Di Masa Pandemi, Investor Perlu lakukan Rebalancing Portofolio

Media Asuransi – Pandemi Covid-19 membuat kondisi prekonomian menjadi penuh ketidakpastian yang dapat meningkatkan volatiltas pasar finansial. Dalam kondisi seperti ini, ada baiknya setiap investor meninjau kembali prtofilo investasinya untuk memastikan kembali tercapainya tujuan investasi.

MAMI Tetap Layani Investor Walau Menerapkan WFH

Menurut Interim Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen (MAMI) Afifa, rebalancing portofolio perlu dilakukan sebagai bentuk strategi dalam menyesuaikan kembali alokasi portofolio dengan tujuan investasi. Rebalancing ini dapat dilakukan dengan cara pemindahan atau switching antarkelas aset. Dapat pula dengan cara melakukan penambahan dana baru secara berkala atau dollar cost averaging.

Namun Afifa mengingatkan untuk tidak terlalu sering melakukan rebalancing. “Kita boleh mengevaluasi kinerja portfolio itu dalam enam bulan sekali atau satu tahun sekali. Paling cepat tiga bulan sekali. Karena kalau terlalu cepat, tidak pas juga mengingat market kita ini ‘kan volatile,” katanya dalam webinar Basic Investment MAMI, Sabtu, 24 Oktober 2020.

Terkait dengan kondisi pasar saham maupun reksadana saham yang saat ini terkoreksi, menurutnya hal itu lebih disebabkan oleh absennya investor asing di pasar saham Indonesia. “Mereka cenderung meninggalkan emerging market, tidak hanya Indonesia, karena mencari negara-negara besar yang dianggap lebih kuat dalam menghadapi pandemi,” kata Afifa.

Diingatkannya bahwa pandemi ini ada tentu batasnya, misalnya ketika vaksin sudah ditemukan, kemudian ketika masyarakat sudah dapat melakukan adjustment dengan protokol kesehatan yang baru dan lebih baik. “Oleh karena itu, tentunya prospek ekonomi ke depan akan mengarah ke lebih baik,” tandasnya.

Dengan demikian, menurut Afifa, MAMI melihat bahwa saham dan obligasi dalam jangka panjang memang masih memberikan potensi yang baik. Koreksi yang terjadi saat ini lebih karena absennya investor asing. Ketika kondisi menjadi lebih jelas misalnya pemilihan presiden di Amerika Serikat selesai, yang merupakan kondisi-kondisi yang dianggap uncertainty, maka kondisinya akan lebih baik.

“Kalau uncertainty itu menjadi lebih kecil, kita percaya bahwa dalam jangka panjang investor akan mencari return yang lebih baik untuk portofolio mereka. Untuk jangka panjang, negara emerging market termasuk Indonesia memiliki potensi growth yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara developed market,” tutur Afifa.

Menurut dia, untuk jangka pendek, volatility di market masih dimungkinkan. “Tetapi untuk jangka panjang, prospek saham dan obligasi masih menjanjikan. Tentunya jika kondisi uncertainty sudah semakin membaik atau beberapa hal yang ditunggu investor sudah terjawab. misalnya setelah election (Pilpres) di AS,” tandasnya. Edi