Erdikha Sekuritas: IHSG Rawan Aksi Profit Taking

 
Media Asuransi – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan berpotensi melemah seiring dengan aksi profit taking setelah menguat pada perdagangan sebelumnya karena adanya euforia vaksinasi Presiden Joko Widodo sebagai orang pertama yang menerima vaksin Covid-19 dari produk Sinovac.
 
Equity Research Analyst PT Erdhika Elit Sekuritas Hendri Widiantoro mengatakan, secara teknikal IHSG pada perdangangan kemarin ditutup menguat membentuk pola candle doji tampak masih berada di level Upper Band
 
 
“Diperdagangkan dengan volume yang cukup signifikan. Indikasi masih ada potensi penguatan bagi IHSG kendati indikator stochastic sudah berada pada area overbought. Indikasinya indeks sudah berada pada fase jenuh beli dan rawan terjadi aksi profit taking,” jelasnya melalui riset harian yang dikutip Media Asuransi, Kamis 14 Januari 2021. 
 
Menurutnya, IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah terjadi aksi profit taking dengan range perdagangan 6.400-6.450. Adapun saham-saham yang perlu dicermati yaitu INKP, TKIM, PTBA, TINS, WSKT, MAIN, dan DOID.
 
Lebih lanjut, Hendri menjelaskan bahwa IHSG pada perdagangan kemarin ditutup menguat pada level 6.435 (0,62%) ditransaksikan senilai Rp24,17 triliun dengan volume transaksi 35,96 miliar lembar saham di mana asing melakukan aksi beli bersih Rp1,16 triliun. Adapun sektor yang menopang laju indeks kemarin meliputi sektor Mining (4,171%), Misc-Ind (2,898%), Basic-Ind (1,555%), Infrastructure (0,766%), Trade (0,708%), Manufactur (0,385%), Agriculture (0,364%), Finance (0,173%), Property (0,147%) di mana sektor yang masih membebani laju IHSG kemarin meliputi sektor Consumer (-1,279%).       
 
Baca juga:
Penguatan IHSG kemarin, jelas Hendri, dikaitkan dengan euforia vaksinasi Presiden Joko Widodo sebagai orang pertama yang menerima vaksin Covid-19 dari produk sinovac. Hari ini juga rilis data cadangan minyak mentah Amerika Serikat yang mengalami penurunan menjadi -5,81 Barrel yang sebelumnya -1,663 Barrel. Indikasinya, supply minyak mentah semakin terbatas. 
 
“Investor juga perlu mencermati mengenai data ekonomi yang akan rilis hari ini yaitu data Inflasi dari Amerika Serikat yang diproyeksikan oleh konsensus Trading Economic akan mengalami pertumbuhan inflasi menjadi 1,3% di mana sebelumnya sebesar 1,2%,” jelasnya. Aca

Leave a Reply