Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian Diharapkan Hanya Sampai Kuartal I 2020

   Deputy Direktur Departemen Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) IGP Wira Kusuma mengungkapkan bahwa dampak corona virus (covid-19) menekan perekonomian dunia, seperti pasar saham, harga komoditas, investasi, ekspor dan impor Indonesia. Diharapkan tekanan ini hanya berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai pada kuartal pertama tahun 2020, sehingga pada kuartal kedua hingga kuartal keempat tahun ini pertumbuhan ekonomi sudah stabil kembali. Hal ini disampaikan Wira kepada peserta Pelatihan Wartawan Ekonomi yang diselenggarakan BI di Bandung, Jawa Barat, 29 Februari 2020.

    Meski demikian,  Bank Indonesia tetap merevisi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 dari semula 5,1- 5,5 persen menjadi 5,0-5,4 persen.  Sementara pertumbuhan ekonomi dunia juga direvisi dari 3,1 persen menjadi 3,0 persen. Wira menjelaskan, pengaruh pada covid-19 terhadap ekonomi dalam negeri dari Cina sangat besar terutama di bidang ekspor, impor, pariwisata dan investasi. Selama ini ekspor Indonesia ke Cina mencapai 29,8 miliar dolar AS atau sekitar 17 persen dari total  ekspor Indonesia. Sedangkan ekspor migas Indonesia ke Cina mencapai 3,8 miliar dolar AS atau 19,5 persen. Sedangkan impor dari Cina ke Indonesia mencapai 29,4 miliar dolar AS atau sekitar 17,2 persen.  Sedangkan di bidang pariwisata, jumlah wisman dari Cina ke Indonesia mencapai 2,07 juta orang dengan perolehan devisa mencapai 2 4 miliar dolar AS. Sementara untuk investasi dari Cina ke Indonesia mencapai 4,7 miliar dokar AS.

    Wira menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan oleh otoritas moneter dan otoritas fiskal untuk meminimalkan dampak covid-19 ini kepada perekonomian Indonesia, antara lain penurunan tingkat suku bunga acuan BI, pemerintah mengoptimalkan belanja pemerintah, dan reformasi. “Kami menilai tantangan global yang makin bervariasi dapat memberikan peluang bagi otoritas fiskal maupun moneter untuk menciptakan kesempatan baru dalam menjaga kinerja perekonomian. Tantangan ini memaksa kita berinovasi dan mencari kesempatan di tempat lain agar kita survive,” katanya.

    Lebih lanjut dituturkan bahwa kondisi ini yang membuat otoritas fiskal dan moneter berusaha untuk menjaga kinerja konsumsi dan mengundang masuknya aliran modal agar perekonomian nasional tetap berdaya tahan. “Kita menjaga konsumsi dengan menjaga daya beli maupun stabilitas internal. Untuk investasi ada omnibus law dan pengerjaan proyek infrastruktur. Ekspor yang terdampak juga memaksa adanya penguatan manufaktur,” ujar Wira.

   Dalam kesempatan yang sama, Kepala Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa upaya pencapaian target pertumbuhan ekonomi membutuhkan sinergi menyeluruh dari otoritas fiskal dan moneter maupun reformasi struktural secara berkelanjutan. “Kalau itu berjalan beriringan dan bersinergi, pertumbuhan enam persen juga bisa tercapai,” kata Josua.

    Josua menegaskan bahwa penguatan sisi fiskal melalui penyerapan belanja infrastruktur maupun bantuan sosial yang didukung stabilisasi laju inflasi, dapat membantu kinerja konsumsi dalam negeri. Kinerja fiskal itu perlu didukung oleh kebijakan moneter, salah satunya melalui penurunan suku bunga acuan, yang sudah dilakukan oleh bank sentral. “Transmisi suku bunga bisa memberikan stimulus, jadi seharusnya orang mulai konsumsi, termasuk kepada korporasi, karena biaya untuk ekspansi menjadi lebih murah,” ujarnya.

  Dengan demikian, menurut dia, mesin-mesin industri yang selama ini menjadi sumber pertumbuhan ekonomi seperti manufaktur maupun konstruksi tetap kuat dan tidak mengalami kelesuan. “Selain itu, penciptaan iklim investasi juga bisa memberikan persepsi positif kepada pelaku usaha sehingga terjadi permintaan kredit,” kata Josua.

   Dia mengharapkan dunia dapat mengatasi masalah co id-19 ini berkaca dari penanganan SARS pada 2003. Berdasarkan proyeksi itu, maka kinerja perekonomian akan membaik sesuai pola v-shape pada semester kedua 2020, seiring dengan kebijakan maupun koordinasi otoritas terkait dalam mengelola sistem keuangan. “Kuncinya adalah fiskal, moneter, dan reformasi struktur, yang kalau itu dijaga dengan baik, maka pertumbuhan ekonomi kita resilient dan jauh dari hantu resesi,” ujar Josua Pardede. Edi