BEDAH SAHAM: Menimbang Prospek Profitabilitas ITMG

Media Asuransi – Pada tahun ini, rasio pembayaran dividen PT Indo Tambangraya Megah Tbk tak sebesar tahun sebelumnya karena emiten berkode saham ITMG ini sedang berupaya mengumpulkan lebih banyak dana untuk rencana ekspansi pascapandemi Covid-19. Lalu bagaimana prospek profitabilitasnya ke depan?

Melalui KS Company Update edisi 19 November 2020, Senior Manager Research Analyst PT Kresna Securities Robertus Yanuar Hardy mengatakan, margin laba kotor ITMG pada kuartal III/2020 naik menjadi 20,9% dari hanya 9,8% di kuartal II/2020 pada saat mengakui penurunan nilai persediaan batu bara yang cukup besar. 

Angka kuartal III tersebut juga lebih tinggi dari 18% yang tercatat di kuartal I/2020. Margin laba usaha juga tumbuh, menjadi 11,2% dari hanya 0,6% pada saat mengakui depresiasi yang signifikan dari aset hak guna. Angka kuartal III/2020 ini juga lebih tinggi dari 9,8% yang tercatat di kuartal I/2020. 

“Rasio pembayaran dividen yang dibayarkan tahun ini turun menjadi hanya 50% dari laba bersih 2019, dari sebelumnya yang mencapai 82% dari laba bersih 2018 – karena upaya Perseroan untuk mengumpulkan lebih banyak dana untuk rencana ekspansi pascapandemi,” jelasnya seperti dikutip Media Asuransi, Kamis 19 November 2020.

Pengeluaran satu kali yang cukup besar di kuartal II/2020 membuat laba bersih dan pendapatan ITMG pada 9 bulan 2020 turun 60% dan 33% YoY, masing-masing menjadi hanya US$40 juta dan US$872 juta, meskipun hanya turun masing-masing sebesar 30% dan 23% QoQ. Pencapaian pendapatan dan laba bersih ini berada di bawah perkiraan Kresna Securities sebelumnya, dengan masing-masing hanya 64% dan 65% dari rasio berjalan.

Robertus menilai, ITMG bergerak cepat untuk mengantisipasi kemungkinan pemulihan permintaan energi tahun depan dengan mengakuisisi perusahaan lokal yang memiliki 75% saham PT Graha Panca Karsa (GPK), pemegang konsesi tambang batu bara yang berlokasi di Kalimantan Timur. Total nilai transaksi adalah US$31,2 juta untuk 117 Mt sumber daya batu bara. Lokasinya dekat dengan cluster ITM Melak, persis di seberang Sungai Mahakam/Pelabuhan TCM Bunyut. 

“Produk GPK yang berkandungan sulfur rendah dan kalori rendah (3.900 GAR) akan menambah variasi portofolio produk ITM. GPK diperkirakan akan menghasilkan sekitar 2 Mt /tahun, berdasarkan profil nisbah kupas 4-5x. GPK diharapkan mulai berproduksi pada akhir 2021,” jelasnya.

Mempertimbangkan bahwa beberapa pengeluaran satu kali terjadi pada kuartal II/2020 dan menjadi penyebab utama dari kinerja laba ITMG yang buruk hingga 9 bulan 2020, Robertus berpandangan bahwa investor harus mengantisipasi potensi profitabilitas yang lebih tinggi di masa depan, dengan ekspektasi beban tersebut idealnya tidak akan muncul lagi, seperti yang ditunjukkan pada kuartal III/2020.

Rekomendasi

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Robertus mempertahankan peringkat BUY untuk ITMG pada target price (TP) Rp10.700 (potensi kenaikan 17%), menyiratkan 14,5/11,7x dari Rasio P/E perkiraan 2020/2021 dan 5% dari potensi imbal hasil dividen perkiraan 2021, dengan asumsi rasio pembayaran dividen dapat memantul kembali ke kisaran 75%-80%. 

“Kami menyukai ITMG, karena melihat neracanya yang kuat, dengan utang berbunga yang hampir nol. TP terbaru kami lebih tinggi dari Rp9.600 sebelumnya, menyusul penilaian ulang atas kelipatan valuasi kami dari 11,9/11,8x rasio P/E perkiraan 2020/2021 sebelumnya, dan potensi imbal hasil dividen 6,5%.”

Adapun untuk risiko-risiko investasi yang perlu diperhatikan investor terkait saham ITMG ini adalah pertama, ASP yang lebih rendah dari US$53-US$54/ton dan US$54-US$55/ton pada sepanjang tahun 2020 and 2021, masing-masing. Kedua, Margin laba bersih yang lebih tipis dari 5,1%/5,9% pada sepanjang 2020/2021. ACA