Bonus Demografi Berpotensi Tambah Ceruk Bisnis Asuransi

Media Asuransi Berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP2020) pada September 2020 mencatat jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 270,20 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia yang  tersebar di berbagai wilayah Indonesia merupakan salah satu sumber daya yang dimiliki Indonesia. Bagi beberapa bidang usaha, jumlah tersebut berpeluang menjadi ceruk yang potensial termasuk bagi bisnis asuransi.

Pengamat asuransi Irvan Rahardjo mengatakan industri asuransi memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan kinerjanya di tahun 2021, terlebih penetrasi asuransi masih sangat rendah sekitar 1,73 persen dari Pendapatan Domestik Bruto. Itu artinya ceruk bisnis asuransi masih memiliki pangsa pasar yang sangat besar.

“Kita lihat penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah meski memiliki bonus demografi yang sangat besar. Itu artinya ke depan, industri asuransi masih akan terus bertumbuh seiring dengan meningkatnya kesadaran berasuransi oleh masyarakatnya,”  kata Irvan dalam pesan singkatnya kepada Media Asuransi, Jumat 22 Januari 2021.

Baca Juga: Pemerintah Targetkan 68 K/L Ikut Asuransi BMN pada 2021

Irvan membandingkan meskipun dalam kurun waktu tertentu Indonesia berpotensi meningkatnya bonus demografi, tetapi penetrasinya masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara lainnya. Dalam catatannya, Malaysia penetrasinya sudah mencapai  5,35 persen di tahun 2020, sedangkan Filipina sebanyak 1,90 persen, sedangkan Vietnam pada 1,57 persen. Adapun Thailand pada level 5,49 persen, Singapura di 7,25 persen, dan China di 3,57 persen.

“Ada beberapa yang harus menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kinerja industri ke depan menjadi lebih baik, regulasi tentunya sangat berpengaruh. Lainnya adalah perbaikan dari sisi produk asuransi itu sendiri menjadi hal lainnya untuk meningkatkan trust market,” katanya.

Meski demikian, bonus demografi meningkatkan optimisme industri di tahun 2021. Utamanya asuransi jiwa bisa bertumbuh positif dan berada di angka kisaran 7 persen-8 persen, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa lebih bahkan tembus double digit.

“Harapannya tahun 2021 bisa tembus double digit. Optimisme ini terbangun seiring dengan bonus demografi yang semakin melebar,” jelasnya.

Baca Juga: AXA Financial Gandeng GIZ dan Inkopdit Sediakan Asuransi Mikro

Mengutip survei Deloitte, proyeksi pertumbuhan asuransi umum global tahun 2021 termasuk Indonesia, diperkirakan berada pada kisaran 3 persen. Menanggapi hal ini, Direktur Utama BRI Insurance Fankar Umran menyebut dalam menghadapi pandemi saat ini, di seluruh dunia, Asia Pasifik, termasuk Indonesia hanya 25 persen perusahaan yang siap menghadapi, ini pun dalam kaitannya dengan operasional dan resiliensi keuangan, bukan terhadap pertumbuhan bisnis.

“Dari angka-angka ini kita bisa melihat ada secercah harapan, kalau diibaratkan lorong, ada secercah cahaya di ujung sana, tidak senang-senang banget, tapi ini lebih baik (dibandingkan saat ini),” katanya.

Dampak pandemi terlihat jelas jika merujuk data OJK dan AAUI. Pada kuartal III/2020 pertumbuhan asuransi umum terkontraksi hingga minus 7 persen, padahal pertumbuhan pada kuartal III/2019 tercatat 20,9 persen. Ada empat lini bisnis penyumbang premi terbesar asuransi umum saat ini yang tumbuh negatif selama kuartal III/2020, yakni asuransi kendaraan bermotor (-20,9 persen), asuransi harta benda/properti (-5,4 persen), asuransi kredit (-3,6 persen) dan asuransi aneka (-20,6 persen).

Menurut Fankar, dengan adanya program restrukturisasi sehingga ada relaksasi sehingga dapat memberikan tambahan nafas untuk menggerakan sektor riil. Optimisme juga terlihat dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2021 yang berada di kisaran 4,8 persen-5,8 persen.  Fankar juga melihat ada tren yang positif untuk bisnis pasca-Covid-19, di antaranya terkait industri mikro, pengiriman, telekomunikasi, pertanian, elektronik, farmasi, kebutuhan primer, dan tekstil.

“Artinya adanya tren baru tersebut, bisnis asuransi pun harus sejalan dengan perkembangan bisnis, harus mulai masuk ke tren tersebut,” jelasnya.

Baca Juga: OJK Terbitkan SE Penilaian Tingkat Kesehatan Perusahaan Asuransi dan Reasuransi

Dikatakan Yoga Prasetyo, Pimpinan Unit Usaha Syariah Allianz Life Indonesia, secara umum pandemi mendorong awareness masyarakat untuk berasuransi meningkat, walau secara bisnis industri asuransi jiwa cenderung melambat. Dukungan regulator yang memberikan relaksasi seperti ketentuan penjualan unit link secara virtual mampu membantu perusahaan bisa kembali beroperasi.

Menatap 2021, Yoga menilai dengan sudah ditemukan dan didatangkannya vaksin, mungkin secara riil tidak langsung mengubah kondisi kesehatan masyarakat, tapi itu salah satu game changer, secara psikologis membuat orang menjadi lebih optimistis.

“Kenaikan jumlah demografi juga menjadi momentum tersendiri bagi Industri Asuransi untuk bangkit. Momentum juga akan semakin terlihat seiring dengan meningkatnya dari sisi awareness dan kebutuhan masyarakat. Hal ini tentunya menjadi semacam kesempatan bagi kita yang tidak boleh dielakkan pelaku industri asuransi jiwa dan umum, untuk dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” pungkas Yoga. One