker & Consultant Jerry Marmen terkait himbauan Bambang kepada para pialang asuransi di Indonesia dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai konsultan bagi nasabahnya, terutama dalam hal mengenal profil risiko.

    Jerry menjelaskan bahwa risiko itu bisa saja menyelinap atau mengintai dalam setiap produk tertentu ataupun kegiatan, dan inilah yang disebut dengan risiko inheren. Risiko ini, lanjut Jerry, sangat besar kemungkinannya menyangkut dari sisi budget. Dan budget ini datang melalui berbagi aktivitas yang juga mengandung risiko inheren. “Risiko inheren dapat dilihat dan dipahami dalam perspektif yang lebih luas dan komprehensif, yaitu dalam kaitannya dengan program, sasaran, kebijakan, tujuan, dan visi misi perusahaan. Dan risiko inheren ini harus dipahami secara mendalam pada level kegiatan, bahkan nilai budaya perusahaan,” ungkap Jerry dalam satu event edukasi pialang asuransi belum lama ini.

    Jerry juga menyebut, selain dari aktivitas dan kegiatan risiko inheren ini berasal dari strategi dalam mencapai target. Oleh karena itu sangat ditekankan bagi para pelaku bisnis dalam merumuskan strategi. Karena jika tidak tepat dan sesuai dengan berbagai situasi dan kondisi, maka sangat potensial sekali bisa mengandung risiko inheren.

   Jika ditarik lagi, lanjut Jerry, risiko inheren ini juga bisa terkandung dalam grand strategy atau kebijakan, atau bisa juga dalam perumusan visi misi perusahaan. “Jadi, secara konseptual, risiko inheren ini bisa terbawa pada level yang sangat teknis secara operasional, bahkan bisa juga pada level abstrak, yang bersifat kebijakan dan strategi,” imbuhnya.

   Oleh karena itu, Jerry mengajak kepada para pegiat di industri pialang asuransi, untuk sangat berhati-hati dalam merumuskan kebijakan suatu perusahaan. Karena jika sedikit saja terjadi kekeliruan, turunannya akan terjadi kesalahan semua. Jika salah dalam mengambil kebijakan, lanjut Jerry, maka teknis operasional, administratif, dan lainnya akan berantakan semua. “Di sinilah kita harus mulai mengintegrasikan antara key performa indicator dan key risk indicator. Ini merupakan konsepsi dasar dalam mengenal risk profile management. Baik dari sisi kelembagaannya, maupun dari sisi portofolio bisnisnya. Jadi, dari sisi organisasi tidak boleh main-main dalam mengenal risiko inheren ini,” jelas Jerry. B. Firman