Covid-19 dan Potensi Resesi Ekonomi di 2020

   Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabeanmengatakan bahwa tiga krisis besar yang dihadapi Indonesia dalam dua dekade terakhir yakni tahun 1998, 2008, dan 2020 memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda. “Pola pemulihan atau recovery path-nya pun berbeda. Krisis 2020 ini dipicu oleh pandemi. Episentrumnya tersebar di banyak negara dunia, dan memiliki tiga dimensi: sang virus itu sendiri, pengendalian penyebaran sang virus, dan efek ekonominya,” kata dia dalam Economic Note yang dikirimkan kepada redaksi, 22 April 2020.

    Adrian menuturkan, yang membedakan krisis global 2020 dengan 2008 adalah pada polarisasi tajam yang sedang berkembang di tataran global maupun nasional, di negara maju maupun di negara berkembang. 

    Di tataran nasionalkrisis ekonomi yang menghantam Indonesia adalah implikasi langsung dari ketergantungan impor yang sangat tinggi, dan dominannya faktor China dalam supply chainIndonesia. Ketergantungan kita yang tinggi terhadap arus investasi dari (dan perdagangan dengan) China telah menyebabkan turun tajamnya ketersediaan barang modal dan pasokan mesin produksi. Mengkerutnya perekonomian China pun menyebabkan arus produksi dan ekspor Indonesia terganggu. Terjadinya demand-shockakibat terhentinya arus turis dari China juga terlihat di sektor pariwisata, hotel dan transportasi di sentra-sentra turisme Indonesia. 

    Penurunan tajam dalam mobilitas penduduk sebagai konsekuensi dari pembatasan sosial, telah menyebabkan kontraksi di beberapa sektor, misalnya konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran, transportasi, dan jasa hiburan. Observasi kami lewat data-data tradisional dan non-tradisional, misalnya Google Mobility Data on Foot Traffic, jumlah pengunjung bioskop, kerumunan di terminal bus dan pasar basah, memberikan indikasi bahwa turunnya aktivitas di berbagai sektor ekonomi cukup tajam, bervariasi antara 35-55 persen,” kata Adrian Panggabean.

   Rilis terakhir dari data retail sales indexmemberikan gambaran telah terjadinya kontraksi tajam dalam tingkat konsumsi rumah tangga. Di bawah asumsi (a) durasi pembatasan sosial selama delapan minggu, (b) terpangkasnya aktivitas ekonomi sebanyak setengah dari kondisi “pre-Covid-19” yaitu Desember 2019, maka rentang penurunan retail sales indexdiperkirakan antara 6-10 persen dan rentang penurunan industrial production index diperkirakan di kisaran 9-13 persen. “Dengan kondisi ini, bahkan bila perekonomian diasumsikan mulai bergerak kembali di kuartal ketiga 2020 dengan recovery pathberbentuk huruf U, maka pertumbuhan konsumsi rumah tangga di sepanjang 2020 kemungkinan besar hanya mencapai 2,5 persen year on year (yoy) dan  laju pembentukan modal tetap domestik bruto akan terkontraksi sekitar satu persen yoy,” jelasnya.

  Laju inflasi diperkirakan sedikit lebih rendah dibanding 2019. “Secara keseluruhan, kami memperkirakan rerata inflasi tahunan atau year average inflation, akan turun ke arah 2,7 persen di tahun 2020 dari angka tiga persen di tahun 2019. Inflasi di akhir periode atau year-end inflation, kami prediksi akan berada di kisaran 2,85 persen,” tutur Adrian.

    Chief Economist CIMB Niaga memperkirakan pertumbuhan kredit lebih rendah dibanding tahun lalu. Pertumbuhan kredit, yang selaras dengan dinamika investasi dan pertumbuhan ekonomi, diperkirakan akan hanya mencapai plus-minus dua persen. Pertumbuhan kredit yang masih terlihat di bulan Januari-Februari akan jatuh cukup dalam di kuartal kedua 2020 sejalan dengan penurunan tajam dalam aktivitas ekonomi dan produksi. “Aliran kredit kami perkirakan akan perlahan pulih di kuartal keempat 2020 sejalan dengan mulai bergeraknya aktivitas ekonomi,” tandasnya.

  Lebih lanjut ditambahkan bahwa beberapa neraca ekonomi-keuangan,yang lazimnya memberikan gambaran kondisi investasi, mengarah kepada kesimpulan bahwa laju pembentukan modal tetap domestik bruto akan mengalami kontraksi sebesar satu persen yoy di tahun 2020. Neraca konsolidasi bank komersial, neraca pembayaran, aktivitas bursa, neraca fiskal, dan beberapa set data non-tradisional, semuanya mengindikasikan cukup tingginya tekanan terhadap proses intermediasi finansial di kuartal kedua 2020.

    “Kami menyimpulkan bahwa Indonesia mengalami resesi di tahun 2020. Tingginya ketidakpastian akan trajektori data serta perubahan fundamental dalam hubungan antar-variabel akibat perubahan perilaku (behavioral shift) membuat kami berkeputusan melakukan proyeksi ekonomi dengan teknik berbeda,” kata Adrian. Teknik proyeksi yang dikembangkan,  menggabungkan tiga pendekatan yakni market behaviorpolicy process analysis,dan analisis partial-equilibrium. Parameter-parameter yang dihasilkan lewat ketiga teknik itu kemudian dirangkum dalam sebuah model finansial (financial programming model).  

    Hasilnya, pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2020 akan lebih rendah dari kuartal keempat 2019, bahkan bila memperhitungkan faktor musiman (seasonal-adjustment). Pertumbuhan PDB juga akan negatif di kuartal kedua 2020, bahkan dengan memperhitungkan faktor musiman. Pertumbuhan ekonomi mulai bergerak positif di semester kedua 2020. Untuk keseluruhan tahun 2020, pertumbuhan PDB hanya  mencapai 1,8 persen yoy dengan rerata inflasi (year-average inflation) di angka 2,7 persen. “Tingkat pengangguran yang kami pandang cukup konsisten dengan definisi pengangguran terbuka yang dianut Indonesia adalah delapan persen,” jelas Adrian Panggabean.Edi