Di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Capaian Positif Pasar Modal Indonesia


PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini merayakan Hari Ulang Tahun ke 43 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Meski di tengah tantangan pandemi Covid-19 yang membuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di zona merah -18,34 persen year to date, sejumlah torehan kinerja positif berhasil dicatatkan oleh BEI.

Berdasarkan keterangan resmi yang dikutip Media Asuransi, Senin (10/8/2020), dari sisi supply, hingga 10 Agustus 2020 BEI berhasil mencatatkan 35 emiten baru yang melakukan initial public offering (IPO) saham. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi di antara bursa Asean lainnya (data per 31 Juli 2020) di mana Malaysia hanya 11, Singapura sebanyak 5 emiten, Thailand sebanyak 4 emiten, dan Filipina sebanyak 1 emiten.

Sementara itu, dilihat dari segi fund raised sebesar US$260 juta, BEI berada di peringkat ke-2 di antara bursa Asean lain setelah Thailand (US$2,76 miliar). Pencatatan saham baru ini di BEI diikuti dengan 7 pencatatan ETF baru, 1 EBA, dan 1 obligasi baru.

Berdasarkan data dari World Federation of Exchanges, sampai dengan Juni 2020, 45 produk Exchange Traded Fund (ETF) di BEI juga merupakan jumlah ETF tertinggi di antara bursa-bursa Efek di Asean diikuti oleh 18 ETF di Malaysia, 17 ETF di Thailand, 6 ETF di Singapura, dan 1 ETF di Filipina (kategori ETF berbasis indeks lokal).

Memperhatikan pertumbuhan sisi supply di BEI sampai dengan 10 Agustus 2020, secara total terdapat 44 pencatatan efek baru yang terdiri dari saham, obligasi, dan efek lainnya dari target 46 Pencatatan efek baru hingga akhir 2020.

Dari sisi demand, jumlah investor pasar modal yang tercatat pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2020, yang terdiri atas investor saham, reksa dana, dan obligasi telah bertumbuh sebesar 22% dari tahun 2019, menjadi 3,02 juta investor. Dari jumlah tersebut, 42% di antaranya merupakan investor saham.

Kondisi pandemi COVID-19 ternyata tidak menyurutkan minat investor untuk bertransaksi saham.

Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah rerata harian investor ritel saham yang melakukan transaksi sejak Maret sampai dengan Juli 2020, atau meningkat 82,4% dari bulan Maret 2020 sebanyak 51.000 mencapai 93.000 investor pada Juli 2020. Angka investor ritel yang bertransaksi di bulan Juli tersebut berada di atas rata-rata investor aktif ritel sejak awal tahun 2020 yang sebanyak 65.000 investor ritel.

Sementara dari sisi aktivitas perdagangan di BEI, tercatat rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp7,67 triliun/hari sampai dengan periode Juli 2020, dengan total rata-rata frekuensi dan volume transaksi perdagangan masing-masing mencapai 537.000 kali dan 7,91 miliar lembar saham. Adapun angka rata-rata frekuensi perdagangan di BEI tersebut merupakan yang tertinggi di Bursa Efek kawasan Asean sejak 2018. ACA