Ini Dia Kebutuhan Bank akan Produk dan Layanan Asuransi

Media Asuransi – Preferensi nasabah dalam memilih dan membeli produk atau layanan asuransi adalah masalah kemudahan dan kesederhanaan. Dua syarat tersebut penting dipenuhi agar produk asuransi dapat dijual melalui channel agent banking dan digital banking.

Di Masa Pandemi, Penyaluran Kredit Bank Mandiri Tumbuh

Hal tersebut disampaikan oleh EVP Distribution Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Agus Hartoyo Widodo dalam acara Insurance Webinar bertajuk Ekspektasi Dunia Usaha dan Perbankan terhadap Industri Asuransi yang diselenggarakan oleh Media Asuransi pada Kamis 19 November 2020. 

Agus menjelaskan, berdasarkan survei oleh CLSA Indonesia, nasabah tercatat lebih suka terhadap produk asuransi yang yang simple di dalam registrasi dan pengajuan klaim 

“Sebanyak 70% dari nasabah yang disurvei setuju memilih produk asuransi yang simple baik untuk registrasi maupun klaim,” jelasnya.

Selain simple, sambungnya, nasabah juga lebih menyukai produk-produk asuransi yang mudah dipahami. “Jadi kalau dia harus baca polis yang panjang-panjang dan tidak mengerti baik itu dibantu financial adviser dan tetap tidak mengerti, ujung-ujungnya membuat mereka batal untuk membeli,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Agus memaparkan bahwa kebutuhan bank akan produk dan layanan terkait produk asuransi meliputi tujuh hal. Pertama, produk asuransi bisa dipasarkan stand alone atau tidak terkait produk bank dan bersifat jiwa tradisional dan health untuk mendukung bank sebagai one stop financial services dalam rangka diversifikasi portfolio nasabah.

“Ini sebenarnya bisa dipasarkan untuk produk-produk simple tidak hanya melalui fisical channel tapi juga e-channel yang dimiliki bank. Bank juga sudah punya agent banking yang jumlahnya bisa ratusan ribu dan tersebar di daerah-daerah remote. Kalau asuransi yang sederhan, ini bisa dijual di sana kan akan lebih mudah mempercepat literasi,” tuturnya. 

Kedua, produknya simple dan mudah dipahami dan bisa dipasarkan melalui channel digital maupun agent channel. “Kalau produknya sedikit komplek tentu tak bisa dijual di digital channel karena akan memerlukan face to face agar nasabah bisa memahami produk tersebut dan sulit juga bagi agent banking untuk memasarkannya,” papar Agus.

Ketiga, produk asuransi dalam rangka produk bank (banker’s clouse) yang dapat memberikan coverage bagi bank jika debitur meninggal dunia maupun mengalami cacat tetap total. “Kalau sekarang kebanyakan meninggal dunia saja yang di-cover, tapi kalau yang cacat tetap masih agak jarang.” 

Keempat, produk asuransi yang dapat mendukung bank dalam mencairkan kredit bagi nasabah yang menggunakan agunan. “Ini kredit agunan sebenarnya seperti kebakaran, kebongkaran dan sebagainya. Produk asuransi seperti ini yang dibutuhkan bank.” 

Kelima, produk asuransi yang dapat mengurangi risiko bank dalam menyalurkan kredit kepada nasabah di mana risiko atau peristiwa yang dijamin meliputi risiko gagal bayar seperti akibat debitur terkena PHK, kredit mace, dan sebagainya. “Ini adalah asuransi kredit,” ujar Agus.

Keenam, produk asuransi agrobisnis yang dapat mensupport bank dalam memberikan kredit kepada debitur untuk usaha pertanian seperti usaha tani padi. “Ini masih langka. Sebaiknya di industri asuransi bisa menawarkan produk ini karena membantu petani-petani kita ketika mengalami gagal panen baik karena hama, banjir atau hal-hal lain. Mana kala ini tidak ada proteksi akan membuat petani default di kredit sehingga akan sulit mendapatkan kredit ke depannya,” jelas Agus. 

Ketujuh, produk asuransi untuk melindungi aset yang dimiliki oleh bank seperti Gedung kantor, rumah tinggal dinas dan sebagainya yang membutuhkan perlindungan cover asuransi property all risk seperti peristiwa kebakaran, gempa bumi, kerusuhan, dan lainnya. “Ini seperti kami di Bank Mandiri punya fixed asset sekitar Rp45 triliun yang membutuhkan perlindungan asuransi.” ACA