Akankah Revitalisasi Manufaktur Dorong Pertumbuhan Industri?

Media Asuransi – Untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kembali ke level positif setelah terdampak pandemi, beragam upaya dilakukan pemerintah. Salah satunya dengan mendorong pertumbuhan industri manufaktur kembali ke level positif.  Tercatat, sampai dengan kuartal ketiga 2020, pertumbuhan industri manufaktur masih berada dalam zona pertumbuhan negatif.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal  mengatakan, CORE Indonesia mencatat secara tahunan pertumbuhan industri manufaktur tumbuh minus 4,31 persen, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu yang dapat mencapai 4,1 persen. Penurunan kinerja industri manufaktur juga terlihat dari tingkat utilisasi industri manufaktur yang turun drastis, dari 75 persen sebelum pandemi menjadi hanya sekitar 50 persen ketika terjadinya pandemi.

“Meski masih menjadi sektor dengan sumbangan terbesar namun kenyataannya proporsi sektor industri terhadap PDB Indonesia telah menurun setidaknya dalam lima belas tahun terakhir,” kata Mohammad Faisal  dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat 22 Januari 2021.

Baca Juga: Pemerintah Targetkan 68 K/L Ikut Asuransi BMN pada 2021

Menurut Faisal, kondisi penurunan share manufaktur dalam perekonomian merupakan salah satu gejala deindustrialisasi dini yang telah dialami Indonesia di satu dekade terakhir. Kondisi ini tentu perlu diwaspadai mengingat sektor industri manufaktur menjadi kunci dalam mendorong pemulihan ekonomi yang lebih tinggi hingga penciptaan lapangan kerja.

Sementara itu, menurut laporan dari survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), industri manufaktur merupakan satu dari tiga sektor terbesar, yang mengambil kebijakan pemberhentian pekerja dalam waktu singkat. Sebanyak 52,23 persen perusahaan dalam lingkup industri pengolahan mengaku melakukan pengurangan pegawai di tengah pandemi.

Angka tersebut termasuk tinggi dibanding dengan lapangan usaha lainnya. Hal ini dikonfirmasi dari jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor ini yang mengalami penurunan dari 19,2 juta orang pada Agustus 2019 turun 8,93 persen pada Agustus 2020 menjadi 17,5 juta orang.

“Memang betul, sampai dengan November 2020 secara keseluruhan ekspor produk manufaktur mampu mencatatkan pertumbuhan positif bahkan lebih baik dibandingkan  pertumbuhan tahun lalu. Jika dilihat kenaikan ini juga tidak terlepas dari ekspor subsektor manufaktur logam dasar yang mengalami peningkatan hingga 20 persen,” jelas Faisal.

Baca Juga: Siapkan Dana Cadangan Bencana, Indonesia – Bank Dunia Sepakati Pinjaman US$500 Juta.

Kenaikan subsektor industri logam, lanjut Faisal, tidak terlepas dari kebijakan investasi pemerintah yang mendorong pembangunan smelter dan pelarangan ekspor mineral dan batu bara dan juga pelarangan ekspor biji nikel.

”Sayangnya, tidak semua subsektor dari industri manufaktur bisa menikmati kinerja pertumbuhan ekspor positif. Sektor industri unggulan lainnya seperti Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) melanjutkan kinerja pertumbuhan ekspor negatif di tahun lalu. Kondisi industri tekstil dan produk tekstil memang tidak begitu menggembirakan setidaknya dalam 3 tahun terakhir,” ungkapnya.

Sebagai informasi, pangsa pasar konsumsi untuk produksi dalam negeri pada tahun 2016 mencapai 65 persen tetapi pada tahun 2019 jumlah menurun menjadi 56 persen. Hal ini ditambah dengan level playing field yang tidak seimbang dengan negara pesaing seperti misalnya China, Bangladesh, Vietnam, dan India.

Terpisah, Pengamat Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad), Ina Primiana mengatakan dalam menjawab tantangan proses pemulihan ekonomi dan tren deindustrialisasi premature yang tengah dialami oleh Indonesia pemerintah sebenarnya tengah mengeluarkan produk Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Perdagangan dan Perindustrian, yang merupakan  turunan dari UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Namun demikian, menurut Ina, RPP akan mampu mendorong “Reindustrialisasi” bila pasal-pasal yang ada mengatur beberapa persoalan yang dihadapi industri manufaktur nasional, agar daya saing meningkat dan menjaga neraca perdagangan industri agar tetap surplus dan meningkat seperti di tahun 2020.

Baca Juga: Bank Mandiri (BMRI) Perkuat Kolaborasi dengan Asuransi dan Dana Pensiun

Ia menerangkan, perihal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengurangi ketergantungan bahan impor, membantu industri dalam negeri dalam Kemudahan Lokal Tujuan Ekspor (KLTE), kemudahan dan insentif yang diberikan yang mendorong penggunaan bahan baku lokal, jaminan pasar bagi industri dalam negeri baik industri hulu dan industri hilir, hingga dalam RPP perindustrian misalnya pemerintah perlu mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

“Impor hanya dilakukan bila Industri di dalam negeri tidak dapat memproduksi nya baik sebagai bahan baku atau bahan penolong belum ada bab yang membahas jaminan pasar domestik bagi produk dalam negeri sehingga RPP ini tidak bisa mendorong penggunaan bahan baku dalam negeri, hingga Memperbaiki kebijakan Impor,” pungkas Ina. One